China uji coba rudal balistik jarak jauh di Pasifik, picu kekhawatiran negara-negara kawasan

Peluncuran rudal dari kapal selam bertenaga nuklir menjadi uji coba kedua China di Samudra Pasifik dalam kurun kurang dari dua tahun dan memicu kritik dari Australia, Selandia Baru, serta Jepang di tengah meningkatnya persaingan strategis di Indo-Pasifik.

Rudal diluncurkan untuk mencegat target dalam latihan taktis tembak langsung di Jiuquan, China.
Sebuah rudal diluncurkan untuk mencegat target di ketinggian dalam latihan taktis tembak langsung di Jiuquan, Provinsi Gansu, China, 20 Juni 2024. Foto oleh Costfoto/Nur/Getty Images

China kembali menunjukkan kemampuan militernya yang terus berkembang dengan meluncurkan rudal balistik jarak jauh berpeluru hulu ledak tiruan ke Samudra Pasifik pada Senin. Uji coba tersebut merupakan peluncuran pertama yang diketahui dilakukan Beijing di kawasan itu dalam hampir dua tahun terakhir dan segera memicu kekhawatiran dari sejumlah negara Indo-Pasifik yang menilai langkah tersebut dapat memperburuk ketegangan keamanan regional.

Pemerintah China mengatakan rudal itu diluncurkan dari kapal selam bertenaga nuklir milik Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA Navy). Menurut kantor berita resmi Xinhua, rudal tersebut membawa “hulu ledak tiruan” dan berhasil menghantam area sasaran yang telah ditentukan.

“Rudal tersebut mendarat secara akurat di wilayah yang telah ditetapkan,” demikian laporan Xinhua. Peluncuran yang dilakukan pada pukul 12.01 waktu Beijing itu disebut sebagai bagian dari latihan rutin dan “tidak ditujukan kepada negara atau sasaran tertentu.”

Pemerintah China tidak mengungkap lokasi pasti peluncuran maupun titik jatuh rudal di Samudra Pasifik. Namun sejumlah pemerintah di kawasan mengatakan mereka telah menerima pemberitahuan singkat sebelum uji coba dilakukan.

Peluncuran tersebut berlangsung ketika dinamika keamanan di Indo-Pasifik semakin kompleks. Pada hari yang sama, Australia dan Fiji mengumumkan perjanjian pertahanan bersama serta pembentukan aliansi keamanan regional. Kesepakatan itu merupakan bagian dari rangkaian kerja sama yang terus dibangun Canberra dengan negara-negara kepulauan Pasifik, sebuah langkah yang secara luas dipandang sebagai upaya membendung meningkatnya pengaruh China di kawasan.

Uji coba terbaru juga mengingatkan pada peluncuran rudal balistik antarbenua (ICBM) berkemampuan nuklir yang dilakukan China pada September 2024. Saat itu, Beijing menembakkan rudal yang membawa hulu ledak tiruan melintasi Samudra Pasifik hingga jatuh di perairan dekat Polinesia Prancis. Peluncuran tersebut menjadi uji coba ICBM pertama China di kawasan Pasifik dalam sekitar empat dekade dan memicu kecaman dari berbagai negara Pasifik.

Meski demikian, China bukan satu-satunya negara yang secara rutin menguji rudal balistik. Amerika Serikat juga secara berkala melaksanakan peluncuran rudal dari darat maupun laut, termasuk uji coba yang dilakukan dari California menuju sasaran di Kepulauan Marshall pada Maret lalu.

Namun, sejumlah negara menilai frekuensi dan pola aktivitas militer China belakangan ini menunjukkan perubahan yang lebih luas dalam strategi pertahanan Beijing.

Menteri Luar Negeri Selandia Baru Winston Peters mengatakan negaranya “sangat prihatin” terhadap uji coba tersebut dan menyebutnya sebagai bagian dari pola yang terus berulang.

“Selandia Baru memandang ini sebagai perkembangan yang tidak diinginkan dan mengkhawatirkan. Kami, seperti negara-negara tetangga kami di Pasifik, tidak berkepentingan melihat China menggunakan Pasifik Selatan sebagai lokasi pengujian kemampuan rudalnya,” kata Peters.

Nada serupa disampaikan Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong. Menurutnya, peluncuran rudal tersebut bersifat destabilisasi dan harus dipahami dalam konteks pembangunan militer China yang berlangsung sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir.

Pemerintah Jepang juga menyampaikan protes diplomatik kepada Beijing. Tokyo mengatakan telah menyampaikan “keprihatinan serius” mengenai meningkatnya aktivitas militer China dan bahkan meminta Beijing mempertimbangkan kembali peluncuran tersebut setelah menerima pemberitahuan sebelumnya. Permintaan itu tidak mengubah keputusan pemerintah China untuk tetap melaksanakan uji coba.

Peluncuran rudal terbaru menambah daftar aktivitas militer China yang memicu perhatian negara-negara kawasan. Tahun lalu, gugus tugas angkatan laut China menggelar latihan penembakan langsung di Laut Tasman, wilayah perairan antara Australia dan Selandia Baru. Latihan tersebut memaksa puluhan penerbangan sipil mengubah rute demi menghindari area latihan militer.

Profesor keamanan internasional di Australian National University, John Blaxland, menilai Beijing tidak hanya menguji kemampuan persenjataannya, tetapi juga mengamati respons negara-negara kawasan serta Amerika Serikat terhadap setiap langkah yang diambilnya.

“Seperti yang mereka lakukan terhadap Taiwan, China sedang menguji, mencoba, dan secara bertahap membiasakan kawasan terhadap perilaku yang semakin tegas, intrusif, dan otoriter,” katanya.

Hingga kini, pemerintah China belum mengungkap jenis rudal yang digunakan dalam peluncuran Senin.

Jeffrey Lewis, pakar modernisasi senjata nuklir China dari Middlebury College di Amerika Serikat, memperkirakan rudal yang diuji kemungkinan besar adalah JL-3, rudal balistik antarbenua generasi terbaru yang dirancang untuk membawa hulu ledak nuklir dan diluncurkan dari kapal selam.

China pertama kali menampilkan JL-3 kepada publik dalam parade militer di Beijing tahun lalu. Laporan Pentagon pada 2023 menyebut rudal tersebut mulai ditempatkan di kapal selam generasi terbaru China sehingga memungkinkan Beijing menyerang daratan utama Amerika Serikat tanpa harus meninggalkan perairan dekat pantainya.

Lewis memperkirakan uji coba seperti ini akan semakin sering dilakukan seiring bertambahnya jumlah sistem persenjataan strategis yang dikembangkan China.

“Ini menunjukkan dimulainya era baru pengujian, ketika setiap sistem persenjataan akan memperoleh kesempatan untuk diuji secara terbuka,” katanya.

Menurut Lewis, Beijing selama bertahun-tahun relatif lebih jarang menguji ICBM dibandingkan negara-negara pemilik senjata nuklir lainnya. Kondisi itu, katanya, lebih didorong pertimbangan politik daripada keterbatasan teknologi.

“Saya pikir dulu itu merupakan keputusan politik. Kini pertimbangan politik tersebut telah berubah. China tampaknya mengadopsi pendekatan yang lebih aktif dalam melakukan pengujian dan bersedia menanggung konsekuensi politik yang sebelumnya mereka hindari,” ujarnya.

Peningkatan frekuensi uji coba juga dipandang sebagai bagian dari upaya memperkuat kemampuan penangkalan nuklir China. Semakin sering sistem diuji dalam kondisi operasional, semakin besar pula tingkat kepercayaan militer terhadap keandalan persenjataan tersebut jika sewaktu-waktu diperlukan.

Selama bertahun-tahun, komponen kapal selam menjadi salah satu titik terlemah dalam sistem penangkalan nuklir China. Kapal selam bertenaga nuklir milik Beijing dinilai lebih berisik dibandingkan armada Amerika Serikat maupun negara-negara besar lainnya sehingga relatif lebih mudah dideteksi dan dilacak.

Untuk mengatasi kelemahan tersebut, PLA Navy terus mengembangkan kapal selam yang lebih senyap serta rudal generasi baru dengan jangkauan lebih jauh dan kemampuan bertahan yang lebih tinggi. Modernisasi itu merupakan bagian dari investasi besar China dalam memperkuat triad nuklirnya, yakni kemampuan meluncurkan senjata nuklir dari darat, laut, dan udara.

Analisis yang diterbitkan Federation of American Scientists menyebut uji coba rudal pada 2024 kemungkinan menggunakan rudal balistik DF-31 yang diluncurkan dari Provinsi Hainan di China selatan. Uji coba terbaru dari kapal selam menunjukkan bahwa Beijing kini semakin fokus memperkuat kemampuan serangan nuklir berbasis laut, sebuah elemen yang selama ini menjadi prioritas dalam modernisasi kekuatan strategisnya.

Di tengah meningkatnya ketidakpastian mengenai komitmen keamanan Amerika Serikat di Indo-Pasifik serta semakin intensifnya persaingan strategis antara Washington dan Beijing, peluncuran rudal balistik terbaru itu diperkirakan akan semakin mempercepat perlombaan modernisasi militer di kawasan. Bagi banyak negara Pasifik, uji coba tersebut bukan sekadar demonstrasi teknologi, melainkan sinyal bahwa kompetisi kekuatan besar di kawasan memasuki fase yang semakin terbuka dan berisiko.

RELATED

Leave a Reply

Popular