Jenazah Ayatollah Ali Khamenei dibawa ke Qom sebelum dimakamkan di Mashhad

Rangkaian penghormatan kenegaraan berlanjut di pusat pendidikan Syiah Iran ketika ribuan pelayat mengiringi jenazah Ayatollah Ali Khamenei, sementara warisan politik dan keagamaannya kembali menjadi sorotan.

Warga Iran menghadiri upacara penghormatan terakhir bagi Ali Khamenei di Qom, Iran.
Warga Iran menghadiri upacara penghormatan terakhir bagi mantan pemimpin Iran Ali Khamenei di Qom, Iran, pada 7 Juli 2026. Foto oleh Handout/Anadolu/Getty Images

Jenazah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tiba di Kota Qom pada Selasa sebagai bagian dari rangkaian penghormatan kenegaraan yang berlangsung selama beberapa hari setelah tokoh tertinggi Republik Islam itu tewas dalam serangan Amerika Serikat dan Israel pada Februari lalu. Prosesi di kota yang menjadi pusat pendidikan Islam Syiah tersebut menjadi salah satu tahapan penting sebelum jenazah dibawa ke sejumlah kota suci di Irak dan akhirnya dimakamkan di kampung halamannya, Mashhad, pada Kamis.

Kedatangan jenazah di Qom menyusul tiga hari masa berkabung nasional di Teheran. Selama prosesi di ibu kota, ratusan ribu warga memadati jalan-jalan untuk memberikan penghormatan terakhir. Banyak pelayat terlihat menangis di hadapan peti jenazah, sementara sebagian lainnya meneriakkan seruan balas dendam atas kematian Khamenei yang terjadi pada awal perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Media pemerintah Iran menayangkan gambar ribuan warga yang memenuhi jalan-jalan di Qom untuk menyambut iring-iringan jenazah. Kota itu memiliki arti simbolis yang sangat besar bagi komunitas Syiah karena selama puluhan tahun menjadi pusat pendidikan agama sekaligus tempat lahir banyak ulama berpengaruh di Iran.

Salat jenazah resmi dilaksanakan di Masjid Jamkaran, salah satu lokasi yang dianggap suci oleh banyak umat Syiah. Upacara tersebut dipimpin Ayatollah Abdullah Javadi Amoli, seorang ulama konservatif senior yang termasuk sedikit tokoh tersisa dari generasi pemimpin Revolusi Islam Iran 1979.

Setelah prosesi di Qom selesai, jenazah Khamenei dijadwalkan dibawa ke sejumlah kota suci di Irak sebelum akhirnya kembali ke Iran untuk dimakamkan di Mashhad, kota kelahirannya sekaligus salah satu pusat ziarah terpenting bagi umat Islam Syiah.

Pemilihan Qom sebagai salah satu lokasi utama penghormatan bukan tanpa alasan. Kota tersebut memainkan peran sentral dalam sejarah politik modern Iran dan menjadi basis utama pendidikan ulama Syiah selama lebih dari satu abad.

Pada dekade 1960-an dan 1970-an, Qom menjadi pusat perlawanan terhadap pemerintahan monarki Shah Mohammad Reza Pahlavi. Dari kota inilah Ayatollah Ruhollah Khomeini memimpin gerakan oposisi yang kemudian melahirkan Revolusi Islam 1979 dan mengubah Iran menjadi republik berbasis sistem pemerintahan Islam.

Banyak ulama yang menempuh pendidikan di Qom kemudian menduduki posisi penting dalam pemerintahan baru setelah revolusi berhasil menggulingkan monarki.

Sebagai penerus Ayatollah Ruhollah Khomeini sejak 1989, Ayatollah Ali Khamenei tidak hanya menjabat sebagai pemimpin politik tertinggi dan panglima tertinggi angkatan bersenjata Iran. Ia juga membangun legitimasi sebagai ulama senior yang fatwa dan pandangan keagamaannya memiliki pengaruh besar di kalangan umat Syiah.

Kewenangan tersebut berakar pada konsep velayat-e faqih, atau perwalian ahli fikih Islam, yang menjadi fondasi sistem politik Republik Islam Iran. Berdasarkan konsep itu, seorang ulama Syiah memiliki otoritas tertinggi dalam urusan negara sekaligus agama.

Namun, posisi tersebut tidak diperoleh Khamenei tanpa kontroversi.

Menjelang pengangkatannya sebagai pemimpin tertinggi pada 1989, Khamenei masih berstatus ulama tingkat menengah. Ia kemudian dinaikkan ke tingkat ayatollah sehingga memenuhi syarat untuk menduduki jabatan tertinggi dalam sistem politik Iran.

Selama lebih dari tiga dekade memimpin negara, Khamenei memperluas pengaruh pemerintah terhadap lembaga-lembaga keagamaan di Qom.

Ia mengawasi pengelolaan keuangan lembaga pendidikan agama, sistem administrasi ulama, hingga proses pendidikan para calon ulama sehingga banyak institusi keagamaan menjadi semakin bergantung pada negara.

Di bawah kepemimpinannya pula dibentuk dan diperkuat Pengadilan Khusus Ulama, sebuah lembaga yang menangani perkara yang melibatkan kalangan rohaniwan.

Lembaga tersebut sejak lama menjadi sasaran kritik kelompok reformis dan organisasi hak asasi manusia yang menilai pengadilan itu tidak memiliki dasar konstitusional yang jelas serta beroperasi secara tertutup. Menurut para pengkritik, pengadilan tersebut kerap digunakan untuk menghukum ulama yang mengemukakan pandangan berbeda dari pemerintah.

Salah satu tokoh agama paling berpengaruh yang pernah berselisih dengan Khamenei adalah Grand Ayatollah Hossein Ali Montazeri.

Montazeri sebelumnya dipandang sebagai calon kuat penerus Ayatollah Ruhollah Khomeini. Namun, ia kehilangan dukungan politik setelah secara terbuka mengkritik perlakuan pemerintah terhadap tahanan politik serta eksekusi massal yang terjadi pada dekade 1980-an.

Sebagai ulama dengan peringkat tertinggi dalam hierarki keagamaan Syiah, pandangan Montazeri memiliki pengaruh luas di kalangan masyarakat.

Pada dekade 1990-an, Khamenei menempatkan Montazeri dalam tahanan rumah selama beberapa tahun.

Meski berada di bawah pembatasan ketat, Montazeri tetap menjadi salah satu suara kritis paling menonjol terhadap pemerintahan Republik Islam. Ia menilai para pemimpin Iran telah menyimpang dari cita-cita awal revolusi dan secara terbuka mendukung demonstrasi antipemerintah yang berlangsung pada 2009, termasuk mengeluarkan fatwa yang mendukung reformasi politik dan perlindungan hak asasi manusia.

Ketika Montazeri meninggal dunia pada tahun yang sama, ratusan ribu orang menghadiri pemakamannya di Qom. Prosesi tersebut berubah menjadi salah satu demonstrasi oposisi terbesar terhadap pemerintahan Khamenei sejak Revolusi Islam.

Kerumunan warga membawa bendera dan poster saat upacara penghormatan terakhir bagi Ali Khamenei di Qom, Iran.
Kerumunan besar membawa bendera dan poster memenuhi jalan dari Masjid Jamkaran menuju Makam Fatima Masumeh saat upacara penghormatan terakhir di Qom, Iran, pada 7 Juli 2026. Foto oleh Handout/Anadolu/Getty Images

Kini, lebih dari satu dekade kemudian, kota yang sama kembali menjadi pusat perhatian nasional ketika masyarakat Iran mengiringi jenazah Ayatollah Ali Khamenei. Prosesi itu tidak hanya menjadi momen penghormatan kepada pemimpin yang memerintah selama hampir 37 tahun, tetapi juga menandai berakhirnya salah satu era paling menentukan dalam sejarah Republik Islam Iran.

Di tengah duka nasional dan ketegangan politik yang masih membayangi pascaperang dengan Amerika Serikat dan Israel, rangkaian pemakaman Khamenei dipandang sebagai simbol kesinambungan sistem Republik Islam sekaligus ujian bagi kepemimpinan baru yang akan membawa Iran memasuki babak berikutnya dalam sejarah politik dan keagamaannya.

Related

Tinggalkan Balasan

Popular