Ilustrasi orangutan bernama Sampurna yang menerima perawatan darurat setelah diselamatkan.

Orangutan dalam Kepungan Asap

Asap memaksa orangutan keluar dari habitatnya, memperlihatkan dampak kebakaran terhadap satwa dan ekosistem hutan.

Ilustrasi orangutan bernama Sampurna saat menerima perawatan darurat setelah diselamatkan dari kawasan perkebunan kelapa sawit dekat area yang terdampak kebakaran hutan di Kalimantan Barat. Sarah Oktaviany

Pada Minggu pagi di akhir Agustus, ketika sebagian besar manusia baru memulai hari, seekor orangutan ditemukan tergeletak lemah di sebuah kebun sawit masyarakat di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Ia tidak berada di kanopi pohon tempat orangutan biasanya menghabiskan sebagian besar hidupnya, tidak sedang mencari buah di antara tajuk hutan, dan tidak sedang bergerak perlahan dari satu pohon ke pohon lain dengan kedua lengannya yang panjang. Ia berada di tanah, dalam keadaan tidak berdaya, sementara asap kebakaran hutan dan lahan memenuhi ruang di sekelilingnya. Warga yang menemukannya melaporkan keberadaan satwa itu kepada petugas. Beberapa jam kemudian, tim penyelamat dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia bergerak menuju lokasi. Apa yang mereka temukan adalah gambaran kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar: ketika sebuah hutan terbakar, yang hilang bukan hanya batang pohon, melainkan seluruh sistem yang memungkinkan seekor orangutan hidup.

Orangutan kemudian diberi nama Sampurna. Nama itu terdengar seperti sebuah penutup yang terlalu cepat bagi sebuah cerita yang belum selesai. Di lokasi penemuan, tubuhnya menunjukkan bahwa ia sedang berada dalam keadaan yang serius. Tim medis memberikan oksigen dan cairan melalui infus. Pemeriksaan awal tidak menemukan luka terbuka maupun luka bakar yang terlihat pada tubuhnya. Tetapi ketiadaan luka di permukaan tidak berarti tidak ada kerusakan. Bagi dokter hewan yang menangani satwa liar, gangguan pernapasan dalam kondisi asap pekat dapat menjadi persoalan yang jauh lebih sulit dilihat daripada kulit yang terbakar. Paru-paru tidak dapat diperiksa hanya dengan melihat tubuh dari luar. Dampak terhadap sistem pernapasan, kadar oksigen dalam darah, dehidrasi, dan kemungkinan gangguan organ internal membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

Di situlah kisah Sampurna menjadi penting bagi ilmu konservasi. Orangutan tidak perlu disentuh api secara langsung untuk menjadi korban kebakaran. Mereka dapat terdampak karena udara yang mereka hirup berubah, karena sumber air menghilang, karena pepohonan yang menyediakan makanan terbakar, dan karena ruang hidup mereka terpecah. Seekor orangutan yang hidup di hutan tropis bergantung pada hubungan yang sangat rapat antara vegetasi, air, tanah, mikroklimat, dan ketersediaan makanan. Mengubah salah satu bagian dari sistem itu dapat memaksa satwa mengubah perilakunya. Jika kebakaran memusnahkan sumber makanan di satu wilayah, orangutan dapat bergerak lebih jauh untuk mencari pohon yang masih menghasilkan buah atau daun. Jika asap mengganggu kawasan tempat mereka berlindung, mereka dapat meninggalkan wilayah tersebut. Jika hutan yang tersisa berbatasan dengan perkebunan, perjalanan untuk bertahan hidup dapat membawa mereka ke tempat yang sebelumnya bukan bagian dari ruang jelajah mereka.

Sampurna telah terlihat oleh tim Orangutan Protection Unit YIARI pada pertengahan Agustus di sekitar kawasan tersebut. Saat itu, satwa itu masih bergerak aktif. Pengamatan tersebut memberikan satu detail penting yang sering hilang dalam berita tentang satwa yang ditemukan dalam keadaan darurat: perpindahan orangutan bukan selalu tanda bahwa satwa itu tersesat. Dalam banyak keadaan, pergerakan merupakan bagian normal dari strategi bertahan hidup. Orangutan mencari makanan, mengikuti perubahan musim buah, menghindari gangguan, mempertahankan ruang jelajah dan mencari tempat yang aman untuk beristirahat. Yang membuat situasi Sampurna berbeda adalah perubahan kondisi lanskap di sekelilingnya. Kebakaran dan asap dapat mengubah kualitas habitat dalam waktu yang jauh lebih cepat daripada kemampuan hutan untuk pulih.

Pada pagi ketika Sampurna ditemukan, kawasan berhutan di sekitar perkebunan masyarakat sedang mengalami kebakaran. Asap memenuhi udara. Tim penyelamat juga tidak menemukan sumber air di sekitar titik ditemukannya satwa tersebut. Dua keadaan itu—udara yang buruk dan keterbatasan air—menjadi petunjuk penting untuk memahami apa yang mungkin dialami orangutan itu. Tim medis menduga kondisinya berkaitan dengan paparan asap dan kekurangan cairan, meskipun pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan penyebab dan tingkat gangguan kesehatannya.

Bagi seorang primatolog, pemandangan seperti itu tidak berhenti pada tubuh seekor individu. Pertanyaan berikutnya selalu lebih besar: dari mana ia datang, apa yang sedang dicarinya, apa yang telah hilang dari habitatnya, dan ke mana ia akan pergi jika kawasan tempatnya hidup tidak lagi dapat menopangnya?

Orangutan adalah primata arboreal yang menghabiskan sebagian besar waktunya di atas pohon. Hutan bagi mereka bukan sekadar tempat tinggal. Hutan adalah infrastruktur kehidupan. Tajuk pohon menyediakan tempat berlindung, sumber makanan dan jalur pergerakan. Pohon-pohon besar memungkinkan orangutan membangun sarang untuk beristirahat. Vegetasi bawah menyediakan sumber makanan tertentu. Sungai, rawa dan cekungan air menyediakan bagian lain dari sistem ekologis yang menopang kehidupan hutan. Ketika kebakaran datang, kerusakan tidak berlangsung hanya pada satu lapisan. Tajuk dapat hilang, semak terbakar, tanah mengering, sumber makanan berkurang dan kualitas udara berubah pada saat bersamaan.

Orangutan memiliki kemampuan kognitif dan perilaku yang kompleks, tetapi kemampuan itu tidak membuat mereka kebal terhadap perubahan lingkungan yang terlalu cepat. Justru karena kehidupan mereka sangat bergantung pada lanskap hutan yang luas, fragmentasi habitat dapat menghasilkan tekanan yang panjang. Seekor orangutan yang meninggalkan hutan tidak otomatis menemukan habitat pengganti. Kebun sawit dapat menyediakan beberapa sumber makanan, tetapi tidak dapat menggantikan kompleksitas hutan hujan tropis. Di sana, pepohonan ditanam dalam pola yang seragam, struktur vegetasi berbeda dan sumber daya yang tersedia tidak sama dengan hutan alami.

Ketika seekor orangutan memasuki kebun masyarakat, respons manusia sering menjadi penentu antara hidup dan mati. Satwa itu dapat dianggap mengganggu tanaman, ditakuti, dikejar, diberi makanan, atau dilaporkan kepada petugas. Karena itu, konservasi tidak hanya membutuhkan kawasan hutan yang terlindungi. Ia membutuhkan masyarakat yang mengetahui apa yang harus dilakukan ketika satwa keluar dari habitatnya. Dalam kasus Sampurna, laporan warga memungkinkan petugas datang sebelum kondisi satwa menjadi lebih buruk.

Pertolongan pertama dilakukan dengan hati-hati. Tim melakukan pembiusan terukur agar pemeriksaan dan evakuasi dapat berlangsung aman bagi satwa maupun manusia. Dokter hewan mengambil sampel darah, feses dan rambut untuk pemeriksaan lebih lanjut. Sebuah microchip dipasang sebagai bagian dari identifikasi dan pemantauan individu. Setelah efek pembiusan berangsur hilang dan kondisi satwa memungkinkan, Sampurna dibawa ke pusat penyelamatan dan rehabilitasi YIARI di Sungai Awan Kiri.

Di sana, cerita tentang api berubah menjadi cerita tentang pemulihan. Tetapi pemulihan seekor orangutan tidak sama dengan memadamkan kebakaran. Api dapat dihentikan dalam beberapa jam atau hari. Hutan yang rusak membutuhkan waktu jauh lebih lama. Bahkan setelah asap menghilang dari udara, masalah bagi satwa belum tentu selesai. Sumber makanan mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk kembali. Struktur hutan berubah. Wilayah jelajah menyusut. Satwa lain yang menggunakan ruang yang sama harus mencari tempat baru. Dalam ekosistem tropis, dampak kebakaran dapat bertahan jauh setelah manusia tidak lagi melihat api.

Karena itu, Sampurna tidak semata-mata menjadi korban kebakaran. Ia menjadi semacam penunjuk ekologis—seekor individu yang memperlihatkan apa yang terjadi ketika gangguan pada lanskap mencapai titik di mana satwa harus meninggalkan tempat yang selama ini menopang kehidupannya.

Di tengah asap yang menggantung di Ketapang, seekor orangutan telah sampai pada batas paling sederhana dari ekologi: ketika hutan tidak lagi menyediakan udara yang aman untuk bernapas, satwa akan bergerak. Dan ketika tidak ada lagi tempat yang aman untuk dituju, perjalanan itu dapat berakhir di tanah, di antara manusia, dalam keadaan tidak berdaya.

Hutan Bukan Sekadar Pohon

Untuk memahami mengapa kebakaran dapat mendorong orangutan keluar dari hutan, kita perlu berhenti membayangkan habitat sebagai peta berwarna hijau. Dari udara, hutan tropis mungkin tampak seperti bentangan vegetasi yang utuh. Tetapi bagi orangutan, habitat adalah sesuatu yang jauh lebih rumit: jaringan pohon dengan ketinggian berbeda, sumber makanan yang berubah mengikuti musim, tempat tidur yang dapat dibangun setiap malam, koridor pergerakan, sumber air, tempat berlindung dan jarak tertentu dari gangguan manusia. Hutan yang kehilangan beberapa bagian mungkin masih tampak seperti hutan bagi mata manusia, tetapi bagi seekor orangutan, perubahan kecil pada struktur lanskap dapat mengubah cara seluruh ruang digunakan.

Orangutan memiliki hubungan yang sangat erat dengan pepohonan. Mereka bergerak dari satu bagian kanopi ke bagian lain, memanfaatkan tangan dan kaki untuk berpindah, mencari buah, daun, kulit kayu atau sumber makanan lainnya. Mereka juga membangun sarang di pepohonan sebagai tempat beristirahat. Kehidupan semacam itu membutuhkan vegetasi dengan struktur tertentu. Perkebunan monokultur tidak menyediakan fungsi yang sama. Sebuah lanskap yang telah kehilangan keragaman pohonnya mungkin masih menghasilkan tutupan hijau, tetapi nilai ekologisnya bagi orangutan dapat jauh lebih rendah.

Kebakaran memperumit keadaan tersebut. Api mengubah vegetasi secara langsung, tetapi juga mengubah hubungan antarelemen dalam ekosistem. Tanah menjadi lebih panas dan kering. Lapisan organik dapat terbakar. Sumber air dapat berkurang. Satwa mangsa dan pemakan tumbuhan berpindah. Serangga berubah distribusinya. Pohon yang bertahan mungkin mengalami stres. Ketika kebakaran berulang, kemampuan ekosistem untuk kembali ke kondisi semula semakin berkurang.

Di Kalimantan, persoalan itu menjadi sangat serius karena orangutan hidup dalam lanskap yang telah mengalami perubahan besar. Hutan yang dahulu membentuk bentang alam luas kini di banyak tempat terpotong oleh jalan, perkebunan, pertambangan, permukiman dan berbagai bentuk penggunaan lahan lainnya. Orangutan yang bertahan di dalam fragmen hutan menghadapi persoalan yang berbeda dengan populasi yang hidup di kawasan hutan luas. Mereka tidak hanya membutuhkan perlindungan dari perburuan dan konflik, tetapi juga membutuhkan konektivitas habitat.

Dalam ilmu konservasi, konektivitas merupakan salah satu konsep penting. Sebuah kawasan hutan tidak selalu dapat dipandang sebagai pulau yang berdiri sendiri. Satwa membutuhkan kemampuan bergerak di antara kawasan untuk mencari makanan, pasangan, tempat berlindung atau wilayah baru ketika kondisi berubah. Fragmentasi memutus jalur tersebut. Ketika kebakaran kemudian terjadi pada salah satu fragmen, satwa kehilangan pilihan untuk berpindah.

Itulah sebabnya orangutan yang muncul di perkebunan tidak seharusnya langsung dibaca sebagai masalah satwa liar yang memasuki wilayah manusia. Pertanyaan konservasi yang lebih tepat adalah: mengapa ia sampai harus berada di sana?

Pertanyaan itu tidak dimaksudkan untuk menghapus kemungkinan bahwa aktivitas satwa dapat menimbulkan konflik dengan manusia. Perkebunan masyarakat tetap harus dilindungi dari kerusakan, dan masyarakat berhak merasa aman. Tetapi konflik tidak muncul dari ruang kosong. Ia biasanya merupakan hasil pertemuan dua kebutuhan yang bertabrakan: manusia membutuhkan lahan untuk hidup, sementara satwa membutuhkan habitat untuk bertahan.

Ketika hutan kehilangan kemampuan menyediakan kebutuhan dasar, garis antara habitat dan kawasan produksi menjadi semakin kabur.

Sampurna ditemukan di perkebunan sawit masyarakat pada saat kawasan di sekitarnya mengalami kebakaran. Urutan ini penting. Ia menunjukkan bahwa kemunculan orangutan di luar hutan dapat berkaitan dengan perubahan lingkungan yang terjadi di belakangnya. Sebelumnya, tim YIARI telah melihat satwa tersebut bergerak aktif. Kemudian, ketika kebakaran dan asap meningkat, satwa itu ditemukan dalam keadaan sangat lemah. Tanpa pemeriksaan ekologi yang lebih panjang, tidak mungkin menyatakan dengan kepastian mutlak bahwa kebakaran adalah satu-satunya alasan perpindahannya. Tetapi kondisi lapangan memberikan alasan kuat untuk mencurigai bahwa kebakaran dan asap memainkan peran penting.

Primatologi tidak bekerja dengan satu foto atau satu kejadian. Ilmu itu bekerja dengan pola perilaku, kondisi habitat, riwayat individu dan perubahan lanskap. Karena itu, satu orangutan yang ditemukan dalam kondisi kritis dapat menjadi bagian dari informasi yang lebih besar ketika ditempatkan dalam konteks yang tepat.

Ada pertanyaan lain yang juga penting: apa yang terjadi kepada orangutan yang tidak ditemukan?

Tim penyelamat hanya dapat bekerja berdasarkan laporan dan pemantauan. Satwa yang masuk ke perkebunan dan terlihat manusia memiliki peluang untuk diselamatkan. Satwa yang tetap berada di dalam kawasan terbakar, bergerak lebih jauh ke wilayah terpencil atau mati tanpa pernah ditemukan tidak masuk ke dalam catatan penyelamatan. Karena itu, jumlah individu yang berhasil dievakuasi tidak selalu menggambarkan keseluruhan dampak ekologis.

Dalam konteks itulah konservasi orangutan tidak dapat hanya bergantung pada pusat rehabilitasi. Pusat penyelamatan sangat penting, terutama untuk satwa yang sakit, terluka, kehilangan habitat atau berada dalam konflik dengan manusia. Tetapi setiap orangutan yang harus dievakuasi juga membawa pertanyaan tentang mengapa intervensi itu diperlukan.

Tujuan konservasi yang paling ideal bukan memindahkan sebanyak mungkin orangutan ke fasilitas rehabilitasi. Tujuannya adalah memastikan orangutan dapat tetap hidup di habitat alami yang aman sehingga penyelamatan darurat tidak menjadi kebutuhan rutin.

Di Ketapang, upaya itu berhadapan dengan kondisi yang sangat kompleks. Kebakaran tidak hanya terjadi di hutan yang tidak dihuni manusia. Ia dapat muncul dalam lanskap yang terdiri atas berbagai bentuk penggunaan lahan yang saling berdampingan. Di satu sisi terdapat kawasan berhutan; di sisi lain perkebunan masyarakat; di tempat lain terdapat konsesi perusahaan atau wilayah yang telah mengalami perubahan fungsi. Bagi satwa, batas administratif itu tidak selalu terlihat.

Orangutan tidak mengenal batas konsesi. Ia tidak mengetahui apakah pohon yang masih menyediakan makanan berada di dalam kawasan konservasi, hutan produksi, perkebunan masyarakat atau wilayah lainnya. Ia hanya mengikuti kebutuhan biologisnya.

Inilah salah satu alasan mengapa konservasi orangutan harus bekerja pada skala lanskap. Melindungi satu petak hutan tetapi membiarkan kawasan di sekitarnya terfragmentasi dapat menghasilkan perlindungan yang tidak sempurna. Koridor perlu dijaga. Habitat kritis perlu dipulihkan. Area dengan nilai konservasi tinggi perlu dipertahankan. Konflik manusia-satwa harus dikelola sebelum menjadi kekerasan. Dan kebakaran harus dicegah bukan hanya ketika api telah terlihat, tetapi sejak kondisi yang memungkinkan kebakaran terbentuk.

Dalam kasus kebakaran gambut, persoalan itu menjadi semakin rumit. Gambut bukan tanah biasa. Ia merupakan akumulasi bahan organik yang terbentuk selama waktu sangat panjang dalam kondisi basah. Ketika tata airnya berubah dan lahan mengering, gambut menjadi jauh lebih mudah terbakar. Api dapat menjalar melalui lapisan organik dan menghasilkan asap dalam jumlah besar. Bagi orangutan yang hidup di sekitar bentang tersebut, perubahan hidrologi berarti perubahan habitat jauh sebelum api muncul.

Kebakaran dengan demikian merupakan gejala dari perubahan ekologis yang telah terjadi sebelumnya.

Asap yang membuat Sampurna tidak sadarkan diri adalah fase terakhir dari rangkaian proses yang jauh lebih panjang. Di belakang satu pagi yang penuh kepanikan itu terdapat perubahan tata air, kehilangan tutupan hutan, fragmentasi habitat, tekanan manusia dan kondisi iklim yang memperbesar kerentanan lanskap. Tubuh seekor orangutan hanya memperlihatkan hasil akhirnya.

Udara yang Tidak Terlihat

Asap adalah bagian dari kebakaran yang sering terasa paling dekat dengan manusia. Ia masuk melalui jendela, menempel pada pakaian, mengaburkan pandangan dan membuat mata perih. Ketika konsentrasinya meningkat, manusia mulai mencari masker, menutup ventilasi dan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Bagi satwa liar, pilihan itu hampir tidak tersedia.

Seekor orangutan tidak dapat meninggalkan kawasan hanya karena kualitas udara memburuk tanpa konsekuensi ekologis. Ia mungkin berpindah ke lokasi lain, tetapi perpindahan itu membutuhkan energi. Jika sumber makanan terbatas, perjalanan panjang dapat memperburuk kondisi tubuh. Jika seluruh kawasan di sekitarnya tertutup asap, tidak ada jaminan bahwa tempat baru akan memiliki udara yang lebih baik. Jika satwa turun ke tanah untuk mencari jalur alternatif, risiko baru muncul.

Sampurna memberikan gambaran yang ekstrem tentang persoalan tersebut. Ketika ditemukan, ia berada dalam kondisi lemah dan tidak sadarkan diri. Tim medis memberikan oksigen karena mengalami gangguan pernapasan. Dugaan paparan asap menjadi salah satu penjelasan yang perlu diperiksa lebih lanjut.

Dalam kedokteran satwa liar, asap kebakaran merupakan campuran kompleks. Partikel halus dapat masuk ke saluran pernapasan, sementara gas tertentu yang dihasilkan pembakaran dapat mengganggu kemampuan tubuh menggunakan oksigen. Tingkat risiko bergantung pada komposisi asap, durasi paparan, konsentrasi polutan, jarak dari sumber api, kondisi fisik satwa dan kemampuan individu menghindari paparan.

Karena itu, menyebut seekor orangutan “tercekik asap” menggambarkan keadaan secara sederhana, tetapi proses biologis di baliknya jauh lebih rumit. Gangguan pernapasan dapat berkembang tanpa luka yang terlihat. Satwa dapat mengalami hipoksia, dehidrasi atau stres fisiologis. Pemulihan juga tidak selalu selesai ketika satwa sudah dapat bernapas dengan lebih baik.

Pemeriksaan Sampurna menjadi penting karena tubuhnya dapat menyimpan jejak dari apa yang telah dialaminya. Sampel darah, feses dan rambut dapat membantu dokter hewan memahami kondisi kesehatan individu. Pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk melihat kemungkinan dampak terhadap paru-paru dan organ lain.

Tetapi ada satu persoalan yang lebih sulit: dampak kesehatan jangka panjang pada orangutan liar akibat paparan asap belum mudah dihitung.

Sebagian besar pengetahuan tentang dampak asap berasal dari manusia dan beberapa spesies lain. Untuk satwa liar yang hidup jauh dari fasilitas medis, pengamatan sistematis jauh lebih sulit. Kita jarang mengetahui berapa lama seekor individu terpapar, seberapa tinggi konsentrasi asap yang dihirup, atau apakah ia kemudian mengalami gangguan kronis. Banyak satwa tidak pernah ditemukan.

Ketidakpastian itu seharusnya tidak diterjemahkan sebagai ketiadaan risiko. Dalam konservasi, ketiadaan data bukan bukti bahwa dampak tidak ada.

Ada pula efek ekologis yang lebih perlahan. Asap mengurangi jarak pandang dan dapat mengubah perilaku. Satwa yang mengandalkan penglihatan untuk bergerak di antara pepohonan mungkin menghadapi kondisi yang berbeda dari biasanya. Aktivitas makan dapat terganggu. Satwa mungkin mengurangi pergerakan karena kualitas udara buruk atau karena api berada di dekatnya. Orangutan yang biasanya menggunakan kanopi dapat turun atau berpindah melalui jalur yang tidak biasa ketika habitatnya terganggu.

Setiap perubahan perilaku memiliki biaya.

Orangutan adalah satwa dengan laju reproduksi yang relatif lambat. Individu betina membutuhkan waktu panjang untuk membesarkan anak, dan interval antarkelahiran panjang. Karena itu, kehilangan satu individu dewasa bukan hanya kehilangan satu tubuh dari populasi. Dalam perspektif populasi, hilangnya individu reproduktif dapat memiliki konsekuensi yang jauh lebih besar daripada kematian satwa dengan laju reproduksi tinggi.

Inilah mengapa perlindungan orangutan tidak dapat dinilai hanya dari jumlah individu yang masih terlihat. Populasi membutuhkan struktur umur, individu yang mampu bereproduksi, habitat yang cukup dan konektivitas ekologis.

Kebakaran menekan semua unsur itu secara bersamaan.

Ketika hutan terbakar, orangutan kehilangan makanan. Ketika mereka berpindah, mereka dapat memasuki wilayah yang tidak biasa. Ketika mereka mendekati perkebunan, risiko konflik meningkat. Ketika konflik meningkat, kebutuhan akan penyelamatan meningkat. Dan ketika satwa harus menjalani rehabilitasi, pertanyaan berikutnya adalah apakah masih tersedia habitat yang cukup aman untuk tempat mereka kembali.

Pusat rehabilitasi dapat menyelamatkan individu, tetapi tidak dapat menggantikan ekosistem.

Di Sungai Awan Kiri, Sampurna memasuki tahap yang berbeda dari perjalanannya. Tim YIARI harus mengamati kondisinya, memastikan fungsi tubuhnya membaik dan menilai kemungkinan pemulihan. Jika seluruh kondisi medis stabil dan satwa dianggap mampu kembali hidup di alam, pelepasliaran dapat menjadi tujuan. Tetapi pelepasliaran bukan sekadar membuka kandang dan membiarkan orangutan masuk ke hutan.

Ada proses panjang untuk menentukan lokasi yang sesuai, ketersediaan habitat, keamanan kawasan, potensi konflik dan kemampuan individu bertahan. Riwayat kesehatan dan perilaku juga diperhitungkan. Satwa yang terlalu lama bergantung pada manusia mungkin memerlukan tahapan rehabilitasi sebelum dilepas.

Dengan demikian, api yang terlihat selama satu atau dua hari dapat menciptakan pekerjaan konservasi selama bertahun-tahun.

Ini adalah salah satu ironi terbesar dalam pengelolaan kebakaran hutan. Negara dan masyarakat sering mengukur keberhasilan melalui sesuatu yang terlihat: berapa hektare terbakar, berapa titik api dipadamkan, berapa helikopter dikerahkan atau berapa satwa diselamatkan. Tetapi banyak kerugian ekologis tidak terlihat dalam angka tersebut.

Tidak ada satu tabel sederhana yang dapat menunjukkan hilangnya pengalaman ekologis seekor orangutan dewasa. Tidak mudah menghitung nilai pohon yang membutuhkan puluhan tahun untuk mencapai ukuran tertentu. Tidak mudah menghitung hilangnya sumber makanan musiman atau jalur pergerakan yang selama bertahun-tahun digunakan oleh satwa.

Hutan memiliki waktu yang berbeda dari manusia.

Api bergerak cepat. Pemulihan bergerak lambat.

Ketika api membakar sebuah kawasan, manusia mungkin menghitung kerugian berdasarkan luas. Seorang primatolog akan melihat lebih jauh: berapa banyak pohon makanan yang hilang, berapa banyak sarang yang rusak, berapa banyak koridor yang terputus, berapa banyak individu yang terpaksa bergerak, dan apakah habitat yang tersisa masih cukup untuk mempertahankan populasi dalam jangka panjang.

Pertanyaan itu membawa kita kembali kepada Sampurna.

Ia ditemukan bukan karena hutan tiba-tiba berhenti menjadi habitat, melainkan karena habitatnya kemungkinan mengalami tekanan yang cukup besar sehingga keberadaan di luar kawasan hutan menjadi salah satu bagian dari ceritanya. Tubuhnya kemudian memberikan bukti yang paling sederhana dan paling menyakitkan: udara yang biasanya menjadi bagian tak terlihat dari habitat telah berubah menjadi ancaman.

Bagi manusia, asap adalah gangguan yang bisa dihindari dengan meninggalkan rumah atau masuk ke ruangan tertutup. Bagi orangutan, udara adalah bagian dari habitat yang tidak dapat dipisahkan dari pohon tempat mereka hidup.

Ketika udara itu tidak lagi aman, hutan telah kehilangan salah satu fungsi dasarnya.

Jalan Keluar yang Tidak Selalu Ada

Orangutan yang memasuki perkebunan sering kali terlihat seperti satwa yang keluar dari jalur. Tetapi dari perspektif lanskap, mungkin justru manusialah yang telah mengubah jalur tersebut terlebih dahulu.

Pembangunan jalan, pembukaan lahan dan perubahan tutupan hutan menciptakan mosaik baru yang tidak pernah dirancang untuk mengikuti kebutuhan satwa. Di atas peta administrasi, setiap bidang tanah memiliki fungsi dan pemilik. Di mata orangutan, yang ada hanyalah ruang yang menyediakan atau tidak menyediakan makanan dan tempat berlindung.

Perbedaan cara melihat lanskap itu merupakan sumber penting konflik konservasi.

Perkebunan sawit, misalnya, tidak selalu berarti bahwa tidak ada vegetasi sama sekali. Pepohonan tetap tumbuh, tetapi jenis, umur, struktur dan kerapatan vegetasinya berbeda. Bagi manusia, sebuah perkebunan mungkin tampak hijau dan produktif. Bagi orangutan, nilai habitatnya tidak dapat disamakan dengan hutan hujan alami.

Ketika hutan di sekitarnya terbakar, perkebunan dapat menjadi salah satu ruang yang tersedia untuk pergerakan satwa. Ini menciptakan paradoks. Satwa meninggalkan habitat untuk mencari tempat yang lebih aman, tetapi tempat yang ditujunya merupakan kawasan produksi yang juga memiliki risiko konflik.

Di titik inilah respons masyarakat menjadi sangat penting.

Dalam kasus Sampurna, seorang warga menemukan satwa tersebut dan melaporkannya. Tindakan sederhana itu memungkinkan lembaga konservasi melakukan intervensi. Jika masyarakat mengejar, memukul atau mencoba menangkap satwa sendiri, situasi dapat berubah menjadi jauh lebih berbahaya. Orangutan yang tertekan dapat mempertahankan diri, sementara manusia yang tidak memiliki peralatan dan pengetahuan memadai dapat terluka.

Karena itu, pesan agar masyarakat tidak menangani satwa liar sendiri bukan sekadar formalitas. Ia merupakan bagian dari sistem keselamatan konservasi.

Jarak adalah alat pertama.

Ketika orangutan muncul di dekat manusia, masyarakat perlu memberi ruang, tidak memberi makanan dan menghubungi petugas. Makanan yang diberikan manusia dapat mengubah perilaku satwa dan meningkatkan ketergantungannya. Interaksi berulang dapat membuat satwa kehilangan kewaspadaan terhadap manusia, justru ketika manusia mungkin tidak selalu berniat baik.

Dalam jangka panjang, konservasi membutuhkan hubungan yang lebih rumit daripada sekadar meminta masyarakat “menjaga orangutan.” Masyarakat juga harus mendapatkan dukungan ketika satwa memasuki lahan mereka. Kerugian tanaman, risiko keselamatan dan ketidakpastian ekonomi tidak dapat diabaikan. Konflik yang dibiarkan dapat membentuk persepsi bahwa keberadaan orangutan adalah beban.

Karena itu, konservasi orangutan harus memperlakukan masyarakat sebagai bagian dari sistem, bukan sekadar penjaga yang diminta membantu program konservasi.

Persoalan itu semakin penting ketika kebakaran terjadi berulang. Satu kejadian dapat ditangani dengan tim penyelamat. Tetapi jika lanskap yang sama terus terbakar, tim penyelamat akan selalu bekerja di hilir. Mereka memindahkan satwa dari bahaya satu demi satu, sementara sumber bahayanya tetap ada.

Di sinilah perbedaan antara penyelamatan dan konservasi menjadi sangat jelas.

Penyelamatan bertanya: bagaimana menyelamatkan individu ini?

Konservasi bertanya: bagaimana memastikan individu seperti ini tidak perlu diselamatkan lagi?

Jawaban kedua jauh lebih sulit.

Ia membutuhkan perlindungan habitat, pencegahan kebakaran, tata kelola lanskap dan pengawasan terhadap aktivitas manusia. Ia juga membutuhkan data tentang pergerakan satwa sehingga koridor penting dapat dipertahankan. Ketika satwa mulai mendekati perkebunan, tim konservasi perlu mengetahui apakah kawasan tersebut merupakan jalur pergerakan yang berulang atau hanya perpindahan sementara akibat gangguan.

Teknologi dapat membantu. Kamera jebak, pelacakan individu, citra satelit dan pemetaan tutupan lahan memungkinkan peneliti melihat perubahan yang tidak selalu dapat diamati dari tanah. Tetapi teknologi hanya berguna jika informasi tersebut diterjemahkan menjadi keputusan.

Sebuah peta yang menunjukkan kawasan penting bagi orangutan tidak akan menyelamatkan hutan jika tidak menjadi dasar perlindungan. Data hotspot tidak mencegah kebakaran jika tidak diikuti patroli dan tindakan. Laporan satwa yang masuk perkebunan tidak menyelesaikan konflik jika tidak ada mekanisme respons yang cepat.

Konservasi selalu berakhir pada pertanyaan tentang tindakan.

Kalimantan Barat merupakan salah satu wilayah penting dalam konservasi orangutan. Lanskapnya memiliki hutan, gambut, sungai, perkebunan, desa dan berbagai bentuk penggunaan lahan yang saling bertaut. Tekanan terhadap satu bagian dapat memengaruhi bagian lain. Kebakaran di satu kawasan dapat menghasilkan asap di kawasan lain. Hilangnya hutan di satu titik dapat mempersempit pilihan pergerakan satwa di tempat lain.

Karena itu, konservasi tidak dapat hanya dilakukan dalam batas sebuah kawasan konservasi.

Orangutan tidak membaca papan nama taman nasional. Mereka tidak berhenti di batas administrasi ketika mencari pohon makanan. Mereka bergerak berdasarkan kebutuhan biologis. Perlindungan harus mengikuti kenyataan ekologis itu.

Dalam konteks kebakaran, kebutuhan tersebut menjadi semakin mendesak. Ketika asap menyebar, habitat tidak lagi dapat dinilai hanya berdasarkan apakah pohon masih berdiri. Kualitas udara menjadi bagian dari habitat. Air menjadi bagian dari habitat. Suhu dan kelembaban menjadi bagian dari habitat. Ketersediaan makanan setelah kebakaran menjadi bagian dari habitat.

Hutan yang masih tampak hijau dari udara belum tentu menjadi hutan yang sehat bagi orangutan.

Inilah alasan mengapa istilah “luas terbakar” saja tidak cukup untuk memahami kerugian konservasi. Dua kawasan dengan luas kebakaran sama dapat menghasilkan dampak yang sangat berbeda. Kebakaran pada padang rumput yang kemudian pulih mungkin berbeda dengan kebakaran pada hutan rawa gambut yang membutuhkan waktu sangat panjang untuk kembali. Kebakaran di tepi habitat dapat memaksa satwa berpindah. Kebakaran yang memutus koridor dapat menciptakan isolasi populasi.

Konteks ekologis menentukan akibatnya.

Sampurna ditemukan pada saat konteks tersebut sedang berubah dengan cepat. Ia bukan sekadar orangutan yang kebetulan berada di kebun. Ia adalah individu yang berada di persimpangan antara hutan yang terbakar, kawasan produksi manusia dan sistem penyelamatan satwa liar.

Peristiwa seperti ini juga menunjukkan pentingnya masyarakat sebagai sensor ekologis. Warga sering menjadi orang pertama yang melihat satwa ketika mereka memasuki kawasan manusia. Mereka mengetahui perubahan yang terjadi di sekitar tempat tinggal mereka. Mereka dapat melihat asap, mendengar suara satwa atau menemukan jejak sebelum tim konservasi datang.

Jika hubungan antara masyarakat dan lembaga konservasi berjalan baik, laporan semacam itu dapat menjadi sistem peringatan dini.

Tetapi sistem itu membutuhkan kepercayaan. Masyarakat harus yakin bahwa melaporkan satwa akan menghasilkan bantuan, bukan masalah baru. Petugas harus dapat merespons dengan cepat. Pemerintah harus memiliki mekanisme yang jelas. Dan satwa harus diperlakukan sebagai bagian dari ekosistem, bukan sekadar objek yang dipindahkan.

Sampurna beruntung karena seseorang melihatnya.

Namun konservasi tidak boleh bergantung pada keberuntungan.

Setelah Api Padam

Ada kecenderungan untuk menganggap akhir dari kebakaran sebagai akhir dari bencana. Ketika api tidak lagi terlihat, asap menipis dan petugas meninggalkan lokasi, perhatian publik perlahan bergeser ke persoalan lain. Bagi hutan dan satwa liar, fase itu justru dapat menjadi awal dari periode yang panjang dan sunyi.

Pohon-pohon yang terbakar tidak langsung tumbuh kembali. Sumber makanan tidak segera tersedia. Tanah yang kehilangan kelembaban tidak serta-merta pulih. Sungai dan rawa membutuhkan waktu untuk kembali pada kondisi tertentu. Satwa yang telah berpindah mungkin tidak kembali ke tempat semula. Dan bagi orangutan, perubahan tersebut dapat berlangsung lebih lama daripada satu musim kebakaran.

Sampurna memperlihatkan mengapa fase setelah kebakaran harus menjadi bagian dari konservasi.

Setelah dievakuasi ke pusat rehabilitasi, perhatian pertama adalah kesehatan individu. Dokter hewan harus memantau pernapasan, hidrasi dan fungsi organ. Tetapi ketika kondisi medis membaik, pertanyaan ekologis segera muncul: apakah ia dapat kembali ke alam?

Jawabannya tidak sederhana.

Pelepasliaran orangutan membutuhkan habitat yang sesuai dan aman. Kawasan tersebut harus memiliki sumber makanan yang cukup, tutupan hutan yang memadai, risiko konflik yang dapat dikelola dan kondisi ekologis yang memungkinkan satwa bertahan. Jika habitat asalnya masih terbakar atau telah berubah secara permanen, mengembalikan satwa ke tempat yang sama dapat menjadi keputusan yang berisiko.

Karena itu, rehabilitasi dan perlindungan habitat harus berjalan bersama.

Sebuah pusat penyelamatan dapat merawat seekor individu selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Tetapi fasilitas tersebut tidak dapat menciptakan hutan tropis dari awal. Ia tidak dapat menggantikan puluhan tahun pertumbuhan pohon besar dalam waktu singkat. Ia tidak dapat menciptakan jaringan makanan dan interaksi ekologis yang sama dengan hutan alami.

Setiap kali orangutan diselamatkan dari kebakaran, kebutuhan akan rehabilitasi mengingatkan kita bahwa ekosistem jauh lebih sulit dipulihkan daripada individu.

Ini juga berlaku pada aspek genetik dan populasi. Fragmentasi habitat dapat membuat kelompok orangutan semakin terisolasi. Ketika populasi kecil terpisah oleh perkebunan, jalan atau kawasan terbuka, kesempatan pertukaran gen dapat menurun. Dalam jangka panjang, isolasi dapat meningkatkan kerentanan populasi terhadap perubahan lingkungan dan gangguan lainnya.

Kebakaran dapat memperburuk fragmentasi yang sudah ada.

Bayangkan sebuah bentang hutan sebagai jaringan ruang yang memungkinkan satwa bergerak. Ketika bagian tengah jaringan terbakar, jalur yang tersisa menjadi lebih sempit. Jika kebakaran terjadi berulang, ruang aman semakin berkurang. Satwa dapat terkonsentrasi pada fragmen yang tersisa. Kompetisi terhadap sumber makanan meningkat. Pergerakan menuju kawasan manusia menjadi lebih mungkin.

Dengan demikian, satu kebakaran tidak selalu menghasilkan satu dampak. Ia dapat menciptakan kondisi yang membuat kebakaran berikutnya menjadi lebih berbahaya.

Siklus itu penting dalam memahami konservasi orangutan di Kalimantan.

Ancaman terbesar tidak selalu datang dalam bentuk satu bencana besar. Kadang-kadang ancaman bekerja sebagai akumulasi gangguan kecil: sedikit hutan hilang, satu koridor terputus, satu kawasan mengering, kemudian terbakar; perkebunan meluas, jalan dibangun, konflik meningkat; beberapa individu mati, beberapa lainnya dipindahkan. Dalam beberapa dekade, populasi dapat mengalami perubahan besar tanpa satu peristiwa tunggal yang menjelaskan semuanya.

Karena itu, primatologi modern tidak dapat dipisahkan dari studi lanskap.

Peneliti perlu memahami perilaku individu sekaligus proses yang membentuk habitat. Mereka perlu mengamati bagaimana orangutan menggunakan ruang, bagaimana perubahan vegetasi memengaruhi makanan, bagaimana manusia menggunakan lahan dan bagaimana gangguan seperti kebakaran mengubah pola pergerakan.

Kisah Sampurna berada tepat di persimpangan itu.

Ia merupakan individu dengan kondisi medis tertentu, tetapi juga bagian dari populasi yang lebih besar. Ia memiliki riwayat pergerakan yang telah dipantau tim YIARI. Ia kemudian ditemukan dalam keadaan lemah ketika kebakaran sedang berlangsung. Ia dievakuasi, diperiksa dan diberi identitas melalui microchip. Semua tindakan tersebut penting. Tetapi informasi yang terkumpul juga dapat digunakan untuk memahami hubungan antara kebakaran dan pergerakan satwa di lanskap tersebut.

Dalam konservasi berbasis bukti, setiap penyelamatan dapat menjadi sumber pengetahuan.

Kapan satwa mulai bergerak? Dari arah mana ia datang? Apakah individu lain terlihat di kawasan yang sama? Apakah ada sumber makanan yang hilang? Apakah jalur pergerakan berulang? Apakah kawasan yang sama mengalami kebakaran sebelumnya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu memperkirakan lokasi konflik berikutnya.

Pencegahan terbaik sering kali dimulai dengan memahami kejadian yang sudah terjadi.

Jika kebakaran menyebabkan orangutan bergerak ke perkebunan, maka kawasan perbatasan antara hutan dan perkebunan perlu mendapatkan perhatian khusus selama musim kering. Jika sumber air hilang, maka ketersediaan air di habitat satwa menjadi bagian dari mitigasi. Jika kebakaran berulang di lokasi yang sama, maka penyebab ekologis dan tata kelolanya harus diperiksa.

Konservasi tidak dapat berhenti pada respons darurat.

Hal yang sama berlaku untuk kebijakan kebakaran. Pemadaman tetap diperlukan. Operasi darat dan udara dapat menyelamatkan hutan yang masih tersisa. Tetapi pencegahan harus mendapat bobot yang sama. Ekosistem yang masih basah lebih sulit terbakar daripada ekosistem yang telah dikeringkan. Hutan yang tidak terfragmentasi lebih mampu menyediakan ruang bagi satwa untuk menghindari gangguan. Koridor yang terlindungi memberi pilihan ketika terjadi kebakaran.

Dengan kata lain, perlindungan habitat adalah bentuk pencegahan bencana.

Perspektif itu mengubah cara kita memandang konservasi orangutan. Melindungi orangutan bukan hanya menyelamatkan individu yang terjebak di kebun. Ia berarti menjaga kondisi yang memungkinkan individu tersebut tidak perlu meninggalkan hutan.

Ketika seekor orangutan ditemukan di kebun, pertanyaan publik biasanya adalah bagaimana membawanya kembali ke hutan. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: hutan seperti apa yang akan menunggunya?

Jika habitat masih utuh, pelepasliaran dapat menjadi akhir yang masuk akal. Jika habitat rusak, prosesnya menjadi jauh lebih kompleks. Jika kebakaran terus berulang, bahkan hutan yang tampak tersedia di peta mungkin tidak lagi aman.

Sampurna belum sampai pada akhir perjalanan itu. Penanganan medis hanyalah satu tahap. Observasi dan pemulihan akan menentukan tahap berikutnya. Jika ia pulih dan kondisi ekologis memungkinkan, ada kemungkinan ia kembali ke alam. Tetapi kepastian itu tidak dapat dibuat hanya berdasarkan keberhasilan medis.

Tubuh dapat pulih lebih cepat daripada hutan.

Dan perbedaan waktu itulah yang sering tidak terlihat dalam pemberitaan tentang kebakaran.

Apa yang Tinggal Setelah Asap

Pada akhirnya, kisah Sampurna bukan terutama tentang seekor orangutan yang pingsan di sebuah perkebunan. Ia adalah cerita tentang batas-batas yang perlahan menghilang: batas antara hutan dan perkebunan, antara kebakaran dan krisis kesehatan, antara perubahan iklim dan kerusakan habitat, antara penyelamatan individu dan kegagalan melindungi ekosistem.

Asap hanya membuat batas itu terlihat.

Selama bertahun-tahun, kebakaran hutan dan lahan di Indonesia sering dibicarakan melalui angka. Jumlah titik panas, luas area terbakar, jumlah personel, jumlah helikopter, jumlah desa terdampak, atau jumlah satwa yang diselamatkan. Angka-angka tersebut penting. Tetapi angka memiliki keterbatasan. Ia dapat menunjukkan skala, tetapi tidak selalu menunjukkan pengalaman ekologis.

Seekor orangutan yang kehilangan habitat tidak mengalami “sekian hektare” kehilangan. Ia kehilangan pohon tertentu yang biasa digunakan untuk makan. Ia kehilangan tempat yang mungkin dipakai untuk membangun sarang. Ia kehilangan jalur menuju sumber air. Ia kehilangan bagian dari ruang yang dikenalnya. Ketika semua itu berubah dalam waktu singkat, perilakunya ikut berubah.

Sampurna memberi wajah pada proses yang biasanya hanya terlihat sebagai data.

Ia ditemukan dalam kondisi lemah di tengah asap. Ia membutuhkan oksigen dan cairan. Ia harus dibius agar dapat dievakuasi dengan aman. Sampel biologis diambil untuk mengetahui kondisinya. Ia dibawa ke pusat rehabilitasi. Semua langkah itu menunjukkan kemampuan manusia untuk menyelamatkan kehidupan ketika keadaan darurat terjadi.

Tetapi konservasi yang berhasil tidak seharusnya diukur hanya dari kemampuan menyelamatkan setelah bencana.

Ukuran yang lebih penting adalah apakah kita mampu mengurangi jumlah keadaan darurat yang harus ditangani.

Itu berarti menjaga hutan sebelum terbakar. Mempertahankan koridor sebelum terputus. Menjaga gambut tetap basah sebelum musim kering. Mengelola kawasan perbatasan antara habitat dan perkebunan. Membangun mekanisme respons masyarakat yang cepat. Dan memastikan bahwa kegiatan manusia di sekitar habitat orangutan tidak menciptakan tekanan yang melampaui kemampuan ekosistem untuk bertahan.

Dalam perspektif primatologi, habitat bukan latar belakang cerita. Habitat adalah bagian dari tubuh ekologis satwa.

Ketika hutan berubah, perilaku berubah. Ketika perilaku berubah, risiko konflik berubah. Ketika konflik meningkat, kemungkinan penyelamatan dan kematian meningkat. Karena itu, perlindungan orangutan harus dimulai jauh sebelum satwa terlihat oleh manusia.

Ada pula dimensi etika yang tidak dapat diabaikan. Orangutan merupakan salah satu kerabat evolusioner manusia yang paling dekat. Kemampuan kognitif mereka, kehidupan sosial dan perilaku kompleks telah lama menjadi objek penelitian. Tetapi alasan utama untuk melindungi mereka tidak harus bergantung pada seberapa mirip mereka dengan manusia. Mereka memiliki nilai ekologis sebagai bagian dari hutan dan memiliki hak untuk tetap hidup dalam habitatnya tanpa dipaksa keluar oleh kerusakan yang diciptakan manusia.

Orangutan juga memainkan fungsi ekologis tertentu. Sebagai pemakan buah dan penyebar biji, mereka berinteraksi dengan regenerasi hutan. Pergerakan mereka membantu memindahkan biji dari satu tempat ke tempat lain. Hilangnya orangutan karena itu bukan hanya persoalan hilangnya satu spesies dari daftar satwa dilindungi. Ia merupakan bagian dari perubahan hubungan ekologis dalam hutan.

Jika populasi terus menurun, kita kehilangan lebih dari individu.

Kita kehilangan proses.

Itulah sebabnya kebakaran di Kalimantan Barat harus dilihat dengan skala yang lebih panjang daripada satu pekan di akhir Agustus. Api dapat muncul dan padam dalam rentang waktu yang relatif singkat. Tetapi konsekuensinya bagi orangutan dapat berlangsung jauh lebih lama. Pohon makanan yang mati harus digantikan oleh regenerasi. Habitat yang terfragmentasi membutuhkan restorasi. Populasi yang terisolasi membutuhkan konektivitas. Individu yang sakit membutuhkan perawatan.

Dan semua itu membutuhkan sumber daya.

Dalam konteks tersebut, pencegahan selalu lebih masuk akal daripada penyelamatan yang terlambat. Menjaga habitat tetap utuh lebih murah secara ekologis daripada mencoba menggantikannya. Mencegah kebakaran lebih efektif daripada memindahkan satwa setelah habitat terbakar. Menjaga koridor lebih baik daripada mencari lokasi baru setelah populasi terisolasi.

Namun pencegahan membutuhkan sesuatu yang tidak dapat disediakan oleh satu pusat rehabilitasi: keputusan politik dan tata kelola lanskap yang konsisten.

Konservasi orangutan tidak akan berhasil jika kawasan habitat terus kehilangan fungsi ekologisnya. Program penyelamatan dapat diperkuat, dokter hewan dapat ditambah, fasilitas rehabilitasi dapat diperbesar, dan teknologi pemantauan dapat dikembangkan. Semua itu penting. Tetapi jika sumber tekanan tidak dikurangi, sistem konservasi akan terus bekerja seperti layanan darurat yang tidak pernah kehabisan pasien.

Setiap musim kebakaran dapat menghasilkan Sampurna berikutnya.

Dan mungkin ada individu lain yang tidak pernah ditemukan.

Inilah bagian paling sunyi dari bencana ekologis. Kita mengetahui apa yang terlihat, tetapi tidak selalu mengetahui apa yang hilang. Kita mengetahui satwa yang berhasil dievakuasi karena ada manusia yang melihatnya. Kita tidak selalu mengetahui satwa yang mati jauh dari jalan, di dalam hutan yang terbakar, atau berpindah ke kawasan yang tidak lagi dapat dipantau.

Ketidaklengkapan itu seharusnya menjadi alasan untuk memperkuat perlindungan, bukan alasan untuk menganggap dampaknya kecil.

Di Ketapang, masyarakat yang menemukan Sampurna melakukan sesuatu yang sederhana: mereka melaporkan seekor satwa yang membutuhkan pertolongan. Respons BKSDA dan YIARI kemudian mengubah kemungkinan akhir cerita. Satwa itu mendapat oksigen, cairan, pemeriksaan dan tempat untuk dirawat.

Itu adalah keberhasilan yang layak dicatat.

Tetapi keberhasilan tersebut seharusnya tidak membuat kita lupa pada pertanyaan yang lebih besar.

Mengapa seekor orangutan harus menghirup asap hingga kehilangan kesadaran sebelum sistem konservasi bekerja?

Pertanyaan itu bukan tuduhan terhadap tim penyelamat. Justru sebaliknya. Mereka bekerja pada titik paling sulit, ketika kerusakan sudah terjadi dan pilihan semakin sedikit. Pertanyaan tersebut diarahkan pada sistem yang lebih luas: bagaimana memastikan habitat orangutan tetap cukup aman sehingga satwa tidak perlu keluar dalam keadaan darurat?

Jawabannya terletak pada pencegahan.

Pencegahan kebakaran. Perlindungan gambut. Restorasi hutan. Pengawasan lanskap. Penegakan aturan. Pengelolaan perkebunan yang bertanggung jawab. Pemeliharaan koridor. Pendidikan masyarakat. Respons cepat terhadap konflik. Pemantauan satwa. Dan, yang paling mendasar, pengakuan bahwa hutan bukan ruang kosong yang menunggu untuk dikonversi.

Hutan adalah rumah bagi sistem kehidupan yang telah berkembang jauh sebelum batas administratif manusia dibuat.

Ketika rumah itu terbakar, penghuninya akan mencari jalan keluar.

Kadang mereka menemukan perkebunan. Kadang mereka menemukan desa. Kadang mereka ditemukan warga. Kadang mereka diselamatkan.

Dan kadang tidak ada seorang pun yang melihat.

Sampurna setidaknya ditemukan.

Pada pagi itu, ketika asap menggantung di atas lanskap Ketapang, tubuh seekor orangutan memperlihatkan sesuatu yang biasanya tidak terlihat oleh satelit: batas kemampuan sebuah ekosistem untuk menanggung tekanan. Api mungkin membakar vegetasi, tetapi krisis yang sebenarnya berada lebih dalam. Ia berada pada hubungan antara hutan dan air, antara habitat dan perkebunan, antara satwa dan manusia, antara pencegahan dan respons.

Jika Sampurna akhirnya pulih dan suatu hari kembali ke hutan, kepulangannya akan menjadi kabar baik. Tetapi makna konservasi tidak berhenti di sana. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika hutan tempat ia kembali tetap berdiri, sungai masih menyediakan air, pohon-pohon masih menghasilkan makanan, dan udara tidak lagi menjadi ancaman.

Sebab bagi seekor orangutan, kebebasan bukan hanya kemampuan untuk berjalan kembali ke hutan.

Kebebasan adalah memiliki hutan yang masih layak untuk ditinggali.

Dan bagi manusia, mungkin ukuran paling jujur dari keberhasilan konservasi bukanlah berapa banyak satwa yang berhasil kita selamatkan dari api, melainkan apakah kita mampu menjaga agar mereka tidak perlu melarikan diri dari api sejak awal.

Comments

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari The Yogya Post

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca