Ketika “The Odyssey” karya Christopher Nolan dimulai tanpa benar-benar menghadirkan para dewa, yang berubah bukan sekadar cara sebuah kisah kuno diceritakan kembali. Bagi penonton yang mengenal kisah Homeros, kekosongan itu mengubah hukum dasar dunia yang sedang kita masuki. Dalam puisi Homeros, manusia tidak pernah sepenuhnya sendirian. Di atas mereka ada para dewa yang memperdebatkan nasib manusia, memihak, marah, menolong, menghukum, menipu, dan sesekali menyelamatkan. Olimpus bukan latar dekoratif. Ia merupakan bagian dari mesin moral cerita. Nasib Odiseus tidak hanya ditentukan oleh keberanian, kecerdikan, atau kesalahannya, tetapi juga oleh kehendak makhluk-makhluk yang berada di luar jangkauan manusia. Ketika Nolan menyingkirkan hampir seluruh ruang ilahi itu dan menyisakan Athena sebagai satu-satunya figur dari jajaran dewa yang benar-benar hadir, ia sekaligus mengubah “The Odyssey” menjadi cerita yang jauh lebih akrab bagi manusia modern: manusia berhadapan dengan dirinya sendiri.
Bagi penonton Indonesia, perubahan itu sebenarnya mudah dikenali. Kita hidup dalam masyarakat yang masih akrab dengan bahasa takdir, doa, ritual, pertanda, leluhur, dan kekuatan yang tidak selalu dapat dijelaskan melalui rasionalitas modern. Bahkan ketika seseorang bekerja di kantor, mengendarai mobil, menggunakan perbankan digital, atau berbicara mengenai akal imitasi, hubungan antara manusia dan sesuatu yang berada di luar dirinya belum sepenuhnya hilang. Karena itu, dunia Homeros yang mencampurkan alam, manusia, dan yang ilahi mungkin tidak terasa seasing yang diasumsikan oleh sebagian kebudayaan Barat modern. Laut dapat menjadi ancaman alam sekaligus kehendak Poseidon. Perjalanan dapat menjadi urusan geografis sekaligus perjalanan moral. Rumah bukan sekadar alamat, tetapi ruang tempat identitas seseorang dikembalikan. Dalam konteks semacam itu, penghilangan para dewa dalam film Nolan terasa lebih besar daripada sekadar penyederhanaan cerita. Ia memindahkan pusat gravitasi “The Odyssey” dari kosmos menuju psikologi manusia.
Odiseus, yang dimainkan Matt Damon, kemudian harus memikul beban yang lebih berat daripada sekadar menempuh perjalanan panjang. Ia menjadi seorang prajurit yang telah meninggalkan Itaka selama kira-kira dua puluh tahun, sepuluh tahun di antaranya dalam perang dan sisanya dalam pengembaraan. Penundaan kepulangannya bukan hanya rangkaian petualangan. Nolan menjadikannya sebagai akibat dari perang yang terus hidup di dalam tubuh dan pikirannya. Ketika Odiseus akhirnya harus menghadapi rumah, istri, dan anak yang hampir tidak dikenalnya lagi, kepulangan bukan lagi sekadar perjalanan pulang, melainkan usaha untuk kembali menjadi bagian dari keluarganya sendiri. Ia tidak hanya perlu menemukan jalan menuju Itaka. Ia perlu menemukan kembali dirinya sendiri.
Di sinilah Nolan memasukkan sesuatu yang sangat modern ke dalam tubuh mitos yang sangat tua: trauma. Odiseus bukan sekadar pahlawan yang tersesat. Ia adalah manusia yang telah terlalu lama hidup dalam kekerasan sehingga tidak mudah kembali menjadi warga sipil. Gagasan ini tentu dapat dipahami oleh penonton abad ke-21. Kita telah terbiasa melihat perang bukan hanya melalui peta, jumlah korban, dan kemenangan militer, tetapi juga melalui gangguan stres pascatrauma, kehilangan identitas, kehancuran keluarga, dan kesulitan para veteran untuk kembali ke kehidupan biasa. Namun, ada harga yang harus dibayar ketika mitos diterjemahkan dengan cara demikian. Odiseus menjadi lebih mudah dipahami, tetapi sekaligus lebih kecil. Ia berubah dari manusia yang berada di antara kehendak para dewa, tatanan sosial, perang, dan takdir menjadi manusia yang terutama harus menyelesaikan persoalan psikologisnya sendiri.
Perubahan itu paling terasa dalam cara Nolan memperlakukan Kuda Troya. Dalam Homeros, episode tersebut merupakan bagian dari kecerdikan Odiseus yang telah menjadi legenda. Nolan menjadikannya pusat beban moral sang pahlawan. Kuda itu bukan lagi sekadar perangkat strategis untuk menaklukkan Troy. Ia menjadi benda yang terus menghantui Odiseus karena kemenangan yang diperoleh melalui tipu daya kemudian dibaca sebagai pelanggaran terhadap hukum Zeus tentang keramahan. Hadiah yang seharusnya diterima sebagai pemberian berubah menjadi senjata. Sesuatu yang tampak sebagai kemurahan hati ternyata menyembunyikan kematian. Dari sini, perang mulai dibaca melalui bahasa moral yang lebih dekat dengan zaman kita: kemenangan tidak otomatis berarti kebenaran, dan kecerdikan tidak selalu membebaskan manusia dari konsekuensi tindakannya.
Tetapi justru di sinilah kita perlu berhenti sejenak. Sebab hukum Zeus tentang keramahan atau xenia memang terdengar indah jika dibaca sebagai prinsip moral, tetapi terdengar jauh lebih naif ketika ditempatkan di tengah dunia yang dipenuhi perang, penjarahan, pembunuhan, dan perebutan kekuasaan. Bagaimana mungkin seseorang diminta memperlakukan orang asing dengan keramahan ketika orang asing itu bisa saja datang untuk membunuhnya? Bagaimana mungkin hadiah dianggap aman ketika perang mengajarkan bahwa benda yang paling indah sekalipun dapat menjadi alat penghancuran? Pertanyaan itu tidak hanya milik dunia Homeros. Ia juga milik dunia kita.
Bahkan sekarang, ketika kehidupan manusia semakin ditentukan oleh ukuran material, gagasan tentang memberi tanpa menghitung keuntungan sering terdengar hampir sentimental. Hubungan sosial mudah diterjemahkan menjadi transaksi. Nilai seseorang kerap dikaitkan dengan apa yang ia miliki, apa yang dapat ia hasilkan, siapa yang dapat ia kenal, atau seberapa besar manfaat yang dapat ia berikan. Keramahan pun dapat memiliki kepentingan tersembunyi. Kebaikan dapat menjadi investasi reputasi. Pertolongan dapat menjadi utang. Manusia modern mungkin lebih canggih daripada manusia Homeros, tetapi kecanggihan itu tidak otomatis membuatnya lebih baik.
Karena itu, hukum Zeus dapat dibaca dengan cara yang lebih keras. Ia bukan perintah untuk mempercayai semua orang. Ia adalah larangan agar manusia tidak sepenuhnya menyerahkan dirinya kepada logika kecurigaan dan kepentingan. Dalam dunia perang, prinsip itu tampak naif. Dalam dunia yang mengukur hampir segala sesuatu dengan keuntungan, ia bahkan bisa tampak naif. Justru karena itu, gagasan tentang belas kasih tanpa pamrih menjadi bentuk perlawanan terhadap logika yang mengubah hampir semua hubungan menjadi transaksi. Ketika semua hubungan telah berubah menjadi perhitungan, tindakan yang tidak segera menghasilkan keuntungan menjadi bentuk pembangkangan terhadap logika tersebut.
Nolan tampaknya memahami daya tarik moral itu, tetapi ia juga melakukan sesuatu yang berbeda dari Homeros. Ia mengubah hukum Zeus menjadi bagian dari perjalanan batin Odiseus. Pelanggaran tidak lagi hanya menjadi bagian dari tatanan kosmis yang lebih besar. Pelanggaran menjadi rasa bersalah. Rasa bersalah kemudian menjadi beban psikologis. Beban psikologis menjadi penderitaan. Dan penderitaan perlahan mengarah kepada perubahan.
Rangkaian tersebut penting karena mulai menunjukkan bentuk lain dari film ini: penebusan.
Dalam dunia Homeros, kepulangan Odiseus adalah nostos, perjalanan kembali ke rumah. Dalam film Nolan, kepulangan itu tampaknya mendapatkan lapisan moral yang lebih modern. Odiseus bukan hanya harus pulang. Ia harus menjadi seseorang yang pantas pulang. Perbedaannya kecil dalam kata-kata, tetapi besar dalam filsafat.
Dan mungkin di situlah para dewa yang hilang menjadi penting. Ketika Olimpus tidak lagi hadir untuk memperdebatkan nasib Odiseus, tanggung jawab moral berpindah ke dalam diri manusia. Dewa-dewa tidak lagi menjadi penjelas utama dunia. Manusia menjadi terdakwa sekaligus hakim atas dirinya sendiri.
Bagi penonton Indonesia, pergeseran ini menarik karena kita juga hidup di antara dua dunia. Kita dapat memahami bahasa modern tentang trauma dan tanggung jawab individual, tetapi kita juga memahami dunia di mana alam, leluhur, takdir, ritual, dan komunitas tidak selalu dapat dipisahkan secara tegas. Karena itu, “The Odyssey” bukan hanya adaptasi dari Yunani kuno ke Hollywood. Ia adalah adaptasi dari satu cara memahami manusia ke cara memahami manusia yang lain.
Persoalannya kemudian bukan apakah Nolan boleh melakukan itu. Tentu saja boleh. Adaptasi bukan pekerjaan menyalin. Persoalannya adalah apa yang hilang ketika seorang pahlawan yang dahulu hidup di antara manusia dan para dewa dipindahkan sepenuhnya ke dalam dunia psikologi, perang, dan rasa bersalah.
Odiseus masih hidup. Tetapi Olimpus telah menjadi sunyi.
Dan dalam kesunyian itulah Nolan mulai membuatnya bertobat.
Rasa bersalah
Kekuatan terbesar “The Odyssey” yang dibuat oleh Nolan sekaligus menjadi kelemahan terbesarnya: ia tahu persis bagaimana membuat kisah kuno terasa dekat dengan penonton modern. Ia mengambil unsur-unsur yang dalam Homeros hanya disebut atau dilewati dengan cepat, kemudian mengembangkannya menjadi pengalaman psikologis yang dapat dibaca penonton sekarang. Kuda Troya menjadi trauma. Pengembaraan menjadi keterasingan. Kalipso menjadi hubungan yang berkaitan dengan penahanan dan penyembuhan. Kepulangan bukan lagi sekadar perjalanan menuju Itaka, melainkan usaha untuk kembali menjadi bagian dari keluarga yang hampir tidak lagi mengenalnya. Dan Odiseus, yang dalam puisi Homeros terkenal karena kecerdikan, tipu daya, serta kemampuannya memanipulasi keadaan, berubah menjadi sosok yang lebih muram, terbuka, dan terbebani.
Matt Damon memainkan perubahan tersebut dengan tubuh seorang prajurit yang seolah-olah tidak pernah benar-benar meninggalkan medan perang. Odiseus dalam film Nolan tidak terlalu tertarik menunjukkan kecerdikan sebagai pertunjukan. Ia lebih sering tampak seperti seseorang yang menyimpan sesuatu di balik wajahnya. Ini adalah keputusan yang efektif secara sinematik. Penonton segera mengetahui bahwa tokoh tersebut membawa beban. Namun, keputusan itu sekaligus menggeser pertanyaan dari “Apa yang dapat dilakukan Odiseus?” menjadi “Apa yang telah dilakukan Odiseus terhadap dirinya sendiri?”
Itulah pertanyaan khas drama psikologis modern. Homeros tidak selalu bekerja dengan cara demikian. Kekejaman dalam “The Odyssey” tidak harus diubah menjadi gejala psikologis agar memiliki makna. Odiseus dapat membunuh, menjarah, menipu, dan membalas dendam tanpa setiap tindakan tersebut harus diproses menjadi sebuah krisis identitas. Dunia Homeros lebih keras karena manusia tidak selalu membutuhkan pembenaran psikologis untuk melakukan kekerasan. Kekerasan dapat menjadi bagian dari kehidupan sosial, perang, kehormatan, dan pembalasan. Justru ketidaknyamanan itulah yang membuat teks kuno tersebut terus hidup.
Nolan memilih jalan lain. Ia menjinakkan dunia itu. Kekerasan dalam film dibuat terasa nyata, tetapi tidak sepenuhnya dibiarkan berubah menjadi kekejaman yang mengganggu. Anak panah tidak lagi sekadar melesat di layar. Ia menghantam tubuh, senjata memiliki daya hancur, dan tubuh menerima dampaknya. Namun, adegan perang tidak diarahkan untuk menenggelamkan penonton dalam kebrutalan dunia yang digambarkan Homeros. Pengorbanan pun tidak dijadikan tontonan darah. Balas dendam tidak berkembang menjadi kegembiraan yang mengerikan, sementara kesedihan hadir tanpa berlebihan. Air mata muncul pada saat yang tepat, tetapi tubuh para tokohnya tetap menyimpan keteguhan seorang prajurit.
Ini bukan sekadar keputusan estetika. Ia menunjukkan cara moralitas modern bekerja dalam film. Kita ingin melihat perang, tetapi kita juga ingin merasa bahwa film memahami perang sebagai sesuatu yang buruk. Kita ingin melihat pahlawan membunuh musuh, tetapi kita tidak selalu ingin menikmati pembunuhan itu tanpa jarak moral. Kita ingin kemenangan, tetapi kita juga membutuhkan penyesalan yang membuat kemenangan tersebut dapat diterima.
Dalam bahasa yang lebih sederhana: pahlawan modern boleh menang, tetapi ia harus merasa bersalah karena telah menang dengan cara tertentu. Di sinilah Odiseus dalam film Nolan semakin jauh dari pahlawan dalam dunia Homeros.
Kuda Troya menjadi pusat persoalan karena ia memungkinkan Nolan mengubah kecerdikan menjadi dosa. Dalam tradisi kepahlawanan Yunani, kecerdikan adalah kekuatan. Metis bukan sekadar tipu daya murahan. Ia merupakan kemampuan membaca keadaan, mengantisipasi lawan, menggunakan strategi, dan bertahan dalam dunia yang tidak memberi jaminan keselamatan. Odiseus adalah pahlawan karena ia mampu menggunakan pikirannya ketika kekuatan fisik saja tidak cukup.
Namun, Nolan membuat kecerdikan tersebut harus dibayar dengan rasa bersalah. Kuda Troya yang dahulu menjadi simbol kemenangan berubah menjadi semacam luka moral. Odiseus tidak lagi hanya dihantui oleh orang-orang yang mati. Ia dihantui oleh makna dari cara ia membuat mereka mati.
Di sinilah muncul sesuatu yang lebih dekat dengan tradisi Kristen daripada tradisi kepahlawanan Yunani: dosa tidak selesai ketika tindakan selesai. Ia menetap di dalam diri pelakunya.
Odiseus dapat memenangkan perang, tetapi kemenangan tidak menghapus kesalahan. Ia dapat kembali menjadi raja, tetapi mahkota tidak menghilangkan rasa bersalah. Ia dapat mencapai Itaka, tetapi rumah tidak otomatis menyembuhkan masa lalu.
Jika arah yang dipilih Nolan memang demikian, film tersebut tidak hanya memodernisasi Homeros. Ia mengubah struktur moral tokohnya.
Dalam kisah Homeros, manusia terutama berhadapan dengan konsekuensi tindakan, kehendak dewa, takdir, dan kewajiban sosial. Dalam drama penebusan modern, manusia berhadapan dengan dirinya sendiri. Ia harus mengakui sesuatu. Ia harus menderita. Ia harus berubah. Dan pada akhirnya, ia berharap mendapatkan kembali tempatnya di dunia.
Perubahan semacam itu menjelaskan pula mengapa Kalipso mendapatkan fungsi yang berbeda. Dalam kisah Homeros, Kalipso menahan Odiseus selama bertahun-tahun. Dalam film, ia dapat dibaca sebagai seseorang yang mengklaim sedang menyembuhkan manusia yang belum siap pulang. Kalimat bahwa Odiseus belum siap pulang mengubah pengembaraan dari persoalan eksternal menjadi persoalan batin. Rumah secara geografis sudah ada. Yang tidak siap adalah manusia yang harus kembali ke sana.
Konsep tersebut sangat mudah diterima oleh penonton modern karena kita mengenal gagasan bahwa seseorang dapat meninggalkan perang, tetapi perang tidak meninggalkan dirinya. Ia dapat meninggalkan tempat kejadian, tetapi ingatan tetap mengikutinya. Ia dapat bertemu kembali dengan keluarganya, tetapi hubungan yang ditinggalkan selama bertahun-tahun tidak dapat dikembalikan seperti semula.
Bagi penonton Indonesia, persoalan ini bukan sesuatu yang sepenuhnya asing. Kita memiliki sejarah panjang konflik, penjajahan, perang, kekerasan politik, pergolakan sosial, dan berbagai bentuk kehilangan yang jejaknya tidak selalu terlihat di permukaan. Karena itu, gagasan tentang seseorang yang pulang tetapi tidak lagi sepenuhnya menjadi orang yang sama memiliki resonansi yang kuat. Rumah dapat tetap berdiri sementara penghuninya telah berubah.
Namun, justru karena itu kita perlu bertanya apakah psikologisasi selalu memperkaya mitos. Ada risiko bahwa ketika setiap kekejaman harus dijelaskan melalui trauma, kita kehilangan dimensi sosial dan politik dari kekerasan itu sendiri. Seorang prajurit bukan hanya individu yang terluka. Ia juga bagian dari sebuah negara, tentara, struktur kekuasaan, dan masyarakat yang menentukan kapan pembunuhan disebut perang, kapan disebut kejahatan, dan kapan disebut kemenangan.
Homeros, dengan segala kekejamannya, tidak selalu memberi kita kenyamanan berupa penjelasan psikologis. Ia membiarkan manusia menjadi kontradiktif.
Itulah sebabnya adegan-adegan kekerasan yang dibuat lebih bersih oleh Nolan memiliki konsekuensi intelektual. Ketika darah dikurangi, ketika pembantaian disingkirkan, ketika penderitaan dibuat singkat, kekerasan menjadi lebih dapat dikonsumsi. Penonton dapat memahami bahwa perang buruk tanpa harus benar-benar berhadapan dengan keburukan perang.
Nolan tampaknya memilih batas itu secara sadar. Ia bukan pembuat film yang tidak memahami kekerasan. Justru karena ia memahami kekuatan sinema, pilihan untuk menahan kekejaman menjadi semakin bermakna. Ia tidak membawa penonton sepenuhnya ke dalam dunia Homeros. Ia membawa Homeros ke dalam dunia yang sanggup diterima penonton masa kini. Dan di sinilah pertanyaan tentang kebesaran muncul kembali.
Odiseus adalah seorang pahlawan. Tetapi pahlawan modern tidak boleh terlalu mudah dikagumi. Ia harus diperiksa. Ia harus menunjukkan kerentanan. Ia harus membayar harga moral. Ia harus mengalami penderitaan yang membuatnya layak memperoleh simpati.
Ada sesuatu yang masuk akal dalam tuntutan tersebut. Masyarakat yang pernah menyaksikan bagaimana kekuasaan dapat menghasilkan perang, kolonialisme, genosida, dan kehancuran memang memiliki alasan untuk curiga terhadap figur heroik. Tetapi ada perbedaan antara mengkritik kekuasaan dan mencurigai kebesaran itu sendiri.
Jika semua keunggulan harus terlebih dahulu meminta maaf, kita kehilangan kemampuan untuk membedakan antara ambisi dan keserakahan, keberanian dan kekejaman, kepemimpinan dan dominasi, kecerdikan dan manipulasi.
Itulah dilema Odiseus dalam film Nolan. Ia harus tetap menjadi pahlawan, tetapi tidak boleh sepenuhnya menikmati kebesarannya. Ia harus luar biasa, tetapi juga harus cukup terluka untuk diterima. Ia harus memenangkan perang, tetapi kemenangan itu harus menjadi beban. Ia harus pulang, tetapi kepulangan itu harus menjadi proses moral.
Dengan demikian, film tersebut perlahan mengubah pertanyaan Homeros tentang “bagaimana seorang manusia kembali pulang?” menjadi pertanyaan modern: “Bagaimana seorang manusia yang telah melakukan kekerasan dapat kembali menjadi manusia yang dapat diterima?”
Perbedaan itu sangat besar. Dan jawabannya mengarah kepada penebusan. Bukan penebusan teologis yang sederhana, karena para dewa hampir tidak hadir untuk memberikan pengampunan. Melainkan penebusan psikologis dan moral: Odiseus harus memahami apa yang telah dilakukan perang terhadap dirinya, apa yang telah ia lakukan kepada orang lain, dan mengapa rumah tidak dapat ditemukan kembali hanya dengan mengalahkan musuh.
Jika demikian, Nolan telah melakukan sesuatu yang lebih radikal daripada sekadar memperbarui kostum, dialog, atau efek visual Homeros. Ia telah mengubah pahlawan Yunani menjadi manusia modern yang hidup di bawah pengadilan hati nuraninya sendiri.
Dunia yang berubah
Kepulangan adalah bagian paling sulit dari “The Odyssey” justru karena rumah tidak pernah benar-benar menunggu dalam keadaan yang sama. Itaka bukan tempat yang membeku selama dua puluh tahun demi menyambut rajanya. Penelope menua. Telemakus tumbuh. Para pelamar memenuhi rumah. Kekuasaan berubah. Ingatan berubah. Odiseus sendiri berubah. Karena itu, perjalanan pulang tidak pernah sekadar bergerak dari satu titik geografis menuju titik lainnya. Ia adalah usaha untuk memasuki kembali kehidupan yang telah berjalan tanpa dirinya.
Dalam film Nolan, gagasan itu menjadi semakin kuat karena Odiseus pulang sebagai manusia yang terbebani perang dan rasa bersalah. Ia tidak hanya membawa kemenangan dari Troy. Ia membawa kenangan, kekerasan, kehilangan, dan pertanyaan tentang apakah dirinya masih layak menempati tempat yang dahulu ditinggalkannya. Rumah kemudian menjadi semacam pengadilan terakhir.
Penelope berada di pusat persoalan itu. Anne Hathaway memerankannya bukan sebagai perempuan yang sekadar menunggu suami pulang, tetapi sebagai seseorang yang selama bertahun-tahun harus mempertahankan rumah dan kekuasaan dari para pelamar yang menghabiskan persediaan kerajaan. Di sini Nolan memperkuat sesuatu yang memang sudah ada dalam Homeros: kepulangan Odiseus tidak dapat dipisahkan dari kesetiaan dan kecerdasan Penelope.
Tetapi Penelope juga berfungsi sebagai ukuran moral bagi perubahan Odiseus. Ia adalah orang yang mengenal sosok yang pergi dan harus berhadapan dengan sosok yang kembali. Bagi seorang prajurit, perang dapat berakhir ketika senjata diletakkan. Bagi keluarga, perang berakhir jauh lebih lambat. Mereka harus hidup bersama manusia yang telah dibentuk oleh perang.
Dari sini, “The Odyssey” dapat dibaca sebagai film tentang harga kepulangan. Dan harga itu tidak selalu berupa darah. Kadang-kadang ia berupa kemampuan untuk mengakui bahwa kehidupan yang kita tinggalkan tidak akan pernah menunggu kita dalam bentuk yang sama.
Telemakus menghadirkan persoalan lain. Ia ditinggalkan ketika masih bayi dan tumbuh tanpa ayah. Pertemuannya dengan Odiseus bukan hanya pertemuan biologis antara ayah dan anak. Ia merupakan pertemuan dua orang yang secara formal memiliki hubungan, tetapi secara pengalaman hampir merupakan orang asing. Karena itu, perjalanan Telemakus menuju kedewasaan berjalan bersamaan dengan perjalanan Odiseus menuju rumah.
Jika Odiseus harus belajar menjadi manusia yang berbeda, Telemakus harus belajar menjadi laki-laki tanpa sekadar meniru kekerasan ayahnya. Di sini film dapat menyentuh persoalan yang lebih luas tentang warisan. Apa yang diwariskan seorang ayah kepada anaknya? Nama? Kekuasaan? Keberanian? Atau trauma?
Pertanyaan itu terasa penting dari sudut pandang Indonesia karena masyarakat kita juga sering memahami keluarga melalui warisan yang jauh lebih luas daripada harta benda. Sejarah keluarga dapat membawa nama baik, konflik, keyakinan, luka, bahkan diam yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Anak sering kali menerima akibat dari keputusan yang tidak pernah dibuatnya.
Dalam pengertian itu, kepulangan Odiseus bukan hanya persoalan pribadi. Ia merupakan peristiwa antargenerasi.
Namun, justru di titik ini film Nolan menghadapi persoalan yang lebih besar. Jika Odiseus harus ditebus, siapa yang memberinya pengampunan? Jika ia telah melanggar hukum Zeus, apakah hukum tersebut masih benar-benar bekerja ketika Zeus sendiri hampir tidak hadir? Jika manusia harus bertobat, kepada siapa pertobatan itu ditujukan?
Pertanyaan tersebut membawa “The Odyssey” mendekati wilayah yang secara moral lebih dekat dengan Kekristenan, meskipun filmnya tetap berada dalam dunia pagan Yunani. Ada dosa. Ada rasa bersalah. Ada penderitaan. Ada perubahan diri. Ada kemungkinan pengampunan. Bahkan ada gagasan bahwa manusia harus melepaskan sebagian kesombongannya sebelum dapat kembali.
Namun, tidak ada satu hal yang membuat struktur itu sepenuhnya Kristen: rahmat ilahi yang memberikan keselamatan secara eksplisit.
Nolan seolah mengambil struktur penebusan tanpa sepenuhnya mengambil teologi penebusan. Odiseus harus berubah, tetapi tidak ada Kristus yang menebusnya. Ia harus merendahkan diri, tetapi tidak ada keselamatan yang diberikan melalui pengorbanan ilahi. Ia harus menghadapi dirinya sendiri.
Itulah sebabnya lebih tepat mengatakan bahwa Nolan mungkin mengkristenkan struktur moral Odiseus, bukan mengubah “The Odyssey” menjadi kisah Kristen.
Perbedaan itu penting karena tradisi Yunani tidak membutuhkan Odiseus menjadi manusia yang sepenuhnya bersih agar ia menjadi pahlawan. Homeros dapat membiarkannya licik sekaligus berani, penuh kasih sekaligus kejam, cerdas sekaligus sombong. Kontradiksi tersebut bukan cacat yang harus diperbaiki. Ia merupakan bagian dari manusia.
Nolan tampaknya kurang nyaman membiarkan kontradiksi itu berdiri tanpa penyelesaian.
Di sinilah kritik terhadap film tersebut menjadi lebih menarik daripada sekadar mengatakan bahwa Nolan terlalu modern. Semua adaptasi pasti modern. Tidak mungkin pembuat film abad ke-21 memproduksi Homeros tanpa membawa abad ke-21 ke dalamnya. Persoalannya adalah bagian mana dari Homeros yang dipilih untuk dipertahankan dan bagian mana yang dianggap tidak lagi dapat diterima.
Nolan mempertahankan petualangan, cinta, kepulangan, keluarga, strategi, monster, dan dunia yang luas. Ia mengurangi kehadiran para dewa, mengendalikan kekerasan, merapikan ritual, mempersempit keanehan dunia kuno, dan memperbesar rasa bersalah Odiseus.
Hasilnya adalah “The Odyssey” yang lebih mudah dimasuki penonton modern, tetapi kemudahan itu memiliki konsekuensi. Dunia Homeros menjadi kurang asing. Padahal justru keasingan itulah yang membuat karya klasik penting.
Membaca Homeros bukan hanya menemukan bahwa manusia Yunani kuno ternyata sama seperti kita. Membaca Homeros juga berarti menemukan bahwa mereka tidak sama seperti kita. Mereka memiliki cara berbeda dalam memahami dewa, kematian, kehormatan, perang, keluarga, alam, tubuh, dan kewajiban. Jarak itu seharusnya tidak selalu dihapus. Kadang-kadang jarak adalah pelajaran.
Di sinilah saya justru lebih teringat pada cara Pier Paolo Pasolini menghadapi dunia klasik. Dalam “Oedipus Rex” dan “Medea,” kekejaman dunia kuno tidak dijinakkan agar menjadi nyaman. Ritual, pengorbanan, kekerasan, dan misteri dibiarkan memiliki kekuatan visualnya sendiri. Dunia itu tidak dipaksa berbicara seperti dunia modern. Ia diberi kesempatan untuk tetap asing.
Nolan melakukan kebalikannya. Ia membuat dunia Homeros lebih dapat dikenali. Ia membuat dialog menjadi singkat dan kontemporer. Ia mengubah tokoh-tokoh yang berlapis menjadi sosok yang lebih tajam. Ia menempatkan aktor-aktor seperti Matt Damon, Anne Hathaway, Tom Holland, Zendaya, Lupita Nyong’o, Jon Bernthal, John Leguizamo, dan Samantha Morton di dalam sebuah dunia yang tampak lebih dekat dengan psikologi manusia modern daripada kosmologi Homeros.
Secara sinematik, pilihan itu memiliki kekuatan. Tetapi secara intelektual, ia juga berarti bahwa kita kehilangan sebagian keganjilan dunia yang hendak diadaptasinya. Dan mungkin di situlah pertanyaan paling penting tentang “The Odyssey” berada.
Apakah sebuah mitos harus dibuat terasa seperti kita agar dapat berbicara kepada kita? Atau justru ia harus tetap asing agar kita dipaksa melihat diri sendiri dari jarak yang berbeda?
Dari Indonesia, pertanyaan itu terasa relevan karena kita sendiri hidup di antara tradisi yang sangat tua dan modernitas yang bergerak cepat. Kita tahu bagaimana sebuah nilai dapat bertahan berabad-abad, tetapi juga tahu bagaimana nilai tersebut dapat berubah ketika berhadapan dengan uang, teknologi, negara, pasar, dan budaya global. Kita mengenal keramahan sebagai kebajikan, tetapi juga mengenal bagaimana hubungan sosial dapat dikalahkan oleh kepentingan. Kita berbicara mengenai gotong royong, tetapi hidup dalam ekonomi yang semakin sering mengubah hubungan menjadi transaksi. Kita memuji keberhasilan, tetapi sekaligus melihat bagaimana kekuasaan dapat merusak orang yang memilikinya.
Karena itu, hukum Zeus tentang keramahan tidak harus dibaca sebagai aturan kuno yang romantis. Ia justru dapat dibaca sebagai pertanyaan yang sangat keras kepada manusia modern: apa yang tersisa dari moralitas ketika semua hubungan mulai dinilai berdasarkan manfaat?
Dalam dunia semacam itu, belas kasih memang dapat terdengar naif. Tetapi mungkin justru karena dunia telah menjadi begitu sinis, ia menjadi penting.
Hal yang sama berlaku pada kebesaran. Kita membutuhkan alasan untuk mencurigai kekuasaan. Sejarah memberi kita terlalu banyak bukti mengenai akibat ketika seseorang atau sebuah negara merasa dirinya berhak melakukan apa saja karena menganggap dirinya lebih unggul. Tetapi kecurigaan terhadap kekuasaan tidak harus berubah menjadi kebencian terhadap keunggulan. Kritik terhadap seorang pahlawan tidak harus berakhir dengan penghapusan kebesarannya.
Homeros memahami sesuatu yang mungkin lebih sulit diterima oleh moralitas modern: manusia dapat menjadi besar tanpa menjadi baik sepenuhnya.
Odiseus dapat menjadi pahlawan sekaligus melakukan hal-hal yang mengerikan. Ia dapat mencintai rumahnya sekaligus menumpahkan darah. Ia dapat menjadi cerdas sekaligus manipulatif. Ia dapat dirindukan sekaligus ditakuti.
Tidak ada kebutuhan untuk menyelesaikan kontradiksi tersebut menjadi satu kesimpulan moral yang bersih.
Nolan tampaknya ingin melakukan penyelesaian itu. Ia ingin Odiseus pulang bukan hanya sebagai pemenang, tetapi sebagai manusia yang telah memahami sesuatu. Itulah yang membuat filmnya emosional. Tetapi itu pula yang membuatnya berjarak dari Homeros.
Pada akhirnya, mungkin persoalannya bukan bahwa Nolan terlalu modern untuk memahami Homeros. Justru sebaliknya: ia terlalu memahami kebutuhan penonton modern. Ia tahu bahwa manusia abad ke-21 lebih mudah menerima pahlawan yang terluka daripada pahlawan yang berkuasa; lebih mudah menerima kemenangan yang disertai penyesalan daripada kemenangan yang dirayakan; lebih mudah menerima kebesaran yang meminta maaf daripada kebesaran yang berdiri tanpa meminta izin.
Itulah sebabnya Odiseus harus menanggung beban. Ia harus terluka agar kita dapat mencintainya. Ia harus menyesal agar kita dapat memaafkannya. Ia harus berubah agar kepulangannya terasa layak. Dan di titik itulah “The Odyssey” menjadi sesuatu yang lebih daripada adaptasi Homeros. Ia menjadi cermin bagi moralitas zaman kita sendiri.
Kita mungkin tidak lagi tinggal di Olimpus. Kita bahkan mungkin tidak lagi percaya bahwa para dewa menentukan perjalanan manusia. Tetapi kita masih membutuhkan pengadilan moral. Kita masih ingin tahu kapan seseorang yang memiliki kekuasaan telah melampaui batas. Kita masih mencari alasan untuk mengagumi keberanian tanpa membenarkan kekejaman. Kita masih ingin percaya bahwa manusia yang melakukan kesalahan dapat berubah.
Mungkin itu sebabnya Odiseus tetap hidup. Bukan karena ia manusia yang sempurna, melainkan karena ia tidak sempurna.
Dan jika Nolan benar-benar menjadikannya seorang manusia yang harus menebus dirinya, maka pertanyaan terakhir bukan apakah ia telah mengkhianati Homeros. Pertanyaan yang lebih menarik adalah apa yang dikatakan perubahan itu tentang kita.
Barangkali kita hidup dalam zaman yang tidak lagi mempercayai para dewa, tetapi masih menuntut manusia untuk bertobat di hadapan pengadilan moral yang baru. Kita telah menghapus Olimpus, tetapi mempertahankan rasa bersalah. Kita telah kehilangan para dewa, tetapi tetap mencari penebusan.
Odiseus pulang ke Itaka. Namun dalam versi Nolan, yang sebenarnya ia cari mungkin bukan lagi rumah. Ia mencari alasan untuk merasa bahwa ia masih layak berada di dalamnya.

