
Ratusan ribu pelayat memenuhi jalan-jalan di kota suci Najaf dan Karbala, Irak, Rabu, untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Mereka melantunkan doa, menangis, dan berdesakan mengikuti iring-iringan kendaraan yang membawa peti jenazah ulama yang selama hampir empat dekade menjadi tokoh paling berpengaruh dalam politik dan kepemimpinan Syiah di Iran. Prosesi tersebut menjadi salah satu rangkaian pemakaman terbesar di kawasan dalam beberapa tahun terakhir dan memperlihatkan besarnya pengaruh Iran di Irak maupun Timur Tengah.
Pemakaman di Irak berlangsung setelah lima hari masa berkabung nasional di Iran menyusul tewasnya Ayatollah Khamenei dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Februari lalu yang memicu perang antara kedua negara. Setelah rangkaian upacara di Irak selesai, jenazah dijadwalkan diterbangkan kembali ke Iran untuk dimakamkan pada Kamis di kota kelahirannya, Mashhad, di wilayah timur laut negara itu.
Di Najaf, ribuan orang telah berkumpul sejak dini hari untuk mendapatkan posisi terbaik di sepanjang rute prosesi. Banyak di antara mereka datang dari berbagai provinsi di Irak, bahkan menempuh perjalanan semalaman demi mengikuti penghormatan terakhir terhadap tokoh yang mereka anggap sebagai pelindung komunitas Syiah di kawasan.
“Saya datang dari Baghdad pukul 03.00 pagi. Beliau adalah pelindung kami, dan hari ini kami datang untuk membalas jasa itu,” kata Rabab Jassim, seorang ibu rumah tangga berusia 45 tahun yang tak kuasa menahan air mata ketika menyaksikan iring-iringan jenazah.
Prosesi di Najaf dipimpin menuju kompleks Makam Imam Ali, salah satu situs paling suci dalam Islam Syiah. Massa yang membludak menyebabkan kepadatan luar biasa ketika ribuan pelayat berusaha memasuki area makam. Beberapa aparat keamanan terjatuh akibat desakan massa, sementara sejumlah pelayat yang pingsan harus dievakuasi dengan digendong oleh warga lain di tengah suhu udara yang melampaui 32 derajat Celsius sejak pagi.
Menjelang sore, iring-iringan bergerak menuju Karbala, kota yang menjadi lokasi Makam Imam Hussein dan Abbas. Di sepanjang perjalanan, peti jenazah yang dibungkus bendera Iran dan dilindungi kaca diangkut menggunakan kendaraan khusus yang dihiasi berbagai simbol keagamaan. Arus manusia yang terus bertambah membuat konvoi berjalan sangat lambat.
Di berbagai titik, massa meneriakkan slogan-slogan dukungan kepada Iran dan kecaman terhadap Amerika Serikat maupun Israel. Sejumlah pengeras suara menyerukan persatuan umat Syiah, sementara para pelayat mengangkat foto-foto Ayatollah Khamenei dan bendera Iran berdampingan dengan bendera Irak.
Pemakaman tersebut juga dihadiri peziarah dari berbagai negara. Di antara kerumunan tampak rombongan warga Lebanon yang membawa bendera Hizbullah, peziarah asal Yaman dengan pakaian tradisional, serta sejumlah perempuan dari Nigeria yang menggendong bayi mereka sambil mengikuti prosesi.
Samir Rabyani, seorang tenaga medis asal Sanaa, Yaman, mengatakan dirinya sengaja memilih menghadiri prosesi di Irak dibandingkan di Iran karena menganggap Najaf dan Karbala memiliki makna spiritual yang lebih mendalam bagi umat Syiah.
“Khamenei wafat sebagai syuhada. Bagi kami, berada di tempat-tempat suci ini memberikan makna yang jauh lebih besar,” ujarnya.
Sebagai pemimpin tertinggi Iran sejak 1989, Ayatollah Khamenei bukan hanya mengendalikan arah politik dalam negeri, tetapi juga membangun jaringan sekutu regional yang membentang dari Irak, Lebanon, Suriah hingga Yaman. Melalui dukungan terhadap berbagai kelompok bersenjata Syiah, Teheran memperluas pengaruhnya selama puluhan tahun dan menjadikan Irak sebagai salah satu pilar utama strategi regionalnya.
Di Irak sendiri, warisan Khamenei memunculkan penilaian yang beragam. Banyak warga Syiah memandang Iran sebagai sekutu penting yang membantu melawan kelompok Negara Islam atau ISIS ketika organisasi ekstremis itu menguasai sebagian besar wilayah Irak pada 2014. Namun di sisi lain, sebagian kalangan menilai campur tangan Iran memperdalam ketegangan sektarian yang berlangsung selama bertahun-tahun antara komunitas Syiah dan Sunni.
Bagi Ibrahim Enad, seorang insinyur berusia 30 tahun, bantuan Iran saat menghadapi ISIS menjadi alasan utama dirinya mengikuti pemakaman tersebut.
“Saya kehilangan sahabat akibat ISIS. Kami tidak pernah melupakan bagaimana Iran membantu Irak pada saat paling sulit,” katanya.
Prosesi di Irak juga dipandang sebagai pesan politik yang kuat. Dalam tiga tahun terakhir, Amerika Serikat dan Israel berupaya melemahkan jaringan kelompok bersenjata yang selama ini mendapat dukungan Iran, termasuk Hizbullah di Lebanon dan kelompok Houthi di Yaman. Sejak pertengahan 2025, kedua negara juga meningkatkan tekanan militer terhadap Iran melalui dua konflik besar yang mengguncang kawasan.
Meski demikian, besarnya kehadiran massa di Najaf dan Karbala memperlihatkan bahwa pengaruh politik dan ideologis Teheran masih memiliki basis kuat di Irak. Kelompok-kelompok milisi Syiah yang selama ini bersekutu dengan Iran turut mengerahkan anggotanya dalam prosesi tersebut.
Ali Ramadan, anggota salah satu milisi Syiah Irak, mengatakan kehadirannya bersama keluarga merupakan bentuk solidaritas terhadap Iran.
“Pesan kami sederhana. Kami tidak tunduk kepada Amerika atau Israel. Kami berdiri bersama Iran karena kami percaya Khamenei membela keadilan,” ujarnya.
Sejumlah pengamat menilai penyelenggaraan pemakaman resmi pemimpin Iran di Irak merupakan peristiwa yang sangat jarang terjadi dalam hubungan internasional. Arash Azizi, sejarawan yang meneliti Iran, mengatakan penyelenggaraan prosesi di dua kota suci Syiah menunjukkan upaya Teheran menempatkan Ayatollah Khamenei sebagai figur yang bukan hanya milik Iran, melainkan simbol seluruh komunitas Syiah dunia.

Di sepanjang rute prosesi, spanduk-spanduk besar menampilkan wajah Ayatollah Khamenei berdampingan dengan Imam Hussein, cucu Nabi Muhammad SAW yang gugur dalam Pertempuran Karbala pada tahun 680 M. Dalam tradisi Syiah, kisah Imam Hussein melambangkan perjuangan melawan kezaliman meski harus menghadapi kematian.
Banyak pelayat menyamakan kematian Khamenei dengan kisah tersebut. Abbas Jassim, seorang petugas keamanan berusia 26 tahun, bahkan mengatakan dirinya rela menjual perhiasan anaknya demi membiayai perjalanan ke Karbala.
“Saya menjual anting anak perempuan saya agar bisa datang ke sini. Saya mencintai Ali Khamenei dan rela mengorbankan apa pun untuk menghormatinya,” katanya.
Selama prosesi berlangsung, ribuan warga bertahan di jalanan sepanjang malam dengan mendirikan tenda-tenda sederhana. Sebagian mengenakan pakaian hitam berkabung, sementara yang lain mengibarkan bendera Irak dan Iran secara bersamaan. Para tokoh suku, anggota milisi, hingga keluarga biasa ikut membaur dalam kerumunan yang terus memenuhi dua kota suci tersebut.
Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Irak bukan sekadar upacara penghormatan bagi seorang kepala negara yang wafat. Prosesi itu juga menjadi simbol pertarungan pengaruh yang masih berlangsung di Timur Tengah, memperlihatkan bahwa meskipun Iran menghadapi tekanan militer dan diplomatik yang semakin besar, jaringan politik, militer, dan keagamaannya di kawasan masih memiliki daya mobilisasi yang signifikan. Dengan berakhirnya prosesi di Najaf dan Karbala sebelum jenazah diterbangkan kembali ke Mashhad, Iran sekaligus mengirimkan pesan bahwa warisan politik Khamenei akan terus menjadi bagian penting dari dinamika geopolitik kawasan.