
Peluncuran rudal balistik jarak jauh dari kapal selam nuklir China ke Samudra Pasifik pada Senin dinilai sebagai tonggak penting dalam modernisasi kekuatan nuklir Beijing. Melalui satu peluncuran tersebut, Presiden Xi Jinping mengirimkan pesan bahwa China semakin mendekati kemampuan penuh membangun nuclear triad, yakni sistem persenjataan nuklir yang mampu diluncurkan dari darat, udara, dan laut.
Uji coba tersebut berlangsung ketika militer China masih berupaya memulihkan citranya setelah bertahun-tahun diguncang pemberhentian sejumlah komandan senior akibat dugaan korupsi dan ketidaksetiaan kepada Partai Komunis. Meski demikian, media pemerintah menggambarkan keberhasilan peluncuran rudal itu sebagai bukti bahwa modernisasi militer tetap berjalan sesuai rencana.
Surat kabar Global Times, yang berada di bawah kendali Partai Komunis China, menyebut peluncuran tersebut sebagai peningkatan besar bagi kemampuan nuklir nasional.
“Triad nuklir nasional kita kembali mengalami peningkatan,” tulis media itu dalam laporannya pada Selasa.
Mengutip seorang pakar militer China, media tersebut juga menyatakan bahwa kekuatan nuklir berbasis laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) kini mampu melaksanakan serangan balasan strategis secara stabil dan andal dari mana saja di perairan luas Samudra Pasifik.
Namun, sejumlah analis menilai klaim tersebut masih terlalu berlebihan.
Meski kemampuan China terus berkembang pesat, kapal selam nuklir negara itu dinilai belum mampu beroperasi secara senyap dan tidak terdeteksi sebagaimana armada kapal selam Amerika Serikat maupun Rusia.
Meski demikian, uji coba tersebut tetap dipandang sebagai indikasi kuat bahwa Beijing semakin serius memperluas kemampuan nuklir bawah laut sekaligus mulai meninggalkan sikap hati-hatinya dalam menguji rudal jarak jauh di ruang udara dan perairan internasional.
Evan S. Medeiros, profesor di Georgetown University sekaligus mantan Direktur Senior Urusan Asia di Dewan Keamanan Nasional Amerika Serikat pada pemerintahan Presiden Barack Obama, mengatakan peluncuran itu memiliki makna teknis sekaligus politik.
Menurutnya, dari sisi teknis China perlu memvalidasi kemampuan operasional rudal balistik kapal selam generasi terbaru. Namun, dari sisi strategis, Beijing ingin menunjukkan kepada dunia bahwa mereka kini memiliki triad nuklir yang semakin lengkap.
“China sedang menguji batas-batas strategi pertahanan Amerika Serikat,” katanya.
Selama beberapa dekade, arsenal nuklir China jauh lebih kecil dibandingkan Amerika Serikat maupun Rusia. Sebagian besar uji coba rudal berhulu ledak nuklir juga dilakukan di wilayah daratan China.
Peluncuran Senin merupakan uji coba rudal jarak jauh melintasi Samudra Pasifik yang baru ketiga kalinya dilakukan China. Sebelumnya, peluncuran serupa terjadi pada 1980 dan kembali dilakukan pada 2024 setelah jeda selama empat dekade.
Seiring bertambahnya jumlah dan variasi persenjataan nuklir Beijing, para pakar memperkirakan frekuensi uji coba semacam ini akan meningkat.
Selain bertujuan memperkuat kemampuan militer, peluncuran terbaru dinilai juga menjadi pesan strategis kepada Washington serta negara-negara Indo-Pasifik bahwa China kini mampu memproyeksikan kekuatan militernya jauh melampaui kawasan pesisirnya.
Hingga kini pemerintah China belum mengungkap lokasi pasti kapal selam yang meluncurkan rudal tersebut.
Otoritas maritim China sebelumnya hanya mengeluarkan peringatan mengenai potensi bahaya di perairan lepas pantai utara dan tenggara negara itu.
Dua pejabat pemerintah di kawasan Indo-Pasifik yang mengetahui hasil penilaian awal mengatakan rudal kemungkinan diluncurkan dari Laut China Selatan.
Namun, sejumlah analis lainnya memperkirakan peluncuran justru dilakukan dari kawasan Teluk Bohai di pesisir timur laut China. Dari sana rudal diperkirakan menempuh lintasan lebih dari 6.900 kilometer sebelum akhirnya jatuh di perairan dekat Kepulauan Solomon.
Pemerintah Jepang memastikan rudal tersebut tidak melintasi wilayah udara maupun zona ekonomi eksklusif negaranya.
Justin Bassi, mantan penasihat keamanan nasional Australia yang kini memimpin Australian Strategic Policy Institute, mengatakan Beijing sedang menunjukkan kemampuan militernya kepada dunia.
“China sedang memberi tahu dunia bahwa mereka memiliki tongkat yang sangat besar untuk mendominasi Pasifik,” katanya.
Ia juga mengaitkan uji coba tersebut dengan meningkatnya ketegangan diplomatik China terhadap Australia dan Jepang, termasuk setelah Canberra menandatangani perjanjian keamanan baru dengan Fiji.
Menurut Bassi, Beijing tidak menginginkan semakin banyak negara Pasifik mengikuti langkah Australia dan Jepang dalam membangun pengaruh untuk membendung ekspansi China.
Meski demikian, para ahli menilai uji coba rudal seperti ini membutuhkan persiapan selama berbulan-bulan sehingga bukan merupakan respons spontan terhadap perkembangan politik terbaru.
Motivasi utama Beijing dinilai tetap berfokus pada upaya mengejar ketertinggalan dari Amerika Serikat dalam kemampuan nuklir berbasis laut.
Berbeda dengan rudal darat yang berkembang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir, armada kapal selam nuklir China selama ini dianggap sebagai titik terlemah sistem pencegahan nuklir negara tersebut.
Kapal selam nuklir memperoleh kekuatan strategisnya dari kemampuan beroperasi secara senyap sehingga sulit dideteksi lawan.
Selama bertahun-tahun, kapal selam nuklir China dikenal menghasilkan tingkat kebisingan yang tinggi sehingga relatif mudah dideteksi melalui sistem sonar milik negara lain.
Bruce Jones dari Brookings Institution mengatakan Beijing kini menginvestasikan sumber daya besar untuk mengejar ketertinggalan tersebut.
“China berlomba mengejar kualitas dan siap melampaui negara lain dalam jumlah armada,” katanya.
Menurut Jones, peningkatan kemampuan tersebut kemungkinan akan diikuti oleh lebih banyak uji coba di masa mendatang.
Komandan Office of Naval Intelligence Amerika Serikat, Laksamana Muda Mike Brookes, sebelumnya mengatakan kepada Kongres bahwa China kini memiliki sekitar 14 kapal selam bertenaga nuklir, enam di antaranya mampu membawa senjata nuklir.
Sebagai perbandingan, Amerika Serikat mengoperasikan sekitar 70 kapal selam nuklir, meski China terus meningkatkan kapasitas produksinya.
Pemerintah China juga belum mengungkap jenis kapal selam maupun rudal yang digunakan dalam peluncuran terbaru tersebut.
Sejumlah pakar memperkirakan rudal itu ditembakkan dari kapal selam Type 094, model paling modern yang saat ini banyak digunakan Angkatan Laut PLA.
Rudal yang digunakan diyakini merupakan JL-3, rudal balistik antarbenua yang mampu membawa hulu ledak nuklir dan telah diperlihatkan kepada publik dalam parade militer besar di Beijing tahun lalu.
Departemen Pertahanan Amerika Serikat sebelumnya menyatakan rudal JL-3 telah mulai ditempatkan pada kapal selam Type 094.
Sementara itu, China juga tengah mengembangkan generasi kapal selam baru yang diperkirakan memiliki tingkat kesenyapan jauh lebih tinggi dibandingkan Type 094.
Andrew Erickson, profesor di U.S. Naval War College, menulis bahwa teknologi pengurangan kebisingan kapal selam China memang belum sempurna, tetapi mengalami kemajuan yang konsisten.
Menurutnya, pendekatan Beijing dalam meningkatkan kemampuan siluman kapal selam berlangsung secara menyeluruh dan terus berkembang.
Sejumlah pakar memperkirakan China akan semakin sering menggelar uji coba rudal balistik kapal selam di Samudra Pasifik meskipun peluncuran terbaru menuai kritik dari Jepang, Filipina, Taiwan, Australia dan Amerika Serikat.
William Alberque, mantan direktur pusat pengendalian senjata NATO yang kini menjadi analis senior Pacific Forum, mengatakan sebagian besar uji coba rudal China selama ini masih dilakukan ke wilayah pedalaman.
Sebaliknya, Amerika Serikat secara rutin melakukan lima hingga sepuluh peluncuran uji rudal Minuteman dan Trident melintasi Samudra Pasifik setiap tahun, sementara Rusia umumnya menguji rudalnya dari Laut Barents menuju wilayah timur negara tersebut.
Menurut Alberque, lokasi peluncuran terbaru China juga mencerminkan penerapan strategi bastion, yaitu menempatkan kapal selam nuklir di perairan yang dekat dengan pantai sendiri dan dilindungi oleh sistem pertahanan berlapis dari ancaman deteksi maupun serangan musuh.
Dari wilayah perlindungan tersebut, rudal JL-3 diyakini memiliki jangkauan yang cukup untuk menyerang sebagian besar wilayah pantai barat Amerika Serikat tanpa kapal selam harus berlayar jauh ke tengah Samudra Pasifik.
Strategi itu, menurut para analis, menunjukkan bahwa Beijing tidak hanya berupaya memperbesar arsenal nuklirnya, tetapi juga membangun kemampuan serangan balasan yang lebih kredibel. Jika tren modernisasi tersebut terus berlanjut, uji coba Senin kemungkinan hanya menjadi awal dari fase baru pengembangan kekuatan nuklir bawah laut China yang diperkirakan akan semakin intensif dalam beberapa tahun mendatang.