Pesawat kargo Pakistan jatuh di Laut Arab, puing-puing ditemukan setelah pencarian 12 jam

Otoritas Pakistan masih mencari lima awak pesawat setelah pesawat kargo Boeing 737 jatuh di Laut Arab dalam penerbangan dari Sharjah menuju Karachi.

Pintu masuk kompleks kargo di Bandara Internasional Jinnah, Karachi, setelah laporan hilangnya sebuah pesawat kargo.
Pintu masuk kompleks kargo di Bandara Internasional Jinnah, Karachi, Pakistan, setelah muncul laporan mengenai hilangnya sebuah pesawat kargo, 8 Juli 2026. Foto oleh Akhtar Soomro/Reuters

Tim pencarian Pakistan menemukan puing-puing pesawat kargo yang jatuh ke Laut Arab setelah operasi pencarian selama sekitar 12 jam melalui udara dan laut, sementara upaya menemukan lima awak pesawat yang masih hilang terus berlangsung. Hingga Rabu, penyebab kecelakaan belum diketahui dan penyelidikan resmi masih dilakukan oleh otoritas penerbangan sipil Pakistan.

Menurut Otoritas Penerbangan Sipil Pakistan, pesawat berbendera Pakistan tersebut merupakan Boeing 737 yang dioperasikan maskapai swasta K2 Airways. Pesawat sedang menjalankan penerbangan kargo dari Sharjah, Uni Emirat Arab, menuju Karachi ketika mengalami masalah navigasi pada Selasa malam sekitar pukul 21.00 waktu setempat.

Beberapa menit setelah melaporkan gangguan tersebut kepada pengatur lalu lintas udara, pesawat mulai kehilangan ketinggian secara drastis. Sekitar tiga menit kemudian, pesawat menghilang dari radar dan jatuh ke Laut Arab, sebagaimana ditunjukkan oleh data pelacakan penerbangan.

Angkatan Laut Pakistan mengerahkan kapal perang, pesawat patroli maritim, dan tim penyelamat untuk mencari lokasi jatuhnya pesawat. Setelah pencarian yang berlangsung semalaman hingga Rabu pagi, tim berhasil menemukan serpihan badan pesawat yang mengapung di perairan selatan Ormara, kota pesisir yang berjarak sekitar 240 kilometer di sebelah barat tujuan akhir penerbangan, Karachi.

Puing-puing yang ditemukan dalam kondisi rusak parah mengonfirmasi lokasi jatuhnya pesawat. Namun, hingga laporan terakhir, belum ada informasi mengenai keberadaan lima awak yang berada di dalam pesawat saat kecelakaan terjadi.

Maskapai K2 Airways sebelumnya menyatakan seluruh awak pesawat masih dinyatakan hilang dan berharap operasi pencarian dapat menemukan mereka dalam keadaan selamat. Dalam pernyataan resminya, maskapai juga menyampaikan doa dan dukungan kepada keluarga para awak yang terdampak.

Otoritas Penerbangan Sipil Pakistan menjelaskan bahwa kontak terakhir dengan pesawat terjadi ketika pesawat berada sekitar 155 mil laut di sebelah barat Karachi. Setelah itu komunikasi dengan menara pengawas terputus tanpa ada sinyal darurat lanjutan.

Data dari layanan pelacakan penerbangan Flightradar24 memberikan gambaran mengenai detik-detik terakhir penerbangan. Berdasarkan data tersebut, pesawat terbang dari Uni Emirat Arab melintasi Teluk Oman menuju Pakistan sebelum mengalami perubahan ketinggian yang tidak biasa.

Dalam waktu sekitar satu menit, pesawat kehilangan sekitar 5.000 kaki ketinggian. Setelah itu pesawat sempat kembali menambah ketinggian, namun manuver tersebut tidak berlangsung lama. Tidak lama kemudian, sinyal penerbangan menghilang saat pesawat mendekati wilayah udara Karachi.

Data terakhir yang terekam menunjukkan pesawat berada pada ketinggian sekitar 1.100 kaki di atas permukaan laut dengan laju penurunan vertikal mencapai sekitar 22.400 kaki per menit atau setara sekitar 255 mil per jam. Laju penurunan yang sangat tinggi itu mengindikasikan pesawat mengalami kondisi darurat sesaat sebelum menghantam permukaan laut.

Penyebab pasti kecelakaan belum diketahui. Tim investigasi diperkirakan akan memusatkan perhatian pada laporan awal mengenai gangguan navigasi, kondisi teknis pesawat, komunikasi antara awak dengan pengatur lalu lintas udara, serta kemungkinan faktor cuaca maupun kesalahan operasional.

Operasi pencarian diperkirakan akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan. Selain mencari korban, tim penyelidik juga berupaya menemukan perekam data penerbangan atau flight data recorder serta perekam suara kokpit atau cockpit voice recorder, yang menjadi kunci untuk mengungkap penyebab kecelakaan.

Insiden ini kembali menyoroti catatan keselamatan penerbangan di Pakistan. Kecelakaan udara besar terakhir terjadi pada 2020 ketika sebuah Airbus A320 milik maskapai nasional Pakistan jatuh di kawasan permukiman Karachi setelah gagal mendarat, menewaskan 97 orang. Empat tahun sebelumnya, pada 2016, pesawat milik Pakistan International Airlines juga mengalami kecelakaan setelah salah satu mesinnya gagal berfungsi dan terbakar, menyebabkan 48 orang tewas.

Kecelakaan terbaru ini menjadi pengingat bahwa keselamatan penerbangan tetap menjadi tantangan besar bagi industri aviasi Pakistan. Sementara operasi pencarian terus dilakukan di Laut Arab, perhatian kini tertuju pada hasil investigasi yang diharapkan dapat menjelaskan penyebab pesawat kehilangan kendali hanya beberapa menit setelah melaporkan gangguan navigasi dalam perjalanan menuju Karachi.

Related

Tinggalkan Balasan

Popular