Pada malam hari, Tel Aviv dalam “NAZA” tidak tampak seperti kota yang sedang berada di dalam sebuah perang. Lampu-lampu apartemen menyala di antara gedung-gedung tinggi, kendaraan bergerak di jalan yang terang, konstruksi baru membentuk garis-garis tegas di kejauhan, sementara kehidupan sehari-hari berlangsung di balik jendela: orang makan, berjalan, berbicara, beristirahat, dan menonton televisi. Dari ketinggian atap gedung tempat Yuval Abraham dan Rachel Szor merekam sebagian besar filmnya, kota itu terlihat seperti salah satu pusat metropolitan modern, dengan segala tanda kemakmuran, mobilitas, dan rasa aman yang biasanya melekat pada sebuah kota yang percaya bahwa dirinya berada jauh dari medan perang. Justru karena itu, keputusan kedua sutradara untuk tidak memulai “NAZA” dengan gambar kehancuran Gaza menjadi sangat menentukan. Mereka tidak membawa penonton langsung ke reruntuhan. Mereka membawa penonton ke tempat dari mana perang itu, dalam banyak hal, direncanakan, dianalisis, dibicarakan, dibenarkan, dan kemudian disaksikan melalui layar. Film ini memenangkan Special Jury Prize di Festival Film Venesia setelah pemutaran perdananya pada 10 September, dan sejak itu respons terhadapnya berkembang jauh melampaui perdebatan mengenai sebuah dokumenter.
Judul “NAZA” sendiri berasal dari singkatan istilah Ibrani nezek agavi, dalam bahasa Inggris collateral damage, yang digunakan dalam lingkungan militer Israel untuk menunjukkan jumlah korban sipil yang diperkirakan dapat timbul dari sebuah serangan atau bisa disebut kerusakan tambahan atau “kerusakan kolateral”. Dengan demikian, sejak judulnya, film ini sudah berhadapan dengan persoalan bahasa: bagaimana kematian dapat dimasukkan ke dalam sebuah sistem klasifikasi sehingga manusia yang akan mati tidak lagi hadir sebagai manusia, melainkan sebagai angka yang melekat pada sebuah target. Dalam bentuk paling sederhana, istilah semacam itu mungkin tampak seperti kebutuhan operasional. Perang memang membutuhkan perkiraan risiko, aturan keterlibatan, evaluasi sasaran, dan perhitungan kemungkinan korban. Namun persoalan moral muncul ketika bahasa yang dirancang untuk membantu mengendalikan kekerasan justru dapat membuat kekerasan lebih mudah dikelola sebagai prosedur. Di situlah “NAZA” menemukan pintu masuknya. Film ini bukan terutama tentang apakah teknologi dapat membunuh tanpa manusia. Ia justru lebih mengganggu karena memperlihatkan kemungkinan yang berlawanan: manusia tetap berada di dalam proses, tetapi teknologi dan birokrasi memungkinkan mereka menjalankan keputusan mematikan dengan jarak yang semakin jauh dari manusia yang akan menanggung akibatnya.
Abraham sebelumnya menulis investigasi mengenai mekanisme penargetan dalam perang Gaza untuk +972 Magazine dan Local Call, termasuk laporan mengenai penggunaan sistem berbasis data seperti Lavender dan cara sistem tersebut dilaporkan digunakan dalam proses identifikasi target. Investigasi itu mendapat bantahan dari militer Israel, yang menolak gambaran bahwa teknologi akal imitasi (AI) secara mandiri menentukan sasaran atau bahwa serangan dilakukan tanpa keputusan manusia. Dalam perkembangan terbaru menjelang perilisan film, IDF juga menyatakan bahwa mereka belum menonton “NAZA” secara penuh ketika sejumlah kritik dan kecaman politik sudah muncul, dan meminta kesempatan untuk melihat film tersebut sebelum memberikan tanggapan substantif. Fakta itu penting karena memperlihatkan bahwa pertarungan mengenai film berlangsung pada dua tingkat yang berbeda. Tingkat pertama adalah pertanyaan substantif: bagaimana sebenarnya sistem penargetan bekerja? Tingkat kedua adalah pertanyaan mengenai siapa yang berhak menggambarkan sistem tersebut, dengan metode apa, dan apa konsekuensi politik ketika gambaran itu muncul di ruang publik. “NAZA” bergerak di antara kedua tingkat tersebut, tetapi kekuatan sinematiknya justru muncul ketika ia meninggalkan abstraksi pertama dan masuk ke persoalan kedua: manusia yang berbicara tentang apa yang pernah mereka lakukan.
Film ini menampilkan 24 sumber dari lingkungan militer dan intelijen Israel yang diwawancarai secara anonim pada malam hari di atap-atap gedung di Tel Aviv. Wajah mereka disamarkan dan suara mereka diubah untuk melindungi identitas. Secara jurnalistik, keputusan tersebut dapat dipahami karena sumber yang masih berada dalam atau pernah berada di dalam institusi keamanan menghadapi risiko yang tidak sama dengan narasumber biasa. Tetapi secara sinematik, anonimitas menghasilkan efek lain. Penonton tidak diberi kesempatan untuk mengaitkan kesaksian dengan wajah, nama, pangkat, atau biografi. Tidak ada satu tokoh yang dapat dijadikan pusat cerita. Tidak ada “penjahat” individual yang mudah ditunjuk. Yang tersisa adalah suara-suara yang hampir menjadi satu tubuh kolektif. Seseorang berbicara tentang data, yang lain tentang target, yang lain tentang proses pengawasan, yang lain tentang akibat serangan. Masing-masing hanya memiliki sebagian dari keseluruhan, tetapi ketika semuanya disusun oleh penyuntingan, mereka membentuk gambaran tentang suatu sistem yang lebih besar daripada siapa pun yang berada di dalamnya.
Perubahan dari artikel ke film itulah yang membuat “NAZA” berbeda dari laporan Abraham sebelumnya. Dalam laporan tertulis, sumber berfungsi terutama untuk membuka informasi yang sulit diperoleh publik. Pembaca membaca apa yang mereka katakan dan kemudian bergerak menuju dokumen, data, penjelasan, atau kesaksian lain. Dalam film, sumber tidak hanya memberikan informasi; keberadaan mereka menjadi bagian dari argumen. Mereka berbicara dalam kegelapan, di kota yang terus hidup di belakang mereka, sementara kamera mempertahankan komposisi yang relatif seragam. Kegelapan itu tidak sekadar melindungi identitas. Ia juga menciptakan ruang psikologis. Penonton dipaksa mendengarkan suara tanpa bantuan wajah, dan karena wajah telah disembunyikan, perhatian beralih kepada jeda, keraguan, nada bicara, serta isi pengakuan. Orang-orang yang sebelumnya merupakan bagian dari sistem kini menjadi saksi atas sistem itu. Di sana muncul persoalan yang jauh lebih sulit daripada sekadar teknologi: bagaimana seseorang hidup setelah mengetahui apa yang telah ia bantu lakukan?
Inilah alasan “NAZA” tidak perlu menggambarkan teknologi AI sebagai monster. Penggambaran semacam itu justru akan terlalu mudah. Monster teknologi memungkinkan manusia keluar dari cerita dengan mengatakan bahwa mesinlah yang mengambil keputusan. Film ini bergerak ke arah sebaliknya. Kesaksian yang ditampilkan mengisyaratkan adanya rantai kerja yang panjang: pengumpulan data, identifikasi dugaan target, penentuan lokasi, penilaian korban sipil, persetujuan, dan pelaksanaan. Dalam setiap tahap selalu ada manusia, bahkan ketika sistem digital mengambil porsi yang semakin besar. Perdebatan mengenai Lavender karena itu tidak cukup diselesaikan dengan pertanyaan apakah “AI membunuh”. IDF menyatakan keputusan serangan dibuat oleh personel manusia, sementara laporan investigatif yang menjadi dasar film menggambarkan sistem berbasis AI sebagai bagian penting dalam menghasilkan atau memprioritaskan target dalam skala besar. Perbedaan tersebut justru membuka pertanyaan yang lebih penting: jika sebuah sistem menghasilkan rekomendasi target dengan kecepatan dan skala yang jauh melampaui kemampuan manusia, seberapa besar perubahan yang terjadi pada makna “keputusan manusia” ketika manusia tinggal mengawasi, menyetujui, atau meneruskan hasil sebuah sistem?
Pertanyaan itu membawa kita kembali ke Tel Aviv. Kota tersebut bukan sekadar latar yang indah untuk film yang gelap. Ia adalah kontras moral. Dari satu sisi, kehidupan sehari-hari tetap berlangsung dengan ritmenya sendiri; dari sisi lain, sistem yang dibicarakan para sumber bekerja terhadap kota-kota dan rumah-rumah di Gaza. Kontras itu tidak berarti setiap warga Tel Aviv mengetahui atau menyetujui setiap tindakan militer. Justru sebaliknya, kekuatan gambar tersebut terletak pada ketidakpastian tentang apa yang diketahui masyarakat biasa. Televisi masuk ke apartemen-apartemen sebagai perantara perang. Para pejabat berbicara melalui layar. Bahasa politik tentang keamanan, tanggung jawab kolektif, dan serangan 7 Oktober merembes ke dalam kehidupan sehari-hari. Di luar bingkai televisi, perang terus berjalan sebagai rangkaian keputusan administratif dan militer. Di dalam rumah, ia menjadi berita. Di antara keduanya terdapat jarak yang sangat besar, dan “NAZA” berusaha mengisinya dengan kesaksian orang-orang yang pernah bekerja di dalam mesin tersebut.
Karena itu, film ini pada dasarnya bukan hanya film tentang Gaza. Ia juga film tentang bagaimana sebuah masyarakat dapat hidup berdampingan dengan perang yang tidak selalu terlihat. Dalam masyarakat modern, kekerasan negara jarang hadir sebagai satu adegan tunggal yang disaksikan semua orang. Ia tersebar di antara kantor, ruang komando, pusat data, ruang redaksi, studio televisi, gedung parlemen, dan rumah-rumah warga. Masing-masing ruang memiliki bahasanya sendiri. Di ruang militer, ada target dan ancaman. Di ruang politik, ada keamanan dan pertahanan diri. Di ruang media, ada narasi dan kontroversi. Di ruang keluarga, ada ketakutan dan kehilangan. Sementara di Gaza, semua bahasa tersebut akhirnya bertemu dalam bentuk yang paling sederhana dan paling sulit disamarkan: sebuah rumah yang hancur, seseorang yang terluka, atau keluarga yang tidak lagi lengkap.
Dengan memindahkan pusat perhatian dari ledakan ke orang-orang yang memungkinkan ledakan itu terjadi, “NAZA” mengubah pertanyaan tentang perang dari persoalan senjata menjadi persoalan jarak. Seberapa jauh seseorang harus berada dari akibat tindakannya agar tindakan itu terasa seperti pekerjaan biasa? Seberapa banyak prosedur harus dilalui sebelum seseorang tidak lagi melihat keputusan sebagai keputusan moral, melainkan sebagai bagian dari tugas? Dan berapa banyak istilah teknis yang dibutuhkan sebelum seorang manusia dapat disebut sebagai “kerusakan kolateral”? Film ini tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan teori. Ia membiarkan para sumber, dengan suara yang disamarkan dan wajah yang disembunyikan, perlahan memperlihatkan bagaimana jarak itu dibangun. Ketika perang menjadi sistem, kekerasan tidak selalu membutuhkan kemarahan. Kadang-kadang ia hanya membutuhkan formulir, perangkat lunak, daftar target, kewenangan, dan seseorang yang mengatakan bahwa prosedurnya sudah benar.
Salah satu ilusi paling kuat dalam perang modern adalah bahwa teknologi membuat kekerasan menjadi lebih impersonal. Drone, sensor, satelit, perangkat lunak analisis, dan jaringan komunikasi seolah-olah menjauhkan manusia dari medan perang sehingga keputusan dapat dibuat dengan informasi yang lebih baik dan emosi yang lebih sedikit. Dalam satu pengertian, memang demikian. Teknologi dapat meningkatkan kemampuan untuk mengawasi, mengidentifikasi, dan membedakan target. Tetapi “NAZA” justru tertarik pada sisi lain dari proses tersebut: ketika kemampuan untuk mengetahui menjadi sangat besar, kehidupan manusia dapat berubah menjadi kumpulan sinyal yang dapat diproses. Telepon bukan lagi telepon, melainkan titik dalam jaringan. Rumah bukan lagi rumah, melainkan koordinat. Percakapan keluarga bukan lagi percakapan, melainkan pola perilaku. Kepulangan seorang ayah, yang semestinya menjadi bagian biasa dari kehidupan keluarga, berubah menjadi indikator yang mungkin digunakan untuk menentukan waktu sebuah serangan. Dalam dunia semacam itu, masalahnya bukan bahwa manusia telah hilang dari perang, melainkan bahwa manusia telah diterjemahkan ke dalam format yang memungkinkan sistem bekerja tanpa harus terus-menerus mengingat bahwa objek yang diproses adalah manusia.
Laporan Abraham tentang Lavender membuka persoalan yang melampaui kemampuan teknis AI. Ketika hasil analisis algoritma digunakan dalam proses penentuan sasaran militer, tanggung jawab tidak dapat dilepaskan begitu saja kepada sistem yang menghasilkan rekomendasi. Algoritma tidak menetapkan kebijakan perang, menentukan batas kerugian sipil yang dapat diterima, atau memutuskan untuk melancarkan serangan atas kehendaknya sendiri. Keputusan-keputusan itu tetap berakar pada pilihan manusia dan institusi yang merancang, mengoperasikan, serta mengizinkan penggunaannya. Karena itu, pertanyaan utamanya bukan apakah mesin dapat menggantikan manusia, melainkan bagaimana teknologi dapat memperluas jangkauan keputusan militer tanpa mengaburkan siapa yang harus mempertanggungjawabkan akibatnya.
Dalam perang, pembagian kerja memiliki fungsi praktis. Tidak mungkin satu orang mengetahui seluruh informasi, menentukan seluruh target, mengoperasikan seluruh perangkat, dan mengawasi seluruh akibat. Tetapi pembagian kerja juga memiliki konsekuensi moral. Seseorang yang hanya membaca data mungkin tidak pernah melihat korban. Seseorang yang memeriksa target mungkin tidak mengetahui keluarga yang berada di rumah itu. Seseorang yang memberi persetujuan mungkin hanya melihat peta. Seseorang yang menjalankan serangan mungkin tidak mengetahui alasan mengapa sebuah titik dipilih. Setiap orang memiliki bagian yang terbatas, sementara akibatnya bersifat utuh. Bagi korban, tidak ada “bagian” dari ledakan. Yang ada adalah ledakan itu sendiri.
Di sinilah istilah “kerusakan kolateral” memperoleh fungsi yang lebih besar daripada sekadar terminologi militer. Istilah tersebut mengandung gagasan bahwa korban sipil adalah akibat sampingan dari tindakan terhadap sesuatu yang dianggap sebagai sasaran utama. Dalam hukum perang, pembedaan antara kombatan dan warga sipil, proporsionalitas, serta kewajiban mengambil langkah pencegahan untuk mengurangi korban sipil merupakan persoalan serius yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan bahasa politik. Namun di luar konteks hukum, istilah “kolateral” juga dapat bekerja sebagai perangkat psikologis. Ia mengubah orang menjadi konsekuensi. Rumah menjadi struktur. Anak menjadi korban yang tidak direncanakan. Keluarga menjadi angka yang berada di sebelah sebuah target. Dengan begitu, bahasa memungkinkan manusia berbicara tentang akibat yang sangat konkret tanpa harus selalu membayangkan orang yang menerima akibat tersebut.
“NAZA” secara sadar berusaha merusak fungsi pengaburan itu. Para sumber tidak berbicara hanya tentang jumlah target atau sistem perangkat lunak. Mereka berbicara tentang apa yang terdengar setelah sebuah serangan, tentang keluarga yang berada di dalam bangunan, tentang bagaimana sebuah sistem pengawasan dapat mengikuti kehidupan sehari-hari, dan tentang pengalaman mendengar atau mengetahui akibat dari serangan. Ketika seseorang mengatakan bahwa ia mendengar saat-saat terakhir kehidupan seseorang, informasi itu berubah sifat. Ia bukan lagi sekadar data operasional. Ia adalah ingatan. Dan ingatan memiliki sesuatu yang tidak dimiliki angka: kemampuan untuk kembali kepada orang yang menyimpannya.
Perubahan tersebut membuat “NAZA” menjadi film tentang tanggung jawab. Para sumber tidak tampil sebagai hakim atas diri mereka sendiri, tetapi kesaksian mereka mengandung pertanyaan yang terus muncul: apa artinya menjalankan sebuah tugas ketika seseorang mengetahui bahwa tugas tersebut dapat menyebabkan kematian orang yang tidak terlibat dalam pertempuran? Apakah tanggung jawab berhenti pada orang yang memberi perintah? Apakah ia berhenti pada orang yang mengoperasikan senjata? Apakah orang yang mengembangkan sistem memiliki tanggung jawab yang sama dengan orang yang menggunakannya? Apakah analis data bertanggung jawab terhadap akibat yang terjadi setelah hasil analisisnya menjadi bagian dari keputusan? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak hanya relevan untuk Gaza. Mereka menyentuh persoalan lebih luas mengenai organisasi modern, ketika keputusan besar dibagi menjadi pekerjaan-pekerjaan kecil yang masing-masing dapat tampak masuk akal jika dilihat secara terpisah.
Karena itu, analogi dengan pabrik yang muncul dalam film memiliki arti tertentu. Sebuah pabrik dapat memproduksi sesuatu karena setiap orang mengerjakan bagian yang berbeda. Tidak ada satu pekerja yang membuat seluruh produk. Tetapi jika produk tersebut adalah keputusan tentang siapa yang menjadi sasaran, maka bahasa industri mulai terasa mengerikan. Target dapat diproduksi dalam jumlah besar. Data dapat diproses secara massal. Bangunan dapat dipetakan. Risiko dapat dihitung. Setelah semuanya berubah menjadi proses, skala tidak lagi membutuhkan perubahan mendasar dalam cara kerja. Yang berubah hanyalah kapasitas.
Persoalan skala inilah yang membuat teknologi berbeda dari sekadar alat bantu. Mesin yang meningkatkan kemampuan manusia untuk memproses informasi dapat mengubah hubungan antara waktu dan keputusan. Jika sebelumnya seseorang harus memeriksa sejumlah kecil informasi untuk menemukan satu sasaran, sistem digital dapat menyaring jutaan potongan data dalam waktu jauh lebih singkat. Secara militer, hal tersebut mungkin dianggap sebagai efisiensi. Secara moral, pertanyaannya adalah apakah kemampuan menghasilkan lebih banyak keputusan juga menghasilkan lebih banyak kesempatan untuk salah, dan apakah institusi memiliki kapasitas pengawasan yang sebanding dengan kecepatan sistem tersebut. Sebuah sistem dapat bekerja dengan sangat cepat, tetapi hukum dan pertimbangan moral tidak otomatis menjadi lebih cepat hanya karena komputer bekerja lebih cepat.
Di titik ini, kritik terhadap “NAZA” menjadi penting. Film tersebut menghadapi persoalan yang tidak dapat disingkirkan hanya dengan mengatakan bahwa sumbernya memiliki pengalaman langsung. Dua puluh empat sumber anonim tetap merupakan dua puluh empat kesaksian yang harus diverifikasi. Times of Israel menerbitkan kritik yang secara khusus mempertanyakan kurangnya verifikasi independen dan konteks dalam film, termasuk mengenai cara klaim-klaim tertentu disusun untuk mendukung narasi keseluruhan. Kritik semacam itu tidak otomatis membuktikan bahwa kesaksian para sumber keliru. Tetapi ia menunjukkan batas yang harus diakui ketika film investigasi menggunakan anonimitas sebagai fondasi utamanya. Penonton tidak dapat melakukan pemeriksaan identitas sendiri. Mereka harus bergantung pada proses verifikasi yang dilakukan pembuat film dan produser.
Di sinilah “NAZA” berada dalam posisi yang menarik sekaligus rentan. Sebagai dokumenter, ia memiliki kebebasan artistik untuk membangun suasana dan memilih apa yang dianggap paling relevan. Sebagai karya investigasi, ia menghadapi kewajiban untuk menjelaskan dasar pengetahuannya. The Guardian menyatakan bahwa film tersebut dikembangkan dari lebih dari tiga tahun kerja investigasi dan menggunakan sumber jurnalistik rahasia; Abraham juga mempertahankan bahwa identitas dan kesaksian sumber telah melalui proses verifikasi. Kedua hal itu dapat benar sekaligus: sebuah film dapat melalui proses editorial yang serius dan tetap memiliki keterbatasan pembuktian yang harus dibicarakan secara terbuka. Justru dalam persoalan dengan konsekuensi moral dan politik sebesar ini, pengakuan terhadap batas bukti bukan kelemahan jurnalistik. Ia adalah bagian dari jurnalistik.
Persoalan lain adalah konteks. Kritik terhadap “NAZA” menyebut bahwa film tersebut tidak memberikan perhatian yang setara terhadap serangan 7 Oktober. Kritik itu patut dicatat bukan karena semua perspektif harus diberi bobot yang sama, melainkan karena perang tidak dapat dipahami melalui satu rantai sebab-akibat yang dimulai dari satu tanggal dan berakhir pada satu kelompok. Serangan 7 Oktober adalah bagian penting dari konteks perang yang menghasilkan operasi Israel dengan sengaja menargetkan anak-anak Palestina yang mengakibatkan genosida di Gaza. Demikian pula, keberadaan Hamas, serta pertempuran di wilayah padat penduduk merupakan konteks yang relevan ketika menilai keputusan militer. Tetapi konteks juga tidak dengan sendirinya menjawab apakah suatu tindakan tertentu terhadap warga sipil sah atau tidak. Menjelaskan mengapa sebuah operasi dilakukan berbeda dari menentukan apakah seluruh cara operasi tersebut dilakukan dapat dibenarkan.
Pembedaan itu sangat penting karena perang selalu menghasilkan godaan untuk menggabungkan dua pertanyaan menjadi satu. Pertanyaan pertama adalah mengapa sebuah pihak merasa perlu berperang. Pertanyaan kedua adalah bagaimana pihak tersebut berperang. Jawaban atas pertanyaan pertama tidak otomatis menjawab pertanyaan kedua. Serangan 7 Oktober dapat dikutuk tanpa menjadikan setiap tindakan yang dilakukan Israel setelahnya sah secara otomatis. Sebaliknya, kritik terhadap tindakan Israel tidak menghapus kenyataan bahwa Hamas melakukan serangan awal meski serangan itu didasarkan pada tindakan Israel yang sewenang-wenang merampas hak hidup warga Palestina di Gaza. Menolak salah satu sisi dari kenyataan tersebut justru membuat analisis menjadi lebih miskin.
“NAZA” memilih untuk mempersempit fokusnya. Ia tidak membuat film tentang seluruh sejarah konflik Israel-Palestina. Ia membuat film tentang mekanisme penargetan dan pengalaman orang-orang yang bekerja di dalamnya. Karena itu, menuntut film tersebut menjawab seluruh persoalan perang dapat menghasilkan kritik yang salah sasaran. Tetapi mempersempit fokus juga berarti film harus dinilai berdasarkan pertanyaan yang memang ia pilih. Jika ia membuat klaim tentang sistem penargetan, klaim tersebut harus dapat diuji. Jika ia menampilkan kesaksian sebagai bukti, proses verifikasinya harus dapat dipertanggungjawabkan. Jika ia menggunakan bentuk sinematik untuk menghasilkan efek moral, penonton tetap harus mampu membedakan efek tersebut dari fakta yang telah terbukti.
Di situlah kekuatan dan risiko “NAZA” bertemu. Film ini berhasil mengubah perang dari persoalan yang tampak sangat besar menjadi persoalan yang sangat dekat: seorang manusia duduk di depan kamera dan berbicara tentang pekerjaannya. Namun semakin dekat kamera kepada manusia, semakin besar pula tuntutan agar kesaksian itu diperlakukan dengan disiplin. Sebuah film dapat membuat penonton merasa ngeri, tetapi rasa ngeri bukan bukti. Sebuah wawancara dapat sangat meyakinkan, tetapi keyakinan bukan verifikasi. Sebuah sistem memang dapat menghasilkan akibat mengerikan, tetapi untuk mengatakan bahwa sistem tersebut dirancang dengan niat tertentu memerlukan standar pembuktian yang lebih tinggi daripada sekadar menunjukkan akibatnya.
Mungkin justru karena itu “NAZA” paling kuat ketika ia tidak memaksa penonton menerima satu kesimpulan, melainkan membuat mereka menyaksikan hubungan antara keputusan dan akibat. Film memperlihatkan bahwa di antara data dan kematian selalu ada manusia. Pertanyaan yang kemudian tidak dapat dihapus dengan algoritma adalah: siapa manusia itu, apa yang ia ketahui, apa yang ia setujui, apa yang ia lakukan, dan kapan ia menyadari bahwa sebuah pekerjaan yang dianggap sebagai rutinitas harian sebenarnya memiliki konsekuensi yang tidak dapat dibuat rutin?
Mereka yang berbicara dari dalam mesin
Jika “NAZA” hanya ingin membuktikan bahwa sistem penargetan Israel memiliki masalah, ia sebenarnya tidak membutuhkan bentuk film yang seperti ini. Laporan investigasi, dokumen, data satelit, kesaksian tertulis, dan analisis hukum mungkin lebih efisien untuk tujuan tersebut. Tetapi Abraham dan Szor memilih sesuatu yang lebih sulit: mereka menjadikan tindakan berbicara sebagai bagian utama dari film. Dua puluh empat orang datang ke ruang gelap untuk mengatakan sesuatu yang menurut mereka penting, sementara identitas mereka disembunyikan. Pilihan itu membuat “NAZA” berdekatan dengan tradisi dokumenter yang melihat kesaksian bukan sekadar sebagai wadah informasi, tetapi sebagai tindakan yang memiliki bobot moral. Rujukan kepada “Shoah” karya Claude Lanzmann dalam film ini bukan sekadar ornamen intelektual. Ia menunjukkan bahwa bagi pembuat “NAZA”, merekam seseorang yang berbicara tentang kekerasan adalah tindakan sinematik yang memiliki konsekuensi sendiri.
Perbandingan dengan “Shoah” tentu harus dilakukan dengan hati-hati. Film Lanzmann berbicara tentang Holocaust dan dibangun selama bertahun-tahun setelah peristiwa yang direkam, sedangkan “NAZA” berhadapan dengan perang yang masih menjadi realitas politik dan militer. Tetapi ada kesamaan metodologis yang penting: keduanya memberi bobot besar kepada kesaksian manusia dan kepada ruang tempat kesaksian itu berlangsung. Dalam “NAZA”, ruang tersebut adalah Tel Aviv pada malam hari. Para sumber berbicara di atas kota yang masih berfungsi sebagai kota. Lampu-lampu menyala. Orang-orang hidup. Gedung-gedung berdiri. Sementara itu, suara dari dalam sistem menjelaskan bagaimana tindakan yang berlangsung jauh dari kamera dapat memengaruhi kehidupan orang lain. Kontras antara kota yang terang dan kesaksian yang gelap menjadi salah satu metafora visual paling kuat dalam film.
Bentuk visual itu juga menghindarkan “NAZA” dari godaan untuk menjadikan setiap sumber sebagai individu yang sepenuhnya terpisah. Kamera mempertahankan komposisi yang relatif seragam. Wajah mereka tidak dapat digunakan untuk membedakan status atau kelas. Suara mereka menjadi bagian dari satu rangkaian kesaksian. Efeknya menyerupai sistem yang mereka gambarkan: banyak orang, banyak tugas, tetapi satu struktur yang menghubungkan semuanya. Dalam pengertian ini, estetika film bukan dekorasi terhadap investigasi. Estetika menjadi cara untuk menjelaskan investigasi. Struktur gambar memperlihatkan sesuatu yang sulit dijelaskan hanya melalui narasi: bahwa sistem besar tidak membutuhkan setiap orang untuk mengetahui keseluruhan sistem agar sistem itu dapat bekerja.
Kegelapan juga membuat persoalan tanggung jawab menjadi personal. Ketika seseorang berbicara dengan wajah terbuka, penonton secara naluriah mencari ekspresi yang dapat membantu menilai orang tersebut. Apakah ia menyesal? Apakah ia takut? Apakah ia bangga? Apakah ia sedang membenarkan diri? “NAZA” sebagian menghilangkan petunjuk tersebut. Penonton dipaksa bekerja lebih keras. Yang terdengar adalah kalimat dan suara. Pada saat tertentu, anonimitas bahkan menghasilkan ironi: orang-orang yang berbicara tentang sistem yang memiliki kemampuan pengawasan luar biasa justru menjadi orang-orang yang harus disembunyikan agar dapat berbicara.
Kontradiksi itu adalah salah satu pusat moral film. Negara modern dapat memiliki kapasitas pengawasan yang sangat luas, sementara warga yang mengungkapkan informasi tentang cara kerja negara dapat merasa perlu menyembunyikan identitasnya. Tentu saja, kebutuhan menjaga kerahasiaan sumber tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa sebuah negara represif. Jurnalis di berbagai negara menggunakan anonimitas untuk melindungi sumber yang menghadapi risiko profesional atau hukum. Tetapi ketika reaksi politik terhadap sebuah karya dokumenter mencakup seruan pencabutan kewarganegaraan, tuduhan pengkhianatan, ancaman, atau pertimbangan tindakan hukum, persoalan kebebasan berbicara menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari film itu sendiri. Dalam kasus “NAZA”, laporan media menyebut adanya ancaman terhadap pembuat film dan tekanan politik setelah kemenangan mereka di Venesia.
Reaksi tersebut juga menghasilkan sebuah ironi yang sulit diabaikan. Sebagian kritik terhadap film datang dari orang-orang yang belum menontonnya secara penuh. Kepala Staf IDF Eyal Zamir, misalnya, mengatakan pada September bahwa ia belum menonton film tersebut dan bahwa militer meminta akses untuk melihatnya sebelum menanggapi klaimnya secara serius. Pada saat yang sama, kritik publik terhadap film telah berkembang menjadi perdebatan mengenai kesetiaan nasional dan legitimasi pembuatnya. Dengan demikian, “NAZA” telah menjadi objek politik bahkan sebelum seluruh perdebatan jurnalistik mengenai isinya selesai. Film tentang bagaimana perang dibicarakan akhirnya menjadi bagian dari perang mengenai siapa yang boleh berbicara tentang perang.
Namun di sinilah kita perlu berhati-hati. Kebebasan membuat film tidak berarti film tersebut kebal terhadap kritik. Wartawan tidak memperoleh kekebalan dari tuntutan bukti hanya karena topik yang dibahasnya penting. Sebaliknya, negara juga tidak memperoleh hak untuk menolak kritik hanya karena kritik tersebut menyentuh militer pada masa perang. Kedua prinsip itu dapat berdiri bersamaan. Film harus dapat diperiksa. Pembuat film harus dapat ditanya. Sumber harus dapat diperdebatkan. Tetapi semua itu berbeda dari mengubah kritik jurnalistik menjadi persoalan kesetiaan nasional atau ancaman terhadap kewarganegaraan.
Perbedaan antara kritik dan pembungkaman menjadi sangat penting karena “NAZA” bekerja pada wilayah yang memang secara inheren kontroversial. Ia tidak sekadar mengatakan bahwa korban sipil terjadi. Itu adalah fakta yang telah terdokumentasi luas dalam perang di Gaza. Ia mencoba masuk lebih dalam, ke pertanyaan mengenai bagaimana sasaran ditentukan, bagaimana korban sipil diperkirakan, bagaimana teknologi digunakan, dan bagaimana personel yang terlibat memahami pekerjaan mereka. Klaim semacam itu lebih spesifik dan karena itu harus diuji lebih ketat. Tetapi ketatnya pemeriksaan bukti seharusnya tidak berubah menjadi tuntutan agar sebuah film dokumenter tidak boleh menyentuh institusi yang memiliki kekuasaan.
Di sinilah perbedaan antara “No Other Land” dan “NAZA” juga menjadi menarik. Abraham dan Szor sebelumnya bekerja bersama Basel Adra dan Hamdan Ballal dalam “No Other Land”, dokumenter mengenai kehidupan warga Palestina di Masafer Yatta yang meraih Oscar untuk film dokumenter terbaik. “No Other Land” banyak mengandalkan pengamatan langsung terhadap kehidupan dan tindakan yang berlangsung di lapangan. “NAZA” bergerak dalam arah yang berbeda. Ia tidak terutama mengamati sebuah peristiwa yang berlangsung di depan kamera. Ia membuat orang-orang berbicara tentang proses yang biasanya tidak terlihat. Jika “No Other Land” memperlihatkan kekuasaan melalui tindakan yang dapat diamati, “NAZA” mencoba memperlihatkan kekuasaan melalui kesaksian dari dalam institusi. Kedua pendekatan tersebut menghasilkan jenis bukti yang berbeda, dan karena itu menuntut cara membaca yang berbeda.
Pada akhirnya, masalah terbesar yang dihadapi “NAZA” bukan apakah film itu “pro-Israel” atau “anti-Israel”. Kategori tersebut terlalu dangkal untuk menjelaskan apa yang sebenarnya sedang dipertaruhkan. Film ini lebih tertarik pada pertanyaan tentang negara, institusi, tanggung jawab, dan kemampuan manusia untuk mengubah kekerasan menjadi pekerjaan administratif. Jika film itu berhasil, penonton tidak seharusnya keluar hanya dengan kebencian terhadap teknologi. Teknologi bukan pelaku moral yang berdiri sendiri. Yang harus dipertanyakan adalah institusi yang memilih bagaimana teknologi digunakan, manusia yang merancang prosedurnya, manusia yang mengawasinya, dan manusia yang melaksanakan keputusan yang dihasilkan.
Begitu pula, film ini tidak seharusnya dibaca sebagai penghapusan serangan 7 Oktober. Serangan Hamas yang terjadi pada hari tersebut merupakan fakta yang menjadi bagian dari konteks. Tetapi mengakui fakta tersebut tidak mengharuskan seseorang menangguhkan pertanyaan tentang bagaimana perang setelahnya dijalankan. Sebaliknya, mempertanyakan tindakan militer Israel tidak mengharuskan seseorang mengabaikan serangan yang dilakukan Hamas. Dua kenyataan tersebut dapat hadir bersamaan, dan justru kemampuan untuk mempertahankan keduanya dalam satu kerangka analitis merupakan syarat bagi pembicaraan yang serius mengenai perang.
Apa yang dilakukan “NAZA” adalah memindahkan kamera dari tempat yang biasanya kita lihat ketika membicarakan perang ke tempat yang jarang kita lihat. Kita biasanya melihat korban. Kita melihat bangunan yang runtuh. Kita melihat konferensi pers. Kita melihat peta. Kita melihat pejabat. Film ini meminta kita melihat ruang di antara semuanya: orang yang memproses data, orang yang membuat keputusan, orang yang mengikuti prosedur, dan orang yang kemudian hidup dengan pengetahuan tentang akibat keputusan tersebut. Di situlah perang modern menjadi paling sulit dipahami, karena tidak ada satu wajah yang dapat menanggung seluruh tanggung jawab. Ada jaringan.
Jaringan tersebut juga menjelaskan mengapa teknologi begitu mudah memperoleh tempat dalam birokrasi perang. Mesin dapat menerima data tanpa harus berduka. Algoritma tidak mengalami malam tanpa tidur setelah sebuah rumah dihancurkan. Basis data tidak mendengar suara tangisan korban. Tetapi manusia yang merancang, mengoperasikan, memeriksa, dan menggunakan sistem tetap dapat mengalami semua itu. Karena itu, pertanyaan moral tidak hilang ketika keputusan dimediasi teknologi. Ia justru berpindah tempat. Ia berada pada manusia yang menentukan parameter, manusia yang memilih data, manusia yang mempercayai hasil sistem, manusia yang dapat menolak hasil sistem, dan manusia yang memutuskan bahwa sebuah proses telah cukup aman untuk digunakan.
Mungkin itu sebabnya gambar terakhir yang kuat dalam “NAZA” bukan gambar perangkat lunak, bukan layar komputer, dan bukan pusat komando. Setelah seluruh mekanisme diterangkan, akibat akhirnya kembali menjadi manusia. Seorang ayah mencari anak-anaknya di antara reruntuhan. Gambar itu mengembalikan semua abstraksi kepada tubuh yang tidak dapat lagi menjadi abstraksi. Setelah berpuluh-puluh menit berbicara mengenai target, sistem, data, dan prosedur, film akhirnya memperlihatkan sesuatu yang tidak dapat diterjemahkan dengan cara yang sama: seseorang mencari orang yang dicintainya.
Di situlah bahasa “kolateral” runtuh.
Sebuah keluarga tidak pernah merasa dirinya sebagai kolateral. Sebuah rumah tidak mengetahui bahwa ia berada dalam kategori kerusakan yang dapat diterima. Seorang anak tidak hidup sebagai angka dalam sebuah tabel. Semua kategori tersebut dibuat oleh manusia untuk membantu sistem mengambil keputusan. Dan karena dibuat oleh manusia, kategori tersebut juga dapat dipertanyakan oleh manusia.
Pertanyaan itu menjadi semakin mendesak ketika sebuah sistem memiliki kemampuan untuk bekerja dalam skala yang tidak dapat dicapai manusia secara manual. Semakin besar skala, semakin besar kebutuhan terhadap mekanisme pengawasan. Semakin cepat keputusan dibuat, semakin penting kesempatan untuk menghentikannya. Semakin banyak pekerjaan dibagi, semakin penting kemampuan untuk menemukan siapa yang bertanggung jawab pada setiap tahap. Teknologi tidak menghilangkan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ia membuat pertanyaan itu menjadi lebih sulit karena rantainya menjadi lebih panjang dan lebih tersembunyi.
“NAZA” pada akhirnya adalah film tentang keterlihatan. Ia ingin membuat sesuatu yang biasanya tidak terlihat menjadi terlihat: mekanisme di balik target, bahasa di balik kematian, dan manusia di balik sistem. Tetapi film itu sendiri juga memperlihatkan batas keterlihatan. Wajah para sumber disembunyikan. Bukti tidak semuanya dapat ditampilkan. Sebagian klaim hanya dapat disampaikan melalui kesaksian. Sebagian proses tidak dapat dibuka kepada publik. Dengan demikian, film tidak menawarkan dunia yang seluruhnya transparan. Ia justru memperlihatkan betapa sulitnya mengetahui apa yang dilakukan negara ketika sebagian besar tindakan berlangsung di ruang tertutup.
Karena itu, nilai terpenting “NAZA” mungkin bukan bahwa ia telah memberikan kata terakhir tentang perang Gaza. Tidak ada film berdurasi 80 menit yang dapat melakukan itu. Nilainya terletak pada kenyataan bahwa ia memaksa pertanyaan tertentu keluar dari ruang tertutup dan masuk ke ruang publik: bagaimana target dibuat, bagaimana korban sipil dihitung, bagaimana teknologi digunakan, bagaimana manusia bekerja di dalam sistem tersebut, dan bagaimana sebuah masyarakat merespons ketika orang-orang dari dalam institusi mulai menceritakan apa yang mereka lihat.
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selesai hanya karena film memenangkan penghargaan di Venesia, sebagaimana ia juga tidak menjadi tidak sah hanya karena pejabat atau wartawan mengkritiknya. “NAZA” harus diuji melalui bukti, seperti semua karya jurnalistik. Tetapi negara dan institusinya juga harus menghadapi pertanyaan yang diajukan oleh karya tersebut. Kedua proses itu seharusnya berjalan bersamaan: film diperiksa, kesaksian diverifikasi, bantahan didengar, dan bukti tambahan dicari. Yang tidak boleh hilang dalam proses itu adalah manusia yang menjadi pusat persoalan.
Sebab pada akhirnya, perang modern mungkin menggunakan algoritma, jaringan pengawasan, satelit, dan sistem penargetan yang semakin rumit, tetapi hasil akhirnya tetap sama seperti perang pada masa lalu: seseorang kehilangan orang yang dicintainya. Teknologi dapat mengubah cara sebuah target ditemukan. Birokrasi dapat mengubah cara keputusan didokumentasikan. Bahasa dapat mengubah cara kematian dijelaskan. Namun tidak satu pun dari ketiganya mengubah kenyataan bahwa di ujung setiap keputusan terdapat manusia.
Dan mungkin itulah alasan “NAZA” terasa begitu mengganggu. Film ini tidak menemukan manusia di luar mesin. Ia menemukan manusia di dalamnya.

Tinggalkan Balasan