Amerika Serikat gempur 170 target, Iran balas serang pangkalan militer di Timur Tengah

Gelombang serangan terbaru menjadi eskalasi terbesar sejak kedua negara menyepakati gencatan senjata bulan lalu, sementara Iran terus menekan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Asap membumbung dari kawasan pelabuhan di Kuhestak, Iran, dekat Selat Hormuz.
Asap membumbung dari kawasan pelabuhan di Kuhestak, Iran, dekat Selat Hormuz, 8 Juli 2026, dalam cuplikan video yang diperoleh Reuters. Foto oleh Media Sosial/Reuters

Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat dalam saling serang udara yang menjadi salah satu eskalasi paling intens sejak kedua negara menyepakati gencatan senjata pada bulan lalu. Meski kedua pihak sama-sama mengancam akan meningkatkan operasi militer, Washington sejauh ini menjadi pihak yang melancarkan serangan paling besar, sementara Teheran membalas dengan serangan terbatas ke sejumlah pangkalan militer Amerika di Timur Tengah.

Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan telah menyerang sekitar 170 sasaran dalam dua hari terakhir. Target tersebut mencakup berbagai fasilitas militer dan infrastruktur di kota-kota pelabuhan Iran yang dinilai digunakan untuk mendukung operasi terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.

Sebaliknya, Iran meluncurkan serangan rudal balistik dan drone yang menyasar pangkalan militer Amerika Serikat di sejumlah negara kawasan Teluk. Sebagian besar serangan itu berhasil dicegat sistem pertahanan udara negara-negara sekutu Washington sehingga dampak fisiknya relatif terbatas.

Juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, mengatakan serangan udara Amerika di lima provinsi telah menewaskan sedikitnya 14 orang dan melukai 78 lainnya. Hingga Kamis, belum ada laporan korban jiwa akibat serangan balasan Iran terhadap pangkalan-pangkalan Amerika.

Perbedaan dampak tersebut mencerminkan ketimpangan kemampuan militer kedua negara. Iran menghadapi keterbatasan persenjataan serta sistem pertahanan udara yang telah melemah akibat konflik berkepanjangan, sementara Amerika Serikat tetap mempertahankan keunggulan udara dan kemampuan serangan presisi jarak jauh.

Meski demikian, para analis menilai besarnya kerusakan fisik bukan satu-satunya ukuran keberhasilan dalam konflik. Iran dinilai masih memiliki pengaruh strategis melalui kemampuannya mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar energi global.

Gangguan terhadap jalur pelayaran tersebut meningkatkan risiko terhadap perdagangan internasional sekaligus memberi tekanan ekonomi kepada negara-negara Barat dan sekutu mereka yang bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk.

Dalam operasi terbaru, CENTCOM menyebut sasaran serangan mencakup berbagai infrastruktur militer yang diyakini digunakan Iran untuk mendukung operasi terhadap kapal dagang. Rekaman video yang telah diverifikasi media internasional memperlihatkan kerusakan pada sebuah jembatan rel di dekat Kota Agh Qala, Iran utara.

Pejabat Iran juga melaporkan adanya serangan terhadap jalur kereta api lain yang menghubungkan Teheran dengan Kota Mashhad di timur laut negara itu. Jalur tersebut merupakan salah satu rute transportasi penting bagi penumpang dan logistik domestik.

Di Yordania, militer Iran mengklaim telah menargetkan Pangkalan Udara Muwaffaq Salti yang digunakan bersama oleh militer Yordania dan pasukan Amerika Serikat. Namun militer Yordania mengatakan delapan rudal berhasil dicegat di wilayah udaranya tanpa menimbulkan kerusakan berarti.

Iran juga mengumumkan telah menyerang pangkalan militer Amerika di Kuwait. Pemerintah Kuwait menyatakan berhasil mencegat tiga rudal balistik, satu rudal jelajah, serta 10 drone pada Kamis dini hari. Meski tidak ada korban jiwa, serpihan rudal dilaporkan melukai satu orang dan menyebabkan kerusakan material.

Di Bahrain, militer setempat mengatakan sistem pertahanan udara berhasil menghancurkan sejumlah rudal dan drone yang diluncurkan Iran sebelum mencapai sasaran.

Sementara itu, Iran juga menyebut telah menyerang wilayah Qatar, negara yang selama ini berperan sebagai mediator utama dalam perundingan antara Teheran dan Washington. Pemerintah Qatar tidak mengonfirmasi adanya serangan, tetapi sempat mengeluarkan peringatan keamanan kepada masyarakat sebelum mencabutnya beberapa jam kemudian.

Serangan rudal dan drone Iran terhadap negara-negara Arab di kawasan Teluk memang belum menimbulkan kerusakan besar. Namun, dampaknya dinilai meluas terhadap persepsi keamanan kawasan yang selama ini dipromosikan sebagai pusat bisnis, investasi, dan pariwisata internasional.

Konflik yang kembali memanas juga memberikan tekanan terhadap perekonomian negara-negara Teluk yang sangat bergantung pada sektor energi dan perdagangan. Ketidakpastian keamanan mendorong sejumlah negara mempertimbangkan kembali strategi pertahanan mereka sekaligus memperkuat kerja sama militer dengan sekutu Barat.

Dengan gelombang serangan terbaru ini, masa depan gencatan senjata yang disepakati bulan lalu semakin dipertanyakan. Meski belum ada indikasi kedua pihak akan kembali ke perang skala penuh, meningkatnya intensitas operasi militer menunjukkan bahwa ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih jauh dari penyelesaian.

RELATED

Leave a Reply

Popular