Ada sesuatu yang ganjil dalam cara Christopher Nolan memasuki dunia para dewa. Ia tidak datang sebagai seorang penyembah yang terpesona oleh mukjizat, juga bukan sebagai pembuat tontonan yang ingin memenuhi layar dengan monster, badai, dan cahaya dari alam lain. Ia datang seperti seseorang yang membawa senter ke dalam kuil tua, memeriksa retakan pada batu, mengamati mekanisme di balik pintu rahasia, lalu, sebelum mempercayai sesuatu sebagai keajaiban, bertanya bagaimana keajaiban itu bekerja. Dalam “The Odyssey,” sikap tersebut bukan sekadar pilihan estetika. Ia menjadi persoalan utama film sekaligus sumber kekuatannya. Nolan berhadapan dengan salah satu kisah tertua dalam tradisi Barat, sebuah dunia yang tidak mengenal garis tegas antara manusia, dewa, monster, takdir, dan kebetulan. Namun, pembuat film yang sepanjang kariernya menjadikan waktu, ingatan, teknologi, dan logika sebagai bahan bakar dramatik itu justru membawa skeptisisme tersebut ke tengah dunia yang seharusnya tidak membutuhkannya.
Adegan Circe memperlihatkan persoalan tersebut dengan sangat jelas. Sekelompok lelaki yang telah lama mengarungi laut akhirnya duduk mengelilingi meja, menyantap makanan yang disediakan tuan rumah mereka. Mereka lapar, lelah, dan nyaris kehilangan alasan untuk terus bertahan. Makanan itu bukan sekadar hidangan. Dalam hukum Zeus yang menjadi salah satu motif moral film, menerima orang asing dengan makanan dan minuman merupakan kewajiban sakral karena manusia tidak pernah tahu apakah tamunya sesungguhnya seorang dewa yang sedang menyamar. Namun, aturan itu segera berbalik menjadi jebakan. Para lelaki tersebut bukan semata-mata korban kelaparan yang sedang tidak beruntung. Kerakusan mereka menjadi pengakuan tentang siapa diri mereka. Circe mengubah mereka menjadi babi karena tubuh mereka, menurut logika hukuman mitologis, hanya memperlihatkan apa yang selama ini telah mereka tunjukkan melalui perilaku.
Yang menarik bukan semata-mata transformasinya, melainkan cara Nolan membuat transformasi tersebut terasa seperti sebuah prosedur. Alih-alih menyerahkan perubahan manusia menjadi binatang kepada efek visual yang gemerlap, kamera mendekati daging, kulit, wajah, dan bentuk tubuh. Keajaiban menjadi sesuatu yang dapat disentuh. Kita seolah menyaksikan bukan sihir, melainkan sebuah proses biologis yang mustahil, tetapi difilmkan seolah-olah memiliki mekanisme yang dapat kita pahami. Pada titik itu, Nolan tidak menghapus mitos. Ia menerjemahkannya ke dalam bahasa yang paling dikenalnya: mekanisme. Keajaiban boleh terjadi, tetapi penonton harus diberi kesempatan untuk melihat bagaimana ketidakmungkinan itu berlangsung di depan mata.
Itulah paradoks yang membuat “The Odyssey” lebih menarik daripada sekadar proyek prestisius seorang sutradara besar. Nolan tidak sepenuhnya percaya kepada dunia yang sedang ia ceritakan, tetapi ia juga tidak cukup sinis untuk menghancurkannya. Ia menciptakan jarak antara manusia modern dan manusia dalam mitos, lalu menggunakan jarak itu sebagai ruang dramatik. Pada awal film, dunia tersebut disebut sebagai masa “sihir yang tampak nyata,” sebuah rumusan yang terdengar hampir seperti catatan kaki seorang skeptis. Sihir ada, tetapi keberadaannya tidak diberikan secara cuma-cuma. Ia harus diuji melalui pengalaman manusia.
Dalam film semacam ini, skeptisisme bisa dengan mudah menjadi penyakit. Fantasi membutuhkan kepercayaan. Jika segala sesuatu terus-menerus dijelaskan, keajaiban kehilangan daya. Namun, Nolan tampaknya memahami bahaya tersebut dan justru menjadikan keterbatasan itu sebagai prinsip. Rasionalismenya berfungsi seperti jangkar. Ia menahan film agar tidak tenggelam ke dalam dekorasi mitologi yang terlalu mudah, terlalu indah, dan terlalu akrab. Monster tidak hadir hanya untuk dikagumi. Dewa tidak hadir sekadar untuk memberikan skala. Setiap keajaiban harus memiliki konsekuensi terhadap manusia yang mengalaminya.
Karena itu, laut dalam “The Odyssey” terasa lebih penting daripada sekadar lanskap. Ia bukan latar belakang petualangan, melainkan ruang ketidakpastian yang terus menolak keinginan manusia untuk mengendalikan keadaan. Odysseus dan para pengikutnya berlayar menuju Ithaca setelah bertahun-tahun terpisah dari rumah. Mereka membawa pengalaman perang, rasa bersalah, dan tubuh yang telah digerogoti kelaparan. Rumah yang mereka cari bukan sekadar koordinat geografis. Ia telah berubah menjadi gagasan tentang kehidupan yang mungkin sudah tidak mengenali mereka lagi.
Odysseus, yang diperankan Matt Damon, berada di pusat kontradiksi itu. Ia adalah raja, prajurit, dan ahli strategi, tetapi juga seorang lelaki yang kehilangan sebagian ingatannya dan tidak sepenuhnya mampu memahami bagaimana ia sampai pada titik tersebut. Ingatan dalam film Nolan hampir selalu merupakan wilayah yang tidak stabil. Dalam “Memento,” ingatan yang rusak mengubah identitas menjadi teka-teki. Dalam “Inception,” ingatan dan mimpi dapat menjadi perangkap. Dalam “Interstellar,” waktu memisahkan manusia dari orang-orang yang mereka cintai dengan cara yang hampir kejam. Maka, Odysseus terasa bukan sebagai karakter yang kebetulan masuk ke dalam film Nolan. Ia seperti seseorang yang telah menunggu sepanjang karier sang sutradara untuk ditemukan.
Kisah perjalanan pulang itu pun menjadi semakin rumit karena waktu tidak bergerak secara adil. Tahun-tahun dapat hilang dalam sekejap. Sebuah keputusan yang tampaknya berlangsung singkat dapat menelan masa depan seseorang. Calypso, dengan kekuatan yang membuat waktu kehilangan ukuran normalnya, memperluas kecemasan tersebut. Ketika Odysseus akhirnya berhadapan dengan konsekuensi tahun-tahun yang lenyap, persoalannya bukan lagi bagaimana seseorang pulang, melainkan apakah seseorang masih menjadi orang yang sama ketika ia tiba.
Di Ithaca, pertanyaan tersebut menunggu dalam bentuk yang lebih manusiawi. Penelope dan Telemachus mempertahankan harapan terhadap seorang suami dan ayah yang mungkin sudah berubah menjadi legenda. Para pelamar memenuhi istana, mengonsumsi makanan dan minuman milik raja yang tidak hadir, sembari menunggu kemungkinan bahwa rumah tersebut akan menjadi milik mereka. Tidak ada monster di meja makan Ithaca. Tidak ada badai. Namun, ancamannya justru lebih biasa: oportunisme, keserakahan, dan kekuasaan yang merasa berhak mengambil sesuatu hanya karena pemiliknya tidak berada di tempat.
Di sini, “The Odyssey” mulai memperlihatkan bahwa hukum Zeus sesungguhnya bukan tentang agama. Ia adalah hukum tentang bagaimana manusia memperlakukan manusia lain ketika tidak ada kepastian mengenai siapa yang sedang mereka hadapi. Tamu harus diberi makan karena mungkin ia adalah dewa. Namun, implikasi yang lebih radikal adalah bahwa manusia harus berbuat baik tanpa mengetahui apakah kebaikannya akan mendapat balasan. Dalam dunia yang dipenuhi perang, perebutan wilayah, dan pengkhianatan, belas kasih menjadi tindakan yang hampir subversif.
Nolan kemudian menghadapkan hukum itu dengan dunia yang dibentuk oleh perang. Troy telah jatuh, tetapi kemenangan tidak menghasilkan ketertiban. Perang justru melahirkan masyarakat yang menganggap kekerasan sebagai bahasa universal. Odysseus adalah produk paling cemerlang dari dunia tersebut: ia menang karena kecerdikan, tetapi kecerdikan yang membantunya menang juga meninggalkan luka yang tidak dapat ia selesaikan dengan strategi.
Maka, kepulangan Odysseus sejak awal bukan perjalanan menuju kemenangan. Ia adalah perjalanan menuju pengadilan moral. Ia harus kembali kepada orang-orang yang dicintainya sambil membawa pengetahuan bahwa kemenangan yang dahulu membuat namanya besar mungkin merupakan sumber kehancuran yang mengejarnya.
Di sinilah Nolan menemukan cara paling efektif untuk memasukkan mitologi ke dalam dunianya sendiri. Ia tidak bertanya apakah dewa-dewa itu benar-benar ada. Ia bertanya apa yang terjadi kepada manusia ketika mereka tidak lagi yakin bahwa para dewa sedang memperhatikan mereka.
Dan pertanyaan itu jauh lebih modern daripada kelihatannya.
Harga Sebuah Kemenangan
Jika bagian paling mencolok dari “The Odyssey” adalah monster, badai, dan perjalanan di laut, inti moral film ini justru terletak pada sesuatu yang jauh lebih sederhana: manusia yang percaya bahwa kemenangan memberinya hak untuk melakukan apa pun. Nolan telah berulang kali tertarik kepada tokoh yang kemampuan luar biasanya menciptakan masalah yang tidak mampu mereka kendalikan. Dalam “The Prestige,” kecakapan menjadi obsesi. Dalam “Oppenheimer,” pengetahuan berubah menjadi kehancuran. Dalam “The Dark Knight,” kecerdikan dan kekuasaan berhadapan dengan konsekuensi moral yang tidak dapat diselesaikan melalui kemenangan teknis. Odysseus masuk ke dalam garis keturunan karakter-karakter tersebut dengan hampir sempurna.
Ia menang di Troy melalui tipu daya. Kemenangan itu kemudian menjadi kutukan yang dibawanya pulang. Dalam pengertian tertentu, film ini memperlakukan kuda Troya bukan sebagai simbol kejayaan, melainkan sebagai barang bukti. Bentuknya yang menjulang, dengan tubuh kuda yang seolah selalu siap menyerang, membuat hadiah tersebut tampak seperti peringatan yang tidak dibaca oleh orang-orang yang menerimanya. Troy jatuh bukan karena orang-orang di dalamnya tidak cukup pintar. Mereka jatuh karena salah menafsirkan niat orang lain, sebuah kesalahan yang terus menggerakkan tragedi setelah perang berakhir.
Nolan tertarik pada bagaimana sebuah keputusan dapat terlihat benar dari dalam sistem yang salah. Itulah sebabnya penjarahan Troy menjadi pusat moral film. Kekerasan tidak ditampilkan sebagai klimaks heroik yang membuktikan kejayaan Yunani. Ia diperlakukan sebagai tindakan yang akan kembali menagih utang. Darah yang tumpah di kota yang dikalahkan tidak menghilang ketika kapal-kapal pemenang meninggalkan pantai. Ia ikut berlayar bersama mereka.
Keterhubungan itu membuat adegan-adegan perang dalam film terasa seperti koreksi terhadap kecenderungan sinema epik untuk memoles kekerasan menjadi tontonan. Nolan tetap menyukai skala besar. Ia tetap menggunakan kamera format besar dan komposisi yang memungkinkan laut, pasukan, dan reruntuhan memperoleh bobot monumental. Namun, kekerasan menjadi semakin fisik. Anak panah tidak lagi sekadar melesat sebagai bagian dari tontonan visual, tetapi tampak sebagai benda yang memiliki berat dan daya hancur. Senjata menghantam tubuh, dan tubuh menerima dampaknya. Kemenangan tidak lagi terlihat bersih.
Ada semacam ironi di sini. Nolan, sutradara yang terkenal dengan kecenderungan mengontrol setiap unsur film, menemukan salah satu bentuk sinematiknya yang paling kuat justru ketika ia memperlihatkan kehancuran yang tidak dapat dikendalikan. Ia mampu mengatur kamera, penyuntingan, dan musik, tetapi tidak mampu membuat tindakan Odysseus menjadi lebih bermoral hanya karena tindakan itu terlihat indah.
Ini membawa film pada persoalan yang lebih besar tentang teknologi dan kekuasaan. Odysseus tidak memiliki bom atom, laboratorium, atau mesin waktu. Senjatanya adalah kecerdikan. Namun, secara moral, kecerdikan itu memiliki masalah yang sama dengan teknologi modern: kemampuan melakukan sesuatu tidak pernah secara otomatis menjadi alasan bahwa sesuatu itu layak dilakukan.
Itulah hubungan terdalam antara “The Odyssey” dan “Oppenheimer.” Kedua film berbicara tentang manusia yang menghasilkan solusi luar biasa untuk masalah yang sangat konkret, lalu menyadari bahwa keberhasilan tersebut menciptakan masalah yang lebih besar. Oppenheimer memahami bagaimana teori dapat diwujudkan menjadi senjata. Odysseus memahami bagaimana strategi dapat memenangkan perang. Keduanya menemukan bahwa kecerdasan memiliki sisi gelap ketika dipisahkan dari pertimbangan tentang akibat.
Nolan tampaknya semakin tertarik pada paradoks tersebut seiring kariernya berkembang. Ia menyukai karakter yang berpikir beberapa langkah lebih jauh daripada orang lain, tetapi film-filmnya semakin sering bertanya apakah kemampuan melihat langkah berikutnya justru membuat seseorang gagal melihat manusia yang akan terkena dampaknya. Odysseus adalah bentuk paling kuno dari persoalan itu.
Namun, film ini tidak sepenuhnya menyalahkan sang pahlawan. Homer sendiri tidak memberikan dunia yang sederhana. Odysseus bukan monster, dan ia juga bukan orang suci. Ia mencintai keluarganya, ingin pulang, dan berusaha bertahan hidup. Ia juga telah berpartisipasi dalam kekerasan yang mengerikan. Kualitas karakter tersebut justru membuatnya lebih menarik daripada seorang pahlawan yang tidak pernah salah. Ia adalah manusia yang harus hidup dengan kontradiksi antara apa yang ia lakukan dan apa yang ia inginkan.
Karena itu, Zeus dalam film hampir lebih kuat ketika tidak muncul. Ketidakhadirannya membuat hukum yang dikaitkan dengannya terasa seperti prinsip yang kehilangan penegak. Manusia tahu bahwa ada batas moral, tetapi mereka tidak tahu apakah batas tersebut masih memiliki konsekuensi kosmis. Para dewa seperti telah meninggalkan dunia manusia setelah melihat apa yang dilakukan manusia terhadap satu sama lain.
Athena adalah pengecualian yang menarik. Kehadirannya dapat dibaca secara harfiah sebagai intervensi dewi, tetapi juga dapat dipahami sebagai konstruksi psikologis Odysseus. Ambiguitas ini penting karena membuat film tidak perlu memilih antara iman dan sekularisme. Nolan membiarkan keduanya hidup berdampingan. Seorang manusia dapat berdoa kepada dewa sambil diam-diam curiga bahwa doanya tidak didengar. Ia dapat menerima nasihat Athena dan pada saat yang sama mempertanyakan apakah suara tersebut berasal dari luar dirinya.
Itu adalah bentuk religiositas yang sangat modern: iman yang tidak sepenuhnya percaya.
Poseidon bahkan lebih ekstrem. Ia tidak perlu muncul di hadapan kamera untuk menunjukkan kekuasaannya. Badai yang menghantam kapal sudah cukup untuk menandai kehadirannya. Laut menjadi medium kekuasaan yang tak terlihat. Manusia tidak dapat bernegosiasi dengan ombak. Mereka hanya dapat bertahan atau tenggelam.
Dengan cara tersebut, Nolan mengubah mitologi menjadi drama tentang sistem kekuasaan yang tidak memiliki pusat yang terlihat. Hukum ada, tetapi pembuat hukumnya tidak hadir. Hukuman datang, tetapi penyebabnya tidak selalu dapat dipastikan. Manusia melakukan sesuatu, kemudian dunia memberikan konsekuensi yang tidak selalu mereka pahami.
Scylla dan Charybdis menjadi representasi ekstrem dari keadaan tersebut. Kapal harus melewati ruang sempit di antara dua bentuk kehancuran. Tidak ada pilihan yang benar-benar aman. Pilihannya hanya jenis kehilangan yang berbeda. Adegan seperti ini memperlihatkan betapa bergantungnya manusia pada keputusan yang tidak sempurna. Dalam dunia Nolan, dilema bukan gangguan dalam sistem. Dilema adalah sistem itu sendiri.
Yang lebih penting, film tidak menjadikan kemenangan sebagai penyelesaian. Pulang ke Ithaca bukan berarti Odysseus telah bebas dari masa lalu. Ia justru membawa masa lalu tersebut ke rumah. Penelope tidak menunggunya sebagai hadiah yang secara otomatis diberikan kepada pahlawan yang berhasil pulang. Telemachus tidak menyambutnya sebagai figur yang tidak perlu dipertanyakan. Rumah memiliki ingatan sendiri.
Di sinilah film menemukan dimensi politiknya. Seorang raja yang kembali bukan hanya seorang suami yang pulang kepada istrinya. Ia adalah pemegang kekuasaan yang harus membuktikan kembali legitimasinya di hadapan masyarakat yang telah berubah selama ketidakhadirannya. Para pelamar bukan hanya pengganggu romantis. Mereka adalah tanda bahwa kekosongan kekuasaan selalu mengundang orang lain untuk mengisinya.
Penelope memahami hal tersebut lebih baik daripada siapa pun. Ia tidak hanya menunggu. Ia mengelola ketidakpastian. Ia hidup di antara harapan bahwa suaminya masih hidup dan kemungkinan bahwa hidup harus terus berjalan tanpanya. Anne Hathaway memainkan posisi tersebut bukan sebagai penderitaan pasif, melainkan sebagai bentuk ketegangan politik dan emosional.
Hal itu membuat Penelope menjadi koreksi penting terhadap tradisi sinema Nolan sendiri. Banyak perempuan dalam film-filmnya hadir melalui ingatan laki-laki, kehilangan, dan rasa bersalah. Mereka sering menjadi alasan seorang pria bergerak, tetapi tidak selalu diberi ruang yang sama untuk menentukan arah cerita. Penelope berbeda. Ia hidup ketika Odysseus tidak ada. Ia membuat keputusan ketika sang pahlawan berada jauh. Ia bukan kenangan yang memotivasi perjalanan. Ia adalah manusia yang harus menanggung akibat perjalanan tersebut.
Dengan demikian, kepulangan Odysseus menjadi pertanyaan yang lebih sulit daripada “apakah pahlawan akan pulang?”
Pertanyaannya adalah: apa yang berhak diterima seorang pahlawan ketika akhirnya pulang?
Jika kemenangan membuatnya kehilangan kemampuan untuk menghormati hukum paling sederhana tentang manusia lain, mungkin rumah bukan hadiah. Mungkin rumah adalah tempat di mana ia akhirnya harus mempertanggungjawabkan kemenangan itu.
Rumah yang Tidak Lagi Sama
Ada alasan mengapa adegan paling menggetarkan dalam “The Odyssey” bukan selalu yang paling mahal. Nolan dapat menampilkan kapal di tengah badai, monster raksasa, kota yang dihancurkan, dan laut yang membentang hingga cakrawala. Namun, ketika Odysseus akhirnya mendekati Ithaca, skala film menyusut. Yang tersisa adalah wajah, tatapan, keraguan, dan keheningan. Setelah ribuan tahun kisah tersebut diceritakan sebagai petualangan seorang pahlawan, Nolan mengembalikannya kepada persoalan yang jauh lebih kecil dan karena itu jauh lebih sulit: bagaimana dua manusia mengenali satu sama lain setelah waktu mengubah mereka.
Odysseus pulang bukan sebagai lelaki yang pergi. Penelope pun bukan perempuan yang ditinggalkannya. Telemachus bukan lagi anak yang dikenalnya. Bahkan Ithaca sendiri telah berubah karena ketidakhadirannya. Rumah tidak menyimpan waktu. Manusia yang tinggal di dalamnya menyimpan waktu dalam tubuh dan ingatan mereka.
Karena itu, adegan kepulangan bekerja justru karena Nolan menolak godaan untuk membuatnya terlalu megah. Setelah film berulang kali menunjukkan bahwa manusia dapat menghadapi monster, badai, dan perang, ia menemukan bahwa pengenalan terhadap orang yang dicintai mungkin jauh lebih menegangkan. Tidak ada strategi yang dapat menjamin bahwa seseorang masih dicintai setelah bertahun-tahun menghilang. Tidak ada kecerdikan yang dapat menghapus luka yang terbentuk selama ketidakhadiran.
Penelope menjadi pusat emosional dari ketidakpastian itu. Ia merindukan Odysseus, tetapi kerinduan tidak sama dengan pengampunan. Ia menginginkan suaminya kembali, tetapi keinginan tersebut tidak mengharuskannya mengabaikan apa yang telah dilakukan sang suami. Hathaway memberikan karakter tersebut semacam ketegangan yang jarang ditemukan dalam penggambaran pasangan pahlawan epik. Penelope tidak berdiri di ujung perjalanan sebagai medali. Ia berada di sana sebagai saksi.
Saksi adalah posisi yang penting dalam film Nolan. Para karakternya sering berusaha memahami masa lalu melalui potongan informasi yang tidak lengkap. Namun, dalam “The Odyssey,” seorang saksi bukan hanya seseorang yang mengetahui apa yang terjadi. Ia adalah seseorang yang dapat menolak versi seorang pahlawan tentang dirinya sendiri.
Odysseus mungkin menganggap dirinya sebagai raja yang pulang setelah menjalankan kewajibannya. Penelope memiliki hak untuk melihatnya secara berbeda. Bagi seseorang yang menunggu selama bertahun-tahun, perang tidak berakhir ketika seorang prajurit meninggalkan medan tempur. Perang berlanjut di rumah, dalam ketidakhadiran, dalam pertanyaan yang tidak terjawab, dan dalam kehidupan yang harus dijalankan tanpa orang yang seharusnya ada.
Di sinilah film memperoleh kedalaman politik sekaligus gender. Jika hukum Zeus berbicara tentang kewajiban menyambut orang asing, Penelope mengajukan pertanyaan yang lebih dekat: apakah hukum yang sama berlaku kepada orang yang kembali setelah menjadi asing bagi keluarganya sendiri?
Odysseus datang sebagai suami, tetapi ia juga datang sebagai orang asing.
Pertanyaan itu membuat film terasa jauh lebih kontemporer daripada latarnya. Dunia modern mengenal banyak bentuk kepulangan yang tidak sederhana: veteran yang kembali dari perang, migran yang kembali ke rumah setelah puluhan tahun, orang tua yang bertemu kembali dengan anak-anak yang tumbuh tanpa mereka, dan masyarakat yang mencoba hidup setelah kekerasan politik. Dalam semua kasus tersebut, “pulang” adalah kata yang terlalu sederhana untuk pengalaman yang sebenarnya.
Nolan tidak perlu mengubah Homer menjadi alegori politik masa kini. Cukup dengan memperlakukan kepulangan sebagai proses, bukan titik akhir, ia telah membuat kisah kuno tersebut berbicara kembali.
Di titik ini, pilihan Nolan terhadap bahasa kontemporer juga memperoleh makna. Para aktor tidak dipaksa berbicara seperti patung yang baru keluar dari museum. Damon dapat berbicara dengan ketegasan yang hampir modern, sesekali kasar, tanpa kehilangan kualitas epiknya. Keputusan tersebut mungkin terlihat kecil, tetapi sebenarnya menentukan hubungan film dengan penonton. Jika karakter-karakter Homer berbicara seperti manusia yang hidup di dunia kita, jarak tiga ribu tahun mulai menghilang.
Odysseus tidak lagi sekadar “pahlawan besar”. Ia menjadi seorang lelaki yang lelah, marah, takut, dan ingin pulang.
Keheningan menjadi bagian penting dari perubahan tersebut. Ketika ia menghadapi Polyphemus, misalnya, kemenangan tidak bergantung pada pidato panjang atau kecerdikan verbal yang biasanya melekat pada karakter tersebut. Strateginya bekerja melalui tindakan. Damon menggunakan tubuh dan tatapan untuk mengisi ruang yang dalam versi lain mungkin dipenuhi dialog. Efeknya membuat Odysseus tampak lebih dekat dengan figur yang telah dibentuk Damon dalam film-film sebelumnya: seseorang yang bergerak cepat, berpikir praktis, dan tidak membuang kata ketika keadaan menjadi berbahaya.
Namun, ada risiko dalam pendekatan tersebut. Dengan menyederhanakan bahasa Homer, Nolan dapat kehilangan sebagian musikalitas yang membuat puisi epik itu bertahan selama ribuan tahun. Tetapi ia memperoleh sesuatu yang lain: keterusterangan. Film tidak berusaha meniru bentuk kuno. Ia mencoba mencari denyut emosional yang membuat bentuk tersebut masih dapat hidup.
Adegan Siren memperlihatkan hasil terbaik dari pendekatan tersebut. Dalam kisah Homer, Odysseus mengikat dirinya pada tiang kapal agar dapat mendengar nyanyian Siren tanpa menyerah pada godaan yang dapat membawanya menuju kematian. Nolan tidak terlalu tertarik menjadikan momen tersebut sebagai demonstrasi kecerdikan. Odysseus justru runtuh secara emosional. Musik tidak menjadi teka-teki yang harus dipecahkan, melainkan pemicu bagi seluruh penyesalan yang selama ini ia tahan.
Itu merupakan salah satu pergeseran terpenting dalam karakterisasi Odysseus. Ia bukan hanya manusia yang mampu mengalahkan keadaan. Ia juga manusia yang dapat dihancurkan oleh kenangan.
Dan mungkin di situlah Nolan akhirnya bertemu Homer.
Karier Nolan sering dibangun atas keyakinan bahwa dunia dapat dipahami jika seseorang cukup cerdas untuk membongkar strukturnya. Waktu dapat disusun. Mimpi dapat dimasuki. Pesawat dapat dijatuhkan. Bom dapat dirancang. Trik sulap dapat dibongkar. Namun, “The Odyssey” menuntut sesuatu yang berbeda. Ada bagian pengalaman manusia yang tidak menjadi lebih jelas setelah dijelaskan. Cinta tidak selalu bisa direduksi menjadi mekanisme. Penyesalan tidak memiliki persamaan. Rumah tidak dapat dihitung sebagai jarak antara dua titik.
Film ini menjadi paling kuat ketika Nolan menerima kekalahan tersebut.
Itulah sebabnya Zeus yang tidak muncul terasa lebih penting daripada Zeus yang hadir secara langsung. Nolan, seorang pembuat film yang biasanya menyukai penjelasan, membiarkan kekosongan menjadi bagian dari jawabannya. Mungkin para dewa ada. Mungkin mereka pergi. Mungkin Athena benar-benar datang. Mungkin ia hanya berada dalam pikiran Odysseus. Film tidak perlu memilih.
Yang pasti adalah manusia tetap membutuhkan hukum moral meskipun tidak ada kepastian bahwa seseorang sedang mengawasi mereka.
Hukum Zeus tidak lagi sekadar menjadi aturan tentang keramahan. Ia menjadi bentuk paling sederhana dari etika: perlakukan orang lain dengan belas kasih karena Anda tidak pernah tahu apa yang mereka bawa, siapa mereka sebenarnya, atau bagaimana tindakan Anda akan kembali kepada Anda. Dalam dunia yang dipenuhi perang, hukum itu terdengar naif. Justru karena itu, ia menjadi radikal.
Para lelaki yang makan di meja Circe gagal memahaminya. Polyphemus melanggarnya melalui kekerasan. Para penakluk Troy melanggarnya dalam skala yang jauh lebih mengerikan. Para pelamar di Ithaca melanggarnya dengan mengonsumsi milik orang lain tanpa rasa malu. Semua pelanggaran tersebut memiliki bentuk berbeda, tetapi sumbernya sama: keyakinan bahwa kekuasaan memberikan hak untuk mengabaikan orang lain.
Odysseus akhirnya harus memahami bahwa dirinya bukan pengecualian.
Di situlah “The Odyssey” menjadi kritik terhadap pahlawanisme. Dunia modern terlalu mudah menyukai manusia yang menang. Kita mengagumi kecerdasan strategis, keberanian, keberhasilan teknis, dan kemampuan seseorang memaksa dunia mengikuti kehendaknya. Namun, Homer, dan kini Nolan, mengingatkan bahwa kemampuan menang tidak identik dengan kemampuan hidup dengan kemenangan tersebut.
Odysseus bisa mengalahkan monster. Ia bisa melewati badai. Ia bisa menyusun strategi yang membuat Troy jatuh. Namun, tidak ada strategi yang dapat memastikan bahwa keluarganya masih sama ketika ia kembali.
Mungkin itulah sebabnya “The Odyssey” terasa seperti film yang sangat Nolan sekaligus film yang memaksa Nolan meninggalkan sebagian kebiasaan lamanya. Materi Homer membatasi kebebasan penulis skenario. Ceritanya sudah terlalu dikenal untuk dipelintir tanpa batas. Namun, keterbatasan itu justru mendorongnya mengambil risiko yang lebih sinematik. Ia harus mempercayai wajah, tubuh, suara, laut, musik, dan keheningan ketika struktur naratif tidak dapat lagi menjadi tempat persembunyian.
Dan ketika akhirnya ia melakukan itu, film tersebut menemukan sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh logika semata.
Ia menemukan belas kasih.
Nolan mungkin adalah salah satu figur yang paling dekat dengan Zeus dalam hierarki sinema kontemporer: seorang pembuat film dengan kekuasaan artistik dan komersial yang memungkinkan proyek sebesar “The Odyssey” diwujudkan dalam skala yang hampir mitologis. Namun, ironi terbaik film ini adalah bahwa sang pembuat film akhirnya belajar dari hukum yang ia letakkan di tengah ceritanya sendiri. Tidak semua hal harus ditaklukkan. Tidak semua misteri perlu dibongkar. Tidak setiap aturan perlu ditaati hanya karena aturan itu sudah ada.
Seorang pembuat film besar pun sesekali harus mengakui bahwa ia bukan penguasa penuh atas cerita yang sedang ia ceritakan.
Homer sudah lebih dulu berlayar di laut itu.
Nolan hanya menemukan cara untuk ikut menumpang.
Dan mungkin pelajaran paling penting dari perjalanan tersebut bukan bahwa para dewa masih mengawasi manusia, melainkan bahwa manusia harus tetap berbuat baik sekalipun mereka tidak yakin ada seorang pun yang mengawasi.
Karena ketika para dewa diam, belas kasih adalah satu-satunya hukum yang masih dapat kita tegakkan sendiri.
