Rumah sebagian terendam lumpur dan puing setelah banjir bandang di Nepal.

Runtuhnya Gletser di Himalaya

Keruntuhan gletser di Himalaya memicu banjir dahsyat di perbatasan Nepal dan Tibet, meninggalkan ribuan orang tanpa kepastian.

Sebuah rumah sebagian terendam lumpur dan puing setelah banjir bandang melanda Trishuli Dam, Nepal. Ritesh Shukla/Getty Images

Ketika Keshav Prasad Baral melihat lumpur memasuki rumahnya, yang pertama ia pikirkan bukanlah tentang gunung, sungai, atau gletser. Ia memikirkan istrinya. Dinding lumpur dan batu itu datang seperti sesuatu yang tidak memiliki bentuk pasti, tetapi bergerak dengan kecepatan yang cukup untuk menghapus semua yang berdiri di jalurnya. Air bercampur sedimen naik semakin tinggi ketika mendekati rumah. Baral, 68 tahun, mencoba meraih tangan istrinya dan membawanya ke teras. Beberapa detik kemudian, tangannya kosong.

“Saya melihat lumpur masuk ke rumah,” katanya dari sebuah rumah sakit kecil, ketika tubuhnya masih dirawat setelah bencana. Ia kemudian menceritakan bahwa ia menunggu empat atau lima jam sebelum sebuah helikopter datang menyelamatkannya. Istrinya tidak pernah ditemukan. Di bawah lapisan lumpur yang menutup permukiman, jalan, kendaraan dan segala sesuatu yang beberapa jam sebelumnya masih merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, ia percaya istrinya masih berada di suatu tempat.

Di Himalaya, gunung biasanya hadir sebagai latar. Ia berada jauh di belakang rumah, di balik lembah dan hutan, menjadi garis putih di cakrawala atau dinding batu yang membatasi jalan. Pada Rabu pagi, gunung itu seolah-olah turun ke lembah.

Di kawasan perbatasan Nepal dan Tibet, bagian bawah sebuah gletser runtuh dari ketinggian dan jatuh ke lantai lembah. Es dan batu bergerak ke saluran sungai Lhende Khola, mengangkut sedimen, bongkahan batu, dan material dari lereng. Apa yang dimulai sebagai keruntuhan di dataran tinggi berubah menjadi rangkaian bencana yang bergerak melintasi perbatasan: longsoran es dan batu, aliran puing, banjir bandang, kehancuran infrastruktur dan kemudian ancaman bendungan alami yang menahan jutaan meter kubik air.

Di Nepal, dampaknya menjalar melalui sistem sungai menuju permukiman yang lebih rendah. Di Tibet, kawasan Gyirong Port, sebuah pintu masuk penting di perbatasan, diterjang material yang bergerak begitu cepat sehingga orang-orang di dalam kompleks hanya memiliki waktu untuk melarikan diri.

Rekaman kamera keamanan dari sisi China memperlihatkan orang-orang berlari sebelum gelombang cokelat menghantam bangunan dan kendaraan. Dalam hitungan detik, struktur yang menjadi bagian dari aktivitas perdagangan dan perjalanan lintas perbatasan lenyap di balik air, lumpur dan batu. Bangunan gerbang perbatasan, fasilitas bea cukai dan imigrasi, serta kompleks di sekitarnya kemudian terlihat dari udara sebagai hamparan puing yang hampir tidak dapat dikenali.

Di sisi Nepal, sungai membawa kehancuran lebih jauh.

Kawasan Rasuwa, yang memiliki sekitar 50.000 penduduk, termasuk yang paling parah terkena dampak. Syapru Besi dan Timure terputus ketika jalan dan jembatan hilang atau tertutup material. Infrastruktur pembangkit listrik tenaga air rusak. Rumah-rumah terendam atau terkubur. Kendaraan terapung di antara puing-puing. Di sejumlah tempat, aliran sungai berubah arah setelah material longsoran mengubah bentuk lembah.

Tula Bahadur, seorang pekerja kesehatan di Rasuwa, menggambarkan pemandangan yang tersisa dengan kalimat sederhana: kehancuran ada di mana-mana. Permukiman di dekat sungai, katanya, telah tersapu seluruhnya. Lima kerabatnya sendiri hilang.

Di tempat lain, Bibek Kumal, pekerja berusia 24 tahun, nyaris menjadi bagian dari daftar orang hilang. Ia sedang menggali lubang untuk toilet di luar sebuah rumah yang baru dibangun di Bidur ketika mendengar suara mendesis. Empat rekan kerjanya yang berdiri di atas lubang sedalam sekitar 1,5 meter berteriak agar ia segera keluar dan berlari.

Kumal baru saja berhasil keluar ketika rekan-rekannya sudah menghilang dari pandangan.

Ia berlari. Kemudian dinding air datang.

Ia kemudian menggambarkannya seperti gempa bumi, tetapi bukan tanah yang bergerak di bawah kakinya. Air, lumpur dan batu yang bergerak dari hulu membawa energi yang begitu besar sehingga tubuh manusia tidak memiliki kesempatan untuk melawannya. Kumal terseret ke hilir. Sebuah batu menghantam kaki kanannya. Kemudian sesuatu yang lebih sederhana menyelamatkannya: pohon mangga.

Ia berhasil tersangkut di atas pohon itu dan bertahan sambil melihat rumah tempat ia bekerja menghilang.

“Kalau tidak ada pohon mangga, saya mungkin sudah hanyut dan mati,” katanya dari ranjang rumah sakit di Kathmandu.

Keselamatan dalam bencana seperti itu sering kali tidak datang melalui sistem yang dirancang manusia. Ia datang melalui sesuatu yang kebetulan berada di tempat yang tepat pada detik yang tepat.

Kumal pernah mengalami gempa besar Nepal pada 2015 ketika masih remaja. Tetapi pengalaman sebelumnya tidak membuat bencana baru ini terasa lebih dapat dipahami. Kali ini tidak ada getaran panjang yang memberi peringatan. Tidak ada bangunan yang bergoyang selama beberapa puluh detik sebelum orang sempat berlari keluar. Ada suara, lalu air.

Di ranjang rumah sakit di dekatnya, Rihana Lamichhane, 11 tahun, menceritakan pengalaman yang sama dari sudut pandang seorang anak. Sekolahnya ditutup dan murid diminta pulang. Ketika ia menyeberangi sungai, air tiba-tiba datang dari hulu. Ia mengalami cedera di dada dan kaki, tetapi berhasil selamat.

Tas sekolah Spider-Man terlihat di ruang kelas yang tertutup lumpur.
Tas sekolah Spider-Man yang tertinggal terlihat di dalam ruang kelas yang tertutup lumpur setelah banjir bandang di Bageshwori Secondary School, Nepal. Manan Vatsyayana/AFP/Getty Images

Ia tidak tahu apa yang terjadi kepada teman-temannya.

Kalimat itu menjadi salah satu gambaran paling menyakitkan dari bencana yang berkembang terlalu cepat untuk segera dipahami. Di luar rumah sakit, keluarga, teman dan orang-orang yang tidak mengenal para korban berkumpul. Di pusat pelatihan militer Nepal, tempat operasi penyelamatan helikopter dilakukan, orang-orang dari Nuwakot dan Dhading datang untuk mencari nama anggota keluarga mereka.

Listrik padam. Di luar gerbang barak, petugas mencatat nama orang hilang dengan bantuan cahaya dari lampu ponsel.

Warga mencari nama di daftar korban banjir di sebuah kamp militer di Nepal.
Warga mencari nama dalam daftar di sebuah kamp militer di Bidur, Distrik Nuwakot, Nepal. Sameer Shrestha/Anadolu/Getty Images

Tidak ada daftar lengkap yang dapat menjelaskan apa yang telah terjadi.

Pada hari-hari pertama, jumlah korban berubah hampir setiap beberapa jam. Mayat ditemukan dari sungai yang membawa mereka jauh dari titik awal bencana. Orang-orang yang sebelumnya dinyatakan hilang ditemukan hidup. Nama-nama warga lokal bercampur dengan wisatawan asing, pekerja konstruksi, tenaga pembangkit listrik dan peziarah yang sedang menuju Tibet.

Pada Sabtu, jumlah korban di Nepal telah mencapai sedikitnya 669 orang, sementara tujuh orang dilaporkan tewas di Tibet. Hampir 3.000 orang masih belum ditemukan di kedua sisi perbatasan. Angka itu sendiri belum merupakan akhir. Di wilayah yang sebagian besar jalannya hancur, komunikasi terputus dan sejumlah lembah hanya dapat dijangkau dengan helikopter, pencarian terhadap korban tidak pernah bergerak dengan kecepatan yang sama seperti bencana yang mendahuluinya.

Gunung telah bergerak dalam hitungan menit.

Manusia membutuhkan berhari-hari untuk mengetahui siapa yang masih hidup.

Sungai yang Membawa Kehancuran

Bencana itu tidak dapat dipahami hanya sebagai banjir.

Banjir adalah hasil akhirnya. Di belakangnya terdapat rantai peristiwa yang dimulai jauh di atas lembah, di wilayah yang tidak dapat dilihat dari permukiman di bawah. Bagian bawah sebuah gletser di sekitar kawasan Langtang Lirung runtuh dari ketinggian sekitar 5.200 meter dan jatuh sekitar 1.200 meter menuju lantai lembah. Ketika massa es dan batu menghantam lereng dan saluran sungai, material yang awalnya merupakan longsoran glasial berubah menjadi aliran puing yang jauh lebih besar.

Planet Labs, melalui citra satelit sebelum dan sesudah bencana, memperlihatkan perubahan yang hampir sulit dipercaya. Lereng pegunungan yang sebelumnya hijau berubah menjadi jalur cokelat yang penuh sedimen. Saluran air berubah. Material longsoran menyebar jauh dari titik awal.

Nepal’s National Disaster Risk Reduction and Management Authority kemudian menyebut peristiwa tersebut sebagai banjir yang melibatkan material gletser. Studi awal menunjukkan bahwa longsoran es dan batu terjadi sekitar 20 kilometer di timur laut penyeberangan perbatasan Rasuwagadhi. Dari sana, air dan material bergerak melalui Lhende River, kemudian masuk ke sistem sungai yang lebih luas.

Prakash Pokharel, seorang geolog di lembaga penanggulangan bencana Nepal yang meninjau citra Planet Labs, mengatakan bahwa banjir bandang dipicu oleh longsoran es dan batu di sisi Nepal.

Kecepatan menjadi bagian penting dari cerita.

Guo Zhaocheng, seorang ahli geologi pemerintah China, memperkirakan aliran material bergerak sekitar 50 meter per detik dan membentang lebih dari 20 kilometer. Pada kecepatan seperti itu, peringatan yang datang beberapa menit lebih awal dapat menentukan apakah seseorang masih berada di dalam rumah atau sudah mencapai tempat yang lebih tinggi.

Itulah yang terlihat dalam rekaman kamera keamanan di Gyirong Port. Orang-orang tampak berlari sebelum gelombang tiba. Tetapi jarak antara kesadaran dan keselamatan sangat pendek.

Kompleks perbatasan tersebut bukan sekadar pos pemeriksaan. Gyirong merupakan salah satu jalur penting antara Tibet dan Nepal dan bagian dari jaringan perdagangan yang lebih luas yang terhubung dengan Belt and Road Initiative China. Dalam satu dekade terakhir, kawasan itu telah mengalami pembangunan fasilitas logistik, area parkir dan infrastruktur pendukung perdagangan. Jalan menuju port perbatasan merupakan urat nadi bagi pergerakan manusia dan barang di salah satu kawasan paling terpencil di Asia.

Bencana memutus urat nadi itu.

Jalan menuju Gyirong Port hancur. Komunikasi terputus. Pasokan listrik terganggu. Di sisi Nepal, jalan dan jembatan yang menghubungkan desa-desa dengan pusat pelayanan ikut tersapu. Beberapa pembangkit listrik tenaga air mengalami kerusakan, memperburuk pemadaman listrik dan menghambat komunikasi.

Bagi negara pegunungan seperti Nepal, infrastruktur tidak pernah hanya soal kenyamanan. Jalan adalah jalur menuju rumah sakit. Jembatan adalah akses menuju pasar. Pembangkit listrik adalah sumber energi sekaligus bagian dari sistem ekonomi yang semakin bergantung pada tenaga air.

Ketika semua itu hilang bersamaan, sebuah bencana alam berubah menjadi krisis kemanusiaan.

Di dataran lebih rendah, dampaknya bahkan belum berhenti. Sistem sungai Bhote Koshi dan Trishuli menerima gelombang besar air, sedimen dan batu. International Centre for Integrated Mountain Development memperkirakan bahwa tinggi air di kawasan Galchhi, jauh di hilir, meningkat sekitar sembilan meter dalam waktu 30 menit.

Bagi orang yang berada di sepanjang sungai, tidak diperlukan penjelasan geologi untuk memahami bahayanya. Sungai yang selama ini tampak biasa tiba-tiba menjadi dinding air.

Janak Bahadur, seorang penyintas di Devighat, mengatakan sungai dari kejauhan terlihat kecil. Kemudian air naik dengan cepat dan menerjang kawasan di sekitarnya.

Rumah-rumah di sepanjang Sungai Trishuli hancur akibat banjir bandang di Nepal.
Foto udara menunjukkan rumah-rumah di sebuah kota di sepanjang Sungai Trishuli yang hancur akibat banjir bandang di Devighat, Nuwakot, Nepal. Daniel Ceng/Anadolu/Getty Images

Bencana itu juga mengubah bentuk sungai itu sendiri. Material yang dibawa dari dataran tinggi tidak hanya memenuhi dasar sungai, tetapi dapat mengubah saluran air dan menciptakan titik-titik baru yang rawan banjir. Beberapa perubahan terjadi lebih dari 100 kilometer dari lokasi awal longsoran.

Itu sebabnya operasi penyelamatan tidak dapat berhenti pada lokasi tempat korban pertama kali ditemukan.

Helikopter menjadi salah satu alat utama. Tentara dan polisi dikerahkan dalam jumlah ribuan. Tenda, makanan dan perlengkapan darurat diterbangkan ke kawasan yang terisolasi. Tetapi helikopter pun tidak selalu dapat mendarat. Di Syapru Besi dan Timure, aliran sungai yang berubah dan kondisi permukaan tanah membuat pendaratan sulit.

Di darat, penyelamat menghadapi lumpur, batu, jurang dan jalan yang tidak lagi ada.

Petugas melanjutkan upaya penyelamatan di Trishuli Center, Nepal.
Upaya penyelamatan terus dilakukan di Trishuli Center, Distrik Nuwakot, Nepal. Arun Sankar/AFP/Getty Images

Di Tibet, tim penyelamat menghadapi masalah yang sama. Akses ke Gyirong Port terputus sehingga personel harus mencari jalan alternatif melalui medan yang curam. Tim pertama akhirnya mencapai kompleks tersebut dengan menggunakan tali untuk melewati hutan dan tebing. Seekor anjing pencari menjadi bagian dari tim yang masuk ke kawasan yang sebelumnya merupakan kompleks perbatasan.

Ketika mereka tiba, yang tersisa adalah reruntuhan.

Lebih dari 50 pekerja penyelamat kemudian menyisir puing-puing batu dan lumpur dalam hujan. Mereka memanggil kemungkinan penyintas dan mencari tanda kehidupan di antara material yang menutup bangunan.

Di atas mereka, gunung tetap berdiri.

Yang berubah adalah apa yang ada di bawahnya.

Peristiwa tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah bencana di Himalaya tidak mengikuti batas administratif. Longsoran bermula di satu wilayah, aliran air melewati wilayah lain, port perbatasan hancur, lalu sungai membawa dampaknya jauh ke dataran Nepal. Negara-negara yang berada di hilir India kemudian mengeluarkan peringatan banjir karena sungai-sungai dari Nepal mengalir menuju dataran rendah.

Di Bihar, sekitar 5.000 orang telah dievakuasi dari enam distrik, sementara pemerintah daerah menyiapkan kemungkinan evakuasi hingga 10.000–12.000 orang.

Sebuah keruntuhan di ketinggian ribuan meter telah menjadi masalah bagi masyarakat yang tinggal jauh dari gunung.

Itulah sifat bencana di Himalaya: titik awalnya dapat berada di tempat yang nyaris tidak dihuni, tetapi energinya berjalan mengikuti air.

Mereka yang Hilang di Perbatasan

Di Kathmandu, tragedi itu memiliki bentuk yang berbeda.

Ia tidak selalu tampak seperti lumpur atau bangunan yang roboh. Kadang-kadang ia berupa telepon yang tidak berdering.

Keluarga orang hilang menunggu kabar dari nomor yang tidak dapat dihubungi. Mereka menghubungi kementerian, kedutaan, operator perjalanan, rumah sakit dan siapa pun yang mungkin memiliki informasi. Di India, Malaysia, Australia, Amerika Serikat dan negara-negara lain, keluarga melakukan hal yang sama.

Anggota keluarga merekam layar yang menampilkan identitas korban di kamar jenazah di Nepal.
Seorang anggota keluarga merekam layar yang menampilkan identitas korban di sebuah kamar jenazah setelah banjir bandang di Bharatpur, Distrik Chitwan, Nepal. Prakash Mathema/AFP/Getty Images

Sebagian korban merupakan warga Nepal yang bekerja di wilayah terdampak. Sebagian adalah pekerja pembangkit listrik. Sebagian wisatawan. Sebagian lagi datang ke Himalaya untuk alasan yang jauh lebih tua daripada jaringan perdagangan modern yang melintasi perbatasan: ziarah.

Rute menuju Kailash Mansarovar menjadi salah satu jalur yang paling menyakitkan dalam bencana itu.

Gunung Kailash dan Danau Mansarovar memiliki arti religius yang mendalam bagi umat Hindu dan juga dihormati dalam tradisi Buddha serta sejumlah tradisi Asia lainnya. Pada musim yang dianggap paling memungkinkan untuk melakukan perjalanan menuju dataran tinggi Tibet, rombongan peziarah bergerak melalui Nepal sebelum menyeberang ke Tibet.

Di antara mereka terdapat puluhan warga India.

Syed Sadique, pemilik agen perjalanan di Tamil Nadu, mengirim rombongan 57 orang menuju Tibet melalui Nepal. Rombongan itu berangkat pada Minggu dan seharusnya memasuki Tibet pada Rabu setelah menyelesaikan pemeriksaan imigrasi di perbatasan.

Mereka menggunakan tiga bus.

Satu kendaraan, menurut laporan dari anggota rombongan, berhasil melewati kawasan bencana dengan sekitar 20 orang di dalamnya. Bus lain terlihat masuk ke jurang. Nasib sebagian penumpang tidak segera diketahui.

Putra Sadique, Sayed Umar Farook, termasuk di antara mereka yang hilang.

Bagi keluarga, istilah “hilang” memiliki arti yang berbeda dari angka statistik. Ia berarti seseorang belum meninggal secara resmi, tetapi juga tidak dapat ditemukan. Ia menyisakan kemungkinan sekaligus ketakutan.

Di Tamil Nadu, keluarga menunggu kabar melalui saluran pemerintah dan operator perjalanan. Di rumah-rumah yang jauh dari Himalaya, peta perjalanan dibuka kembali untuk mencoba memahami lokasi terakhir seseorang berbicara dengan keluarganya.

Vallynayagi, 62 tahun, berada di salah satu bus yang selamat. Ia sempat menghubungi keluarganya sekitar tengah hari untuk mengatakan bahwa mereka aman. Bus mereka dipenuhi lumpur setelah kejadian. Para penumpang keluar dan berjalan menuju lereng yang lebih tinggi sebelum akhirnya mendapatkan perlindungan di kamp militer.

Tidak semua orang memiliki kesempatan itu.

Di antara korban yang hilang terdapat pasangan dari India yang tinggal di Australia. Sandeep Mohapatra dan istrinya terakhir berkomunikasi dengan keluarga pada 23 Agustus. Sehari kemudian, sebuah pesan singkat masih diterima. Setelah itu tidak ada kabar.

Di Malaysia, keluarga menghadapi ketidakpastian yang sama. Sebanyak 91 warga Malaysia disebut tidak dapat dihubungi di Nepal dan Tibet. Vasanthi Muniandy menunggu kabar tentang saudara perempuannya, Vennila, yang mengikuti kelompok peziarah Hindu.

Ia terakhir mendengar kabar setelah Vennila menyeberang dari Nepal menuju Tibet.

“Saya benar-benar hancur,” katanya. “Saya ingin dia pulang.”

Dalam bencana dengan korban internasional, pencarian tidak berhenti pada pekerjaan fisik mengangkat puing. Ada pekerjaan administratif yang panjang: mencocokkan daftar penumpang, paspor, catatan imigrasi, laporan hotel, komunikasi terakhir dan identitas korban yang ditemukan.

Pada tahap berikutnya, persoalannya menjadi forensik.

Sebagian jenazah ditemukan dalam kondisi yang membuat identifikasi visual hampir mustahil. Setelah beberapa hari, tubuh yang ditemukan dari sungai mulai mengalami pembusukan. Pemerintah daerah Chitwan menyatakan bahwa sebagian jenazah mungkin harus dimakamkan setelah prosedur hukum karena risiko kesehatan, sementara sampel DNA dikumpulkan untuk memungkinkan identifikasi di kemudian hari.

Di Kathmandu, keluarga berkumpul di Maharajgunj Medical Campus. Foto-foto jenazah yang ditemukan dalam keadaan rusak dan susuah untuk dikenali ditampilkan di sekitar fasilitas agar kerabat dapat mencoba mengenali orang yang mereka cari.

Dua orang perempuan melihat foto jenazah korban banjir di Kathmandu, Nepal.
Dua orang perempuan melihat foto jenazah yang ditemukan setelah banjir, yang dipajang di luar Maharajgunj Medical Campus di Kathmandu, Nepal Ezra Acayan/Getty Images

Ini adalah bentuk pencarian yang paling sunyi.

Tidak ada helikopter yang dapat membawa seseorang kembali dari keadaan seperti itu. Tidak ada teknologi yang dapat menghapus beberapa hari ketidakpastian. Yang dapat dilakukan adalah mengumpulkan potongan informasi dan berharap satu di antaranya memberikan jawaban.

Pemerintah Nepal menyebut ratusan warga asing masih hilang. India menjadi kelompok terbesar, disusul warga dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Malaysia, Australia, Inggris, Kanada dan Korea Selatan.

Di Korea Selatan, pekerja yang berada di pembangkit listrik tenaga air termasuk di antara orang yang hilang. Pemerintah Seoul mengirim tim tanggap cepat dan menawarkan bantuan kemanusiaan.

Amerika Serikat mengatakan sedang melacak warga negaranya yang terdampak. Kanada menyebut bencana itu sangat menghancurkan. Perserikatan Bangsa-Bangsa mengaktifkan tim dan mitra untuk membantu Nepal.

Namun Nepal memilih mempertahankan operasi pencarian dan penyelamatan di bawah kendalinya sendiri.

Keputusan itu menimbulkan pertanyaan diplomatik karena Rasuwa berbatasan langsung dengan Tibet, wilayah yang memiliki sensitivitas geopolitik tinggi bagi China. Mantan diplomat Nepal Dinesh Bhattarai mengatakan lokasi bencana mungkin menjadi salah satu pertimbangan. Pemerintah Nepal membantah bahwa keputusan itu berkaitan dengan sensitivitas China dan mengatakan lembaga keamanan domestik masih mampu menjalankan operasi.

Di balik persoalan diplomatik tersebut terdapat pertimbangan yang lebih praktis. Bencana terjadi di wilayah yang aksesnya rusak. Jalan hilang. Jembatan runtuh. Komunikasi terputus. Bahkan tim penyelamat domestik sendiri menghadapi kesulitan mencapai sejumlah lokasi.

Setiap tim tambahan membutuhkan transportasi, koordinasi, komunikasi dan akses.

Sementara itu, keluarga tidak dapat menunggu tanpa batas.

Di sisi China, pemerintah juga menghadapi daftar panjang orang hilang di Gyirong County. Angka yang dilaporkan mencapai lebih dari 500 orang. Banyak di antaranya warga asing. Pemerintah China mengerahkan tim penyelamat dari Beijing dan Chengdu serta tim teknis untuk menilai medan.

Perdana Menteri Li Qiang datang ke Gyirong sehari setelah bencana. Presiden Xi Jinping menyerukan upaya penuh untuk menemukan orang hilang dan meminta penguatan sistem pemantauan serta peringatan dini.

Di Nepal, Perdana Menteri Balendra Shah bergerak menuju salah satu distrik yang terdampak.

Namun tidak ada kunjungan pejabat yang dapat mengubah kenyataan bahwa sebagian wilayah telah kehilangan bentuk aslinya.

Sagar Pandey, kepala sebuah perusahaan pariwisata Himalaya, terbang dengan helikopter di atas kawasan yang terkena dampak. Dari udara, katanya, hampir tidak ada lagi jejak permukiman. Hotel, restoran dan kendaraan yang sebelumnya memenuhi kawasan itu tidak tampak sebagai tempat yang dapat dikenali.

Lumpur dan puing menutupi wilayah yang terdampak banjir bandang di DevGhat, Nepal.
Foto udara menunjukkan puing dan lumpur menutupi sebuah wilayah setelah banjir bandang di Desa DevGhat, Nepal. Ritesh Shukla/Getty Images

Di bawah helikopter, pemandangan itu tidak lagi menunjukkan sebuah desa yang terkena banjir.

Ia menunjukkan tempat yang telah dihapus.

Apa yang Membuat Gletser Runtuh?

Pada jam-jam pertama setelah bencana, gempa bumi tampak seperti jawaban yang masuk akal.

Nepal adalah negara yang berada di salah satu zona tektonik paling aktif di dunia. Pengalaman 2015 masih hidup dalam ingatan nasional. Ketika orang-orang merasakan atau mendengar sesuatu yang terdengar seperti gempa sebelum banjir datang, dugaan awal bahwa gempa memicu longsoran bukanlah sesuatu yang sulit dipercaya.

German Research Centre for Geosciences mendeteksi peristiwa seismik sekitar tujuh menit sebelum waktu yang terlihat pada rekaman kamera keamanan. Magnitudonya diperkirakan 4,4.

Tetapi kemudian datang koreksi yang mengubah cara bencana itu dipahami.

U.S. Geological Survey mengatakan sinyal seismik tersebut bukan gempa yang memicu keruntuhan. Energi itu justru berasal dari keruntuhan batu dan es gletser, diikuti aliran puing.

Perbedaannya tampak teknis. Dampaknya terhadap pemahaman bencana sangat besar.

Jika gempa merupakan pemicu utama, cerita itu dapat dibaca sebagai konsekuensi dari aktivitas tektonik. Tetapi jika sinyal seismik tersebut dihasilkan oleh gletser yang runtuh, pertanyaan bergeser: mengapa gletser itu runtuh?

Citra satelit memberikan beberapa petunjuk.

Vikram Gupta, ahli geologi teknik dari Sikkim University di India, mengatakan citra tersebut menunjukkan bahwa bagian signifikan dari ujung gletser runtuh dan kemungkinan membawa sejumlah besar batu serta sedimen bersamanya.

Dan Shugar, ilmuwan bumi dari University of Calgary, melihat perubahan lain. Citra menunjukkan bahwa sebagian gletser yang sebelumnya tertutup salju menjadi lebih terbuka. Salah satu kemungkinan, katanya, adalah pencairan salju yang cukup besar dalam 24 jam sebelum bencana.

Itu tidak membuktikan bahwa perubahan iklim menyebabkan keruntuhan.

Justru di situlah persoalan ilmiahnya menjadi lebih rumit.

Gunung tinggi tidak runtuh karena satu variabel tunggal. Suhu, curah hujan, pencairan salju, struktur batuan, kondisi gletser, tekanan air, pembekuan dan pencairan berulang, serta bentuk lereng dapat berinteraksi. Dalam keadaan tertentu, perubahan kecil pada satu unsur dapat memperbesar dampak unsur lainnya.

Pemanasan dapat mengurangi penopang es pada lereng curam. Air lelehan dapat masuk ke celah dan mengubah kondisi material. Siklus beku-cair dapat melemahkan batuan. Curah hujan dapat menambah beban air dan mengurangi stabilitas lereng.

Simon Cox, kepala ilmuwan program Mountains to Sea di Earth Sciences New Zealand, menyebut perubahan iklim menciptakan kondisi yang dapat membuat batuan dan es di pegunungan tinggi lebih tidak stabil.

Tetapi ia juga berhati-hati. Perubahan iklim bukan berarti setiap keruntuhan gletser dapat langsung dinyatakan sebagai akibat pemanasan global.

Itu perbedaan yang penting.

Ilmu iklim bekerja dalam probabilitas dan tren, sementara sebuah longsoran tertentu terjadi pada satu lokasi, pada satu hari, dengan kondisi geologi tertentu. Untuk menghubungkan keduanya, ilmuwan membutuhkan data yang sering kali tidak tersedia di pegunungan terpencil.

Benjamin Horton, dekan School of Energy and Environment di City University of Hong Kong, menyebut bencana seperti ini sebagai kemungkinan “compound event” — sebuah peristiwa ketika beberapa faktor saling berinteraksi dan menghasilkan kerusakan yang lebih besar daripada yang mungkin ditimbulkan oleh satu faktor saja.

Dalam kerangka itu, perubahan iklim tidak harus menjadi tombol yang ditekan pada Rabu pagi.

Ia dapat menjadi bagian dari kondisi awal.

Pemandangan udara puncak Himalaya yang diselimuti salju di Nepal.
Pemandangan udara puncak-puncak Himalaya yang diselimuti salju di Nepal. Ozkan Bilgin/Anadolu/Getty Images

Gunung Himalaya telah mengalami perubahan cepat. Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan pada 2023 bahwa pegunungan bersalju Nepal kehilangan hampir sepertiga lapisan esnya dalam lebih dari 30 tahun. Dalam dekade sebelumnya, pencairan gletser di Nepal berlangsung 65% lebih cepat dibandingkan dekade sebelumnya lagi.

Perubahan itu terjadi di kawasan yang sudah rentan terhadap bahaya geologi.

Hindu Kush Himalaya membentang melintasi salah satu lingkungan paling kompleks di dunia. Pegunungan tinggi menyimpan es dan salju dalam jumlah besar, sementara lembah di bawahnya menjadi tempat tinggal manusia, jalur perdagangan, sumber pembangkit listrik dan tujuan wisata.

Air dari gunung merupakan sumber kehidupan.

Pada saat yang sama, air itu dapat menjadi kekuatan penghancur.

Bencana serupa telah terjadi di kawasan ini sebelumnya.

Pada 1981, runtuhnya massa es di Cirenma Co, Tibet, memicu gelombang besar yang masuk ke Nepal. Peristiwa itu diperkirakan menewaskan sekitar 200 orang dan merusak jembatan, jalan serta pembangkit listrik.

Pada 2021, sebuah massa es dari Ronti Peak di India runtuh dan mengirim material batu, debu dan es sekitar 1.500 meter ke lembah. Banjir bandang yang terjadi kemudian menewaskan lebih dari 200 orang dan menghancurkan dua proyek pembangkit listrik tenaga air.

Pada 2023, banjir bandang besar terjadi di Sikkim. Setahun kemudian, desa Thame di Nepal mengalami bencana yang berkaitan dengan danau glasial. Pada 2025, Gyirong kembali diterjang banjir.

Tidak satu pun peristiwa itu identik dengan yang terjadi sekarang.

Tetapi bersama-sama, mereka membentuk pola yang lebih besar: dataran tinggi Himalaya sedang mengalami perubahan lingkungan yang membuat hubungan antara es, batu, air dan manusia semakin sulit diprediksi.

Farooq Azam, spesialis cryosphere di International Centre for Integrated Mountain Development, mengatakan kenaikan suhu pegunungan membuat bagian bumi yang tertutup es menjadi lebih rentan. Ia menilai pencairan salju yang berat, bersama kondisi seismik, kemungkinan berperan dalam keruntuhan awal.

Masalahnya adalah data.

Horton menekankan bahwa pemahaman tentang mekanisme longsoran masih terbatas karena kurangnya data dari lokasi terpencil. Untuk memperbaiki sistem peringatan dini, katanya, investasi tidak cukup hanya dilakukan pada teknologi setelah bencana terjadi. Investasi juga diperlukan dalam ilmu pengetahuan dan masyarakat.

Citra satelit dapat memperlihatkan perubahan permukaan. Drone dapat memetakan puing. Radar dapat memantau pergerakan air. Sensor dapat mengukur perubahan sungai.

Tetapi semua itu harus berada di tempat sebelum bencana datang.

Dan Himalaya adalah tempat yang sangat sulit untuk dipantau.

Gunung tinggi, cuaca berubah cepat dan akses terbatas membuat stasiun pengamatan mahal dan sulit dipelihara. Sebagian lembah bahkan tidak memiliki infrastruktur dasar yang cukup untuk mengirimkan peringatan kepada penduduk secara cepat.

Bencana pada Rabu menunjukkan harga dari keterbatasan itu.

Pertanyaan yang paling penting mungkin bukan apakah perubahan iklim “menyebabkan” longsoran.

Pertanyaannya adalah apakah kondisi yang berubah membuat kejadian seperti itu semakin mungkin — dan apakah manusia telah membangun sistem yang cukup kuat untuk menghadapi kemungkinan tersebut.

Danau yang Menunggu untuk Pecah

Ketika air utama surut, bahaya belum berakhir.

Justru pada titik itulah lembah memasuki fase yang lebih sulit dipahami: fase ketika bencana yang pertama menciptakan bencana kedua.

Material longsoran membendung aliran sungai dan membentuk danau penghalang atau barrier lake di dekat perbatasan Nepal-Tibet. Air terus masuk ke cekungan yang sebelumnya tidak memiliki danau sebesar itu. Lumpur, batu dan puing menjadi bendungan alami.

Air meluap dari danau yang terbentuk akibat aliran material longsor di Gyirong, China.
Air terus meluap dari danau yang terbentuk akibat aliran material longsor di Gyirong, Daerah Otonom Xizang, China. Jiang Feibo/VCG/Getty Images

Bendungan seperti itu tidak dibangun untuk menahan air.

Ia hanya kebetulan berada di sana.

Pada Kamis, China memperingatkan bahwa sekitar 3 juta meter kubik air dapat masuk ke danau tersebut dalam tiga hari. Itu setara dengan sekitar 1.200 kolam renang ukuran Olimpiade. Perkiraan menunjukkan risiko terbesar dapat terjadi sekitar 1 September.

Di Nepal, otoritas bencana meminta penduduk, penyelamat dan orang-orang yang berada di sepanjang bantaran sungai untuk menjauh dari zona berisiko.

Peringatan itu mengubah operasi penyelamatan.

Pawan Koirala, yang bekerja bersama tim beranggotakan 13 orang, mulai bergerak menjauh dari dasar sungai setelah peringatan dikeluarkan. Mereka datang untuk menyelamatkan orang, tetapi kini harus menyelamatkan diri sendiri.

Pada Jumat, kekhawatiran meningkat. Pekerja penyelamat China ditarik ke tempat aman karena risiko jebolnya danau dan kemungkinan longsoran atau longsoran salju sekunder. Di Nepal, operasi helikopter juga dihentikan sementara setelah air sungai kembali meningkat.

Kemudian penilaian berubah lagi.

Pada Jumat siang, otoritas China menilai risiko telah menjadi lebih terkendali dan operasi dapat dilanjutkan. Tim teknik melakukan survei udara, pemodelan tiga dimensi dan pemantauan menggunakan drone serta radar.

Tim penyelamat melakukan operasi pencarian dan penyelamatan di Sungai Gyirong Zangbo, China.
Anggota Tim Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Tibet melakukan operasi pencarian dan penyelamatan di sepanjang Sungai Gyirong Zangbo di lokasi penyelamatan Gyirong Port, Daerah Otonom Xizang, China. Li Lin/VCG/Getty Images

Volume air tetap besar.

Citra satelit menunjukkan perubahan bentuk dan luas permukaan danau. Air perlahan mulai keluar dan reservoir menyusut. Pada Sabtu, sebagian dasar danau telah terlihat. Luas permukaannya dilaporkan sekitar 99.000 meter persegi, turun sekitar 21.000 meter persegi dibandingkan Kamis.

Perubahan itu memberikan sedikit ruang bagi para penyelamat untuk bernapas.

Tetapi di dekat lokasi tersebut terdapat badan air lain yang lebih besar. Para ahli memperkirakan luasnya lebih dari 120.000 meter persegi, sementara kedalamannya belum diketahui.

Itulah masalah dengan bahaya sekunder: menghilangkan satu ancaman tidak selalu menghilangkan seluruh rantai ancaman.

Jika danau pertama mengering, air yang tersisa masih dapat bergerak ke saluran sungai. Jika hujan turun, volume air dapat bertambah. Jika material yang membendung sungai menjadi tidak stabil, air dapat keluar secara tiba-tiba. Jika lereng di sekitar danau runtuh, gelombang baru dapat terbentuk.

Kamal Kishore dari United Nations Office for Disaster Risk Reduction memperingatkan bahwa bencana tersebut belum sepenuhnya selesai. Bahaya dapat terus berkembang dalam bentuk yang berbeda.

International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies memperkirakan sedikitnya 93.000 orang terdampak langsung dan membutuhkan bantuan kemanusiaan.

David Fisher, kepala delegasi federasi tersebut di Nepal, memperingatkan tentang ancaman banjir sekunder. Bahkan truk bantuan dapat terjebak ketika jalan terputus dan danau baru terbentuk.

Di bidang kesehatan, persoalannya tidak berhenti pada luka akibat banjir.

World Health Organization mengatakan enam fasilitas kesehatan rusak dan delapan tenaga kesehatan hilang. Ketika masyarakat kehilangan rumah, air bersih, sanitasi dan fasilitas medis, risiko penyakit meningkat. Tempat pengungsian dapat menjadi padat. Sistem air dan sanitasi yang rusak dapat meningkatkan risiko penyakit diare dan infeksi saluran pernapasan.

Bencana tidak hanya menghancurkan apa yang terlihat.

Ia juga menghancurkan sistem yang menjaga masyarakat tetap sehat.

Di Chitwan, rumah sakit tidak lagi memiliki kapasitas untuk menampung semua jenazah yang ditemukan. Tenda harus didirikan untuk menampung korban. Keluarga harus menunggu identifikasi. Di sejumlah tempat, jenazah yang ditemukan dari sungai sudah terlalu rusak untuk dikenali secara visual.

Di Rasuwa, tim pencari menghadapi medan yang terus berubah.

Di Gyirong, jalan utama menuju port perbatasan belum sepenuhnya terbuka. Pekerja berusaha mendekati kompleks yang hancur dari jarak sekitar 1,5 kilometer. Lebih dari 50 penyelamat menyisir puing pada Sabtu pagi dalam hujan, memanggil kemungkinan korban dan mencari tanda kehidupan.

Setiap keputusan harus mempertimbangkan dua hal sekaligus: kemungkinan menemukan seseorang dan kemungkinan bencana berikutnya.

Itulah sebabnya danau menjadi pusat perhatian.

Air yang tenang dapat lebih menakutkan daripada air yang bergerak. Ketika sungai mengamuk, bahayanya terlihat. Ketika air terkumpul di belakang bendungan lumpur dan batu, bahaya menjadi tidak kasatmata. Tekanan terus bertambah sementara permukaan tampak diam.

Di kedua sisi perbatasan, teknologi menjadi mata tambahan.

Petugas penyelamat menggunakan drone untuk mengirimkan bantuan di Gyirong Port, China.
Petugas penyelamat menggunakan drone untuk mengirimkan pasokan bantuan di Gyirong Port, Daerah Otonom Xizang, China. Gongga Laisong/VCG/Getty Images

China menggunakan radar dan drone untuk pemantauan sepanjang waktu. Nepal mengandalkan citra satelit dan merencanakan pemasangan kamera serta sensor di hilir, termasuk di sekitar Timure. Sistem seperti itu dapat memberi waktu beberapa puluh menit jika perubahan mendadak terdeteksi.

Dalam bencana bandang, beberapa puluh menit dapat menjadi perbedaan antara daftar korban dan daftar penyintas.

Tetapi teknologi hanya berguna jika peringatan dapat diterima.

Sebuah sensor di pegunungan tidak menyelamatkan siapa pun jika jaringan komunikasi terputus. Kamera tidak cukup jika tidak ada jalur evakuasi. Peta risiko tidak berguna jika penduduk tidak memiliki tempat aman untuk dituju.

Himalaya menghadirkan persoalan yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu sistem.

Ia membutuhkan geologi, hidrologi, meteorologi, pengamatan satelit, komunikasi, infrastruktur dan kesiapsiagaan masyarakat untuk bekerja sebagai satu jaringan.

Dan jaringan itu harus tetap berfungsi ketika gunung runtuh.

Setelah Air Pergi

Pada akhirnya, ukuran bencana tidak hanya ditentukan oleh jumlah orang yang tewas.

Ia juga diukur dari apa yang tersisa untuk mereka yang hidup.

Saraswati Ghale, 43 tahun, selamat ketika banjir datang. Rumahnya tidak.

Ia sempat berlari menuju tempat yang lebih tinggi ketika air menghantam kawasan tempat tinggalnya. Tanah bergetar di bawah kakinya sehingga ia merasa seolah-olah gempa kembali terjadi.

Ia selamat, tetapi keselamatan itu tidak datang bersama rumah, pakaian, perabot atau kepastian mengenai masa depan.

“Saya tidak punya apa-apa,” katanya. “Saya selamat, tetapi siapa tahu bagaimana semuanya akan berjalan.”

Kalimat itu merupakan inti dari fase kedua bencana: rekonstruksi.

Nepal adalah negara berpenduduk sekitar 30 juta orang dengan ekonomi yang bergantung pada remitan, pariwisata dan pembangkit listrik tenaga air. Banjir menghantam ketiganya sekaligus.

Jalan menuju kawasan wisata rusak. Jalur menuju Tibet terputus. Infrastruktur pembangkit listrik tenaga air mengalami kerusakan. Gangguan listrik memperburuk masalah komunikasi dan pelayanan publik. Bisnis yang bergantung pada perjalanan lintas wilayah kehilangan akses kepada pelanggan.

Swarnim Wagle, Menteri Keuangan Nepal, memperkirakan biaya pembangunan kembali dapat mencapai 4 hingga 5 miliar dolar.

Angka itu masih merupakan perkiraan awal.

Kerusakan belum seluruhnya dinilai. Banyak kawasan belum dapat diakses. Sebagian infrastruktur masih tertutup lumpur. Jembatan dan jalan harus diperiksa. Pembangkit listrik harus dinilai. Rumah-rumah harus didata. Jenazah harus diidentifikasi.

Tetapi bahkan perkiraan awal tersebut menunjukkan skala masalah.

Nilainya mendekati sepersepuluh ukuran ekonomi Nepal.

Wagle membandingkannya dengan gempa 2015, yang menewaskan hampir 9.000 orang, menghancurkan lebih dari setengah juta rumah dan menimbulkan kerugian yang diperkirakan sekitar sepertiga perekonomian Nepal. Pemerintah memperkirakan kebutuhan rekonstruksi akibat banjir kali ini akan lebih kecil daripada gempa tersebut, tetapi itu tidak berarti dampaknya kecil.

Banjir menghancurkan infrastruktur secara lebih terarah.

Dan infrastruktur tersebut sangat penting bagi pertumbuhan masa depan Nepal.

Kapasitas pembangkit yang rusak mencakup lebih dari 12% kapasitas pembangkitan nasional. Pembangkit listrik tenaga air bukan hanya sumber energi. Ia juga merupakan sumber investasi, pendapatan dan harapan bagi negara yang melihat energi air sebagai salah satu sektor ekonominya.

Kerusakan di kawasan perbatasan juga memiliki dimensi regional.

India bergantung pada sungai yang mengalir dari Himalaya. China mengandalkan jalur perdagangan dan infrastruktur yang menghubungkan Tibet dengan Nepal. Ribuan orang melakukan perjalanan lintas batas untuk bekerja, berdagang, berwisata atau berziarah.

Satu keruntuhan di dataran tinggi memperlihatkan betapa erat hubungan antara negara-negara tersebut sebenarnya.

Air tidak mengenal perbatasan.

Sedimen tidak membutuhkan paspor.

Dan gelombang banjir tidak berhenti di garis yang digambar manusia pada peta.

Karena itu, pertanyaan setelah bencana menjadi lebih besar daripada siapa yang harus membayar pembangunan kembali.

Pertanyaannya adalah bagaimana membangun kembali tanpa mengulangi kerentanan yang sama.

Nepal membutuhkan bantuan untuk beberapa pekerjaan yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengirim makanan dan tenda. Menteri Luar Negeri Shisir Khanal mengatakan negara itu membutuhkan keahlian untuk menyelamatkan orang yang mungkin masih terjebak di terowongan, memulihkan transportasi dan komunikasi, mengidentifikasi jenazah, melakukan tes DNA dan menyimpan jenazah dalam jangka waktu yang lebih lama.

India mengirim ahli terowongan, bersama bantuan kemanusiaan puluhan ton yang terdiri dari makanan, obat-obatan dan selimut. China juga mengirim ahli terowongan. Negara-negara lain menawarkan dukungan.

Bantuan semacam itu menunjukkan bahwa rekonstruksi tidak hanya menjadi urusan Nepal.

Namun, pada tingkat yang lebih dalam, bencana tersebut memunculkan pertanyaan mengenai pembangunan di Himalaya.

Pembangkit listrik dibangun di lembah karena sungai memiliki energi yang besar. Jalan dibangun mengikuti koridor sungai karena lembah adalah jalur paling logis untuk transportasi. Kota dan permukiman tumbuh di dekat sungai karena air merupakan sumber kehidupan.

Tetapi sungai juga merupakan jalur yang digunakan oleh bencana untuk bergerak.

Tidak ada jawaban sederhana berupa menghentikan pembangunan.

Penduduk membutuhkan listrik. Mereka membutuhkan jalan. Mereka membutuhkan pekerjaan. Nepal membutuhkan pertumbuhan ekonomi.

Persoalannya adalah bagaimana memperhitungkan gunung yang berubah.

Jika gletser menyusut, jika pola curah hujan berubah, jika lapisan es tidak lagi memberikan stabilitas yang sama, jika tanah beku mencair dan lereng menjadi lebih tidak stabil, maka peta risiko yang dibuat satu dekade lalu mungkin tidak lagi cukup.

Itulah alasan para ilmuwan menekankan pemantauan dan data.

Bencana seperti ini tidak selalu dapat dicegah. Sebuah gletser dapat runtuh tanpa memberi manusia kesempatan untuk menghentikannya. Tetapi kerugian dapat dikurangi jika tanda-tanda bahaya diketahui lebih awal dan informasi itu sampai kepada orang-orang yang berada di bawah.

Sistem peringatan dini harus mengetahui kapan sungai naik.

Masyarakat harus tahu ke mana harus berlari.

Jalan evakuasi harus tetap terbuka.

Jembatan harus dirancang dengan memperhitungkan aliran puing, bukan hanya air biasa.

Pembangkit listrik dan permukiman harus dibangun dengan mempertimbangkan kemungkinan perubahan lanskap.

Dan penelitian harus dilakukan sebelum, bukan setelah, bencana.

Pada Sabtu, sebagian operasi penyelamatan dilanjutkan setelah hujan dan kabut sempat menghentikan penerbangan. Helikopter kembali terbang. Tim pencari kembali memasuki lembah.

Personel militer dan kepolisian Nepal melakukan operasi pencarian dan penyelamatan di Bidur.
Personel Angkatan Darat Nepal, Kepolisian Nepal, dan Armed Police Force (APF) dikerahkan di Bidur Military Camp saat operasi pencarian dan penyelamatan terus berlangsung di Bidur, Distrik Nuwakot, Nepal. Sameer Shrestha/Anadolu/Getty Images

Di Tibet, pekerja masih menyisir reruntuhan Gyirong Port.

Danau yang sempat mengancam untuk pecah mulai menyusut, memberikan sedikit kelegaan. Tetapi para pejabat tetap memperingatkan bahwa risiko belum hilang sepenuhnya.

Hampir 3.000 orang masih belum ditemukan.

Di antara mereka terdapat warga Nepal dan Tibet, pekerja, wisatawan dan peziarah dari berbagai negara. Sebagian mungkin ditemukan hidup. Sebagian mungkin ditemukan sebagai jenazah. Sebagian mungkin tidak pernah ditemukan.

Angka terakhir akan datang jauh setelah air menghilang.

Tetapi angka tidak akan menceritakan semuanya.

Ia tidak akan mencatat tangan Baral yang terlepas dari tangan istrinya. Tidak akan mencatat Kumal yang bertahan di pohon mangga sambil melihat rumah menghilang. Tidak akan mencatat seorang anak berusia 11 tahun yang pulang dari sekolah dan mendapati sungai berubah menjadi ancaman. Tidak akan mencatat keluarga di Tamil Nadu yang menunggu kabar tentang bus yang tidak pernah tiba. Tidak akan menggambarkan rumah Ghale yang hilang atau lampu ponsel yang digunakan untuk menulis daftar orang hilang di luar barak militer.

Bencana alam sering digambarkan sebagai kekuatan yang tidak dapat dilawan.

Tetapi sebagian dari kerusakan yang ditinggalkannya selalu berhubungan dengan keputusan manusia: di mana jalan dibangun, di mana rumah berdiri, bagaimana sungai dipantau, seberapa cepat peringatan dikirim, seberapa baik rumah sakit dipersiapkan, dan seberapa banyak yang diketahui tentang gunung yang berada di atas kita.

Himalaya bukan gunung yang diam.

Ia bergerak perlahan bahkan ketika manusia tidak melihatnya. Es mencair. Batu retak. Salju turun dan menghilang. Sungai mengikis lembah. Lereng berubah sedikit demi sedikit sampai suatu hari sebuah bagian gunung runtuh dalam hitungan menit.

Pada Rabu pagi, proses yang berlangsung selama bertahun-tahun itu tiba-tiba menjadi terlihat.

Sebuah bagian gletser jatuh.

Batu dan es masuk ke sungai.

Air membawa semuanya ke bawah.

Kemudian manusia mulai menghitung.

Mereka menghitung rumah yang hilang, jembatan yang runtuh, pembangkit yang rusak, jenazah yang ditemukan dan nama-nama yang belum mendapatkan jawaban. Mereka menghitung biaya pembangunan kembali dan jumlah orang yang membutuhkan bantuan.

Tetapi pekerjaan paling penting mungkin bukan menghitung kerusakan.

Ia adalah belajar membaca gunung sebelum gunung kembali berbicara dengan cara yang sama.

Di Himalaya, jarak antara keindahan dan bahaya tidak pernah benar-benar jauh. Sungai yang menghidupi sebuah lembah adalah sungai yang sama yang dapat menghancurkannya. Gletser yang menyimpan air untuk generasi mendatang juga dapat menjadi sumber kehancuran ketika es, batu dan air kehilangan keseimbangannya.

Setelah banjir surut, gunung itu tetap berada di sana.

Begitu pula sungai.

Begitu pula masyarakat yang harus membangun kembali.

Yang berubah adalah pengetahuan manusia tentang betapa cepat sebuah dunia dapat hilang.

Dan mungkin, pada akhirnya, itulah pelajaran paling penting dari bencana ini: bukan bahwa Himalaya tiba-tiba menjadi berbahaya, melainkan bahwa tanda-tanda bahaya yang selama ini tersembunyi di antara es dan batu kini semakin sulit untuk diabaikan.

Comments

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari The Yogya Post

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca