Ada satu kelemahan dalam setiap sistem pengamanan: ia harus memperkirakan dari mana ancaman akan datang. Semakin besar sistemnya, semakin banyak hal yang harus diawasi. Jalan ditutup, barikade dipasang, personel disebar, kendaraan diperiksa, dan pergerakan massa dipetakan. Namun, tidak semua hal yang bergerak di jalan dapat diperlakukan sebagai ancaman. Sebuah angkot merah, misalnya, biasanya hanya dianggap sebagai kendaraan umum yang sedang mencari penumpang atau menjalankan trayek. Tidak ada alasan bagi siapa pun untuk mencurigainya sebagai bagian dari strategi demonstrasi. Kecuali pada 28 Oktober, ketika angkot T19 menjadi salah satu kendaraan yang membawa mahasiswa menuju Bundaran HI, Jakarta Pusat.
Peristiwa itu mengingatkan pada Kuda Troya dalam legenda perang Yunani. Setelah bertahun-tahun gagal menaklukkan Troya melalui serangan langsung, pasukan Yunani akhirnya menggunakan siasat yang digagas Odiseus. Mereka membuat kuda kayu besar dan menyembunyikan prajurit di dalamnya. Penduduk Troya membawa kuda itu masuk ke kota karena menganggapnya sebagai hadiah, tanpa mengetahui bahwa benda tersebut menyimpan ancaman. Pada malam hari, para prajurit keluar dan membuka jalan bagi pasukan yang menunggu di luar. Kemenangan itu tidak diperoleh dengan membuat tembok lebih tinggi atau mengerahkan senjata lebih banyak, melainkan dengan memahami bagaimana pihak yang bertahan membaca keadaan.
Di Jakarta, tidak ada kuda kayu yang diseret melewati gerbang kota. Tidak ada prajurit yang bersembunyi di dalam perut patung. Yang ada adalah angkot merah, kendaraan umum yang bentuknya tidak berbeda dari kendaraan yang setiap hari mengangkut pedagang, pekerja, pelajar, dan penumpang lain. Namun, seperti kuda kayu dalam kisah Troya, kendaraan itu menjadi bagian dari siasat untuk mencapai tempat yang dijaga. Mahasiswa menggunakan sesuatu yang biasa untuk menghadapi pengamanan yang dirancang menghadapi sesuatu yang dianggap luar biasa. Dari situlah nama Angkot Troya muncul.
Sebutan itu terdengar seperti kelakar, tetapi di baliknya terdapat strategi mobilisasi yang sungguh-sungguh. Menurut laporan Liputan6 pada 28 Oktober, sekitar 79 angkot dan 18 minibus dikerahkan dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia di Depok. Kendaraan berangkat secara bertahap membawa mahasiswa dan elemen masyarakat menuju Jakarta. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa penggunaan angkutan umum bukan sekadar improvisasi beberapa orang yang kesulitan menemukan kendaraan. Ada persiapan untuk membawa peserta aksi dalam skala besar.
Namun, bagian paling cerdik dari strategi itu bukan jumlah angkot yang dikerahkan. Dalam laporan Tirto pada 29 Oktober, Kepala Departemen Kajian Strategis BEM UI, Namora Siahaan, menjelaskan bahwa bus yang bergerak menuju kawasan Menara UOB digunakan untuk mengalihkan perhatian aparat. Sementara perhatian pengamanan tertuju ke kawasan tersebut, kelompok mahasiswa lain bergerak melalui jalur berbeda. Sebagian menggunakan angkutan umum dari arah utara, sedangkan kelompok lain mendekati Bundaran HI dari arah timur melalui Jalan Imam Bonjol. Dengan kata lain, mahasiswa tidak menggantungkan keberhasilan pada satu rombongan besar yang bergerak melalui satu jalan. Mereka membagi pergerakan agar dapat mendekati lokasi dari beberapa arah.
Di sini, strategi tersebut memperlihatkan pemahaman sederhana tentang cara kerja pengamanan. Aparat dapat memusatkan personel pada satu titik, tetapi perhatian yang terkonsentrasi di satu tempat berpotensi meninggalkan celah di tempat lain. Jika seluruh demonstran bergerak dalam satu barisan, arah pergerakan mereka lebih mudah diperkirakan. Namun, jika rombongan terbagi, menggunakan kendaraan berbeda, dan datang dari beberapa arah, pengamanan harus menghadapi lebih banyak kemungkinan. Mahasiswa tidak perlu menguasai seluruh jalan. Mereka hanya perlu menemukan jalan yang masih dapat dilalui untuk mencapai tujuan.
Barangkali inilah bagian yang paling mengganggu logika pengamanan yang terlalu mengandalkan perkiraan: sebuah kendaraan yang selama ini dianggap bagian dari rutinitas kota tiba-tiba memperoleh fungsi politik. Angkot T19 tidak perlu menyamar menjadi kendaraan lain. Ia tidak perlu mengganti warna, nomor trayek, atau bentuk bodinya. Ia cukup menjalankan fungsi yang sudah dikenal masyarakat, yaitu mengangkut penumpang. Perbedaannya terletak pada tujuan perjalanan dan siapa yang berada di dalamnya. Dalam situasi biasa, penumpang angkot menuju pasar, sekolah, atau tempat kerja. Pada hari itu, mereka menuju Bundaran HI untuk mengikuti demonstrasi.
Kecerdikan semacam ini mengandung satire yang tidak perlu dibuat-buat. Pengamanan dapat mengerahkan personel, memasang barikade, dan mengatur lalu lintas. Namun, bagaimana cara mengawasi sebuah kota yang setiap hari dipenuhi kendaraan umum? Apakah setiap angkot harus dicurigai membawa demonstran? Apakah setiap penumpang harus dianggap sebagai bagian dari mobilisasi politik? Jika demikian, pekerjaan pengamanan akan berubah menjadi kecurigaan tanpa batas terhadap kehidupan sehari-hari. Kendaraan yang seharusnya membantu warga bergerak justru harus diperlakukan seolah-olah setiap perjalanan menyimpan rencana perlawanan.
Rute yang ditempuh angkot juga memperlihatkan bahwa strategi itu tidak berjalan tanpa hambatan. Laporan Suara menyebut sejumlah kendaraan mencari jalur alternatif setelah muncul informasi bahwa kendaraan pengangkut mahasiswa tidak diperkenankan melintas di kawasan Pancoran. Rombongan bergerak melalui Kuningan dan Menteng. Sebagian angkot kemudian tertahan di Jalan Pamekasan dekat Menara blu karena barikade polisi di arah Bundaran HI. Mahasiswa yang tidak dapat melanjutkan perjalanan dengan kendaraan turun dan berjalan kaki. Kelompok lain mendekati lokasi melalui jalur berbeda.
Di sinilah keberhasilan Angkot Troya perlu dipahami secara tepat. Bukan berarti semua angkot berhasil menerobos setiap barikade atau seluruh mahasiswa tiba di tempat yang sama dengan cara yang sama. Sebagian kendaraan tertahan, sementara sebagian peserta harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Namun, strategi gabungan tersebut berhasil membawa mahasiswa ke kawasan Bundaran HI. Kendaraan tidak harus mencapai titik akhir untuk menyelesaikan tugasnya. Ia cukup membawa penumpang sedekat mungkin dengan tujuan, lalu perjalanan diteruskan dengan cara lain.
Ada kecerdikan dalam proses itu. Strategi yang baik tidak selalu ditentukan oleh kemampuan menjalankan rencana secara sempurna, tetapi oleh kemampuan menyesuaikannya ketika keadaan berubah. Ketika satu jalan tertutup, rombongan mencari jalan lain. Ketika kendaraan tertahan, peserta turun dan berjalan. Ketika perhatian aparat terpusat pada satu titik, kelompok lain bergerak melalui jalur berbeda. Mahasiswa tidak mengendalikan seluruh keadaan, tetapi mereka tidak membiarkan perubahan keadaan menghentikan seluruh pergerakan.
Dalam kisah Odiseus, keunggulan bukan terletak pada kekuatan fisik kuda kayu, melainkan pada cara orang memaknainya. Penduduk Troya melihat hadiah, bukan ancaman. Dalam demonstrasi Jakarta, aparat menghadapi persoalan berbeda. Mereka harus membedakan kendaraan umum yang membawa penumpang biasa dari kendaraan yang digunakan untuk mobilisasi demonstran. Namun, di tengah lalu lintas kota, perbedaan itu tidak selalu dapat dibaca hanya dari penampilan kendaraan. Angkot merah tersebut menunjukkan batas dari pengamanan yang terlalu bergantung pada pengenalan bentuk dan pola yang sudah diperkirakan.
Tentu, perbandingan itu tidak berarti mahasiswa telah mengalahkan aparat sebagaimana pasukan Yunani menaklukkan Troya. Demonstrasi bukan perang, dan ruang publik bukan kota musuh yang harus direbut. Justru di situlah letak ironinya, mahasiswa harus menyusun siasat menyerupai operasi militer hanya untuk mencapai tempat mereka hendak menyampaikan pendapat. Mereka tidak berusaha merebut gedung pemerintahan atau menguasai fasilitas negara. Mereka ingin sampai ke Bundaran HI, sebuah ruang publik yang menjadi salah satu tempat menyampaikan pendapat.
Perjalanan menuju lokasi juga memperlihatkan bahwa kendaraan hanyalah satu bagian dari kerja organisasi. Puluhan angkot dan minibus harus disiapkan, rombongan dibagi, jalur dipilih, dan perubahan situasi direspons. Sopir berperan membawa kendaraan melewati rute yang berubah. Mahasiswa harus mengetahui kapan melanjutkan perjalanan, kapan turun, dan ke mana kelompok lain bergerak. Belum tersedia informasi lengkap mengenai nama seluruh sopir atau kesepakatan setiap kendaraan. Namun, tanpa orang-orang yang mengemudikan angkot tersebut, strategi mobilisasi tidak akan berjalan. Di balik kecerdikan mahasiswa terdapat pula kerja para pengemudi yang membuat perjalanan itu mungkin.
Keberhasilan mencapai Bundaran HI tidak berarti perjalanan berakhir tanpa penghadangan. Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra mengaku diadang sejumlah orang berbaju putih dan anggota TNI ketika hendak menuju lokasi. Menurut keterangannya kepada IDN Times, ia diminta meminta izin kepada pihak yang disebut sebagai “pemilik wilayah”. Fathimah mempertanyakan siapa yang dimaksud dan sejak kapan Bundaran HI menjadi milik TNI. Sekelompok perempuan yang sedang memeriksa logistik kemudian membantunya berjalan menuju lokasi. Pengalaman itu menunjukkan bahwa setelah kendaraan menurunkan penumpang, mahasiswa masih harus menghadapi hambatan untuk mencapai tempat aksi.
Namun, sebagian mahasiswa berhasil sampai dan bergabung dengan massa. Itulah hasil konkret yang membuat strategi ini lebih dari sekadar cerita lucu tentang angkot yang berubah menjadi kuda Troya. Mahasiswa menggunakan kendaraan umum, membagi pergerakan, dan memanfaatkan jalur alternatif untuk mencapai tempat demonstrasi. Mereka tidak menunggu satu jalan dibuka. Mereka mencari jalan lain. Ketika kendaraan tidak dapat melanjutkan perjalanan, mereka berjalan. Ketika satu kelompok tertahan, kelompok lain bergerak dari arah berbeda.
Kita sering mengukur kekuatan sebuah gerakan dari jumlah orang yang berkumpul, besar suara pengeras, atau panjang barisan demonstran. Peristiwa ini mengingatkan bahwa ada ukuran lain yang tidak kalah penting: kemampuan berpikir dan mengorganisasi diri. Puluhan angkot dan minibus bukan sekadar hitungan kendaraan. Semuanya menjadi bagian dari keputusan kolektif untuk mengatasi hambatan. Mahasiswa menunjukkan bahwa kreativitas politik tidak selalu hadir dalam pidato atau slogan. Kadang-kadang ia muncul dalam pemilihan kendaraan, pembagian jalur, dan keputusan untuk turun lalu berjalan kaki ketika perjalanan terhenti.
Ada sesuatu yang menarik dari cara sebuah angkot memperoleh makna baru dalam peristiwa politik. Pada hari biasa, orang mungkin mengeluh karena angkot ngetem terlalu lama, berebut penumpang, atau berjalan lambat di tengah kemacetan. Pada 28 Oktober, kendaraan yang sama justru menjadi bagian dari strategi yang membuat pengamanan harus memperhitungkan lebih banyak kemungkinan. Angkot tidak berubah menjadi kendaraan canggih. Yang berubah adalah cara mahasiswa menggunakan benda yang sudah tersedia di sekitar mereka.
Odiseus tidak membangun tembok yang lebih tinggi untuk memasuki Troya. Ia mencari cara agar pertahanan kota itu tidak bekerja seperti yang diharapkan. Mahasiswa di Jakarta juga tidak memiliki kendali atas seluruh jalan dan aparat yang menjaganya. Mereka menggunakan kecerdikan untuk memanfaatkan ruang yang masih tersedia. Perbedaannya, tujuan mereka bukan menaklukkan sebuah kota, melainkan mencapai tempat untuk menyampaikan tuntutan.
Angkot Troya bukan cerita tentang kendaraan yang mengalahkan kekuasaan. Ia adalah cerita tentang kekuasaan yang tidak selalu mampu memperkirakan kecerdikan orang-orang yang dihadapinya. Pengamanan dapat membatasi jalan, tetapi tidak otomatis menghapus kemampuan warga untuk mencari rute lain. Angkot merah itu menjadi bukti bahwa sebuah strategi tidak harus terlihat megah untuk bekerja. Kadang-kadang, yang diperlukan hanya kendaraan biasa, pengemudi yang bersedia membawa penumpang, mahasiswa yang mampu membagi pergerakan, dan keberanian untuk melanjutkan perjalanan ketika jalan pertama tertutup.
Pada 28 Oktober, angkot T19 membawa mahasiswa menuju Bundaran HI. Kendaraan itu kembali menjalani trayek biasanya setelah demonstrasi berakhir. Penumpangnya berganti, tujuan perjalanannya kembali menjadi urusan sehari-hari, dan orang-orang mungkin tidak lagi memperhatikannya. Namun, hari itu telah memperlihatkan sesuatu yang lebih besar daripada sebuah angkot merah: bahwa kecerdikan dapat mengubah hal biasa menjadi siasat, dan bahwa tidak semua jalan menuju tujuan harus melewati pintu yang telah dijaga.

Tinggalkan Balasan