
Politik Prancis memasuki babak baru setelah pengadilan pada Selasa membuka kembali jalan bagi Marine Le Pen untuk mencalonkan diri sebagai presiden pada pemilu tahun depan. Putusan yang mencabut larangan pencalonannya sekaligus mengakhiri spekulasi selama berbulan-bulan mengenai siapa yang akan memimpin kubu sayap kanan, dengan Le Pen menegaskan bahwa dirinya, bukan Jordan Bardella, akan menjadi kandidat utama National Rally.
Keputusan tersebut mengubah peta politik menjelang berakhirnya masa jabatan Presiden Emmanuel Macron pada Mei tahun depan. Namun, di balik kepastian mengenai pencalonan Le Pen, muncul pertanyaan baru mengenai bagaimana hubungan politik antara Le Pen dan Bardella akan berkembang setelah pemimpin muda berusia 30 tahun itu menghabiskan lebih dari setahun mempersiapkan diri sebagai calon presiden pengganti ketika masa depan politik mentornya sempat terlihat suram.
Dalam pernyataan pertamanya setelah memastikan pencalonan, Le Pen menggambarkan dirinya dan Bardella sebagai pasangan politik yang saling melengkapi. Ia mengatakan kepada publik Prancis bahwa mereka menawarkan sebuah duet yang terdiri atas calon presiden dan calon perdana menteri, yang menurutnya merupakan kombinasi terbaik untuk memimpin negara.
“Kami menawarkan kepada rakyat Prancis sebuah duet, seorang presiden republik dan seorang perdana menteri,” kata Le Pen. “Saya pikir duet ini adalah duet yang menang.”
Bagi Le Pen, yang kini berusia 57 tahun, pencalonan ini menjadi upaya keempat untuk merebut Istana Élysée. Selama puluhan tahun ia menjadi wajah utama politik sayap kanan Prancis, sekaligus berupaya mengubah citra partai yang didirikan ayahnya, Jean-Marie Le Pen, pada 1972 sebagai Front National. Partai tersebut sejak lama dikenal karena retorika antiimigrasi, nasionalisme keras, dan kontroversi terkait tuduhan rasisme serta antisemitisme.
Di bawah kepemimpinan Marine Le Pen, Front National berganti nama menjadi National Rally sebagai bagian dari strategi memperluas dukungan politik dan menghapus citra ekstrem yang melekat selama beberapa dekade.
Sementara itu, Bardella muncul sebagai salah satu politikus paling menonjol di generasi baru Prancis. Berasal dari kawasan pinggiran Paris dan keluarga keturunan imigran Italia, ia berkembang dari aktivis muda menjadi presiden National Rally hanya dalam waktu sekitar satu dekade.
Banyak pengamat menilai keduanya menawarkan kombinasi yang saling mengisi. Le Pen dikenal sebagai populis yang lebih skeptis terhadap Uni Eropa dan korporasi besar, sementara Bardella dipandang lebih ramah terhadap dunia usaha dan lebih moderat dalam memandang hubungan Prancis dengan Uni Eropa.
Penampilan Bardella yang modern, aktif di media sosial, serta citra yang lebih muda dianggap membantu memperluas daya tarik National Rally, terutama di kalangan pemilih muda yang sebelumnya sulit dijangkau partai tersebut.
Namun, sejumlah analis menilai duet itu juga berpotensi menghadapi tantangan. Selama sekitar 15 bulan terakhir, Bardella dipersiapkan sebagai pewaris politik Le Pen ketika larangan pencalonan terhadap mentornya diperkirakan akan tetap berlaku. Kini, ia kembali menempati posisi pendamping setelah sebelumnya diproyeksikan sebagai tokoh utama.
Philippe Marlière, profesor politik Prancis dan Eropa di University College London, mengatakan Le Pen tetap memiliki modal politik yang jauh lebih besar dibandingkan Bardella.
Menurutnya, meski berasal dari dinasti politik Le Pen, Marine telah berhasil mengambil jarak dari warisan politik ayahnya melalui proses panjang selama bertahun-tahun.
“Dia memiliki aset politik yang jauh lebih besar dibandingkan Bardella,” kata Marlière. “Dia telah berada di panggung politik begitu lama.”
Meski demikian, persoalan hukum Le Pen belum sepenuhnya berakhir. Walaupun larangan pencalonannya dicabut, pengadilan tetap mempertahankan vonis terhadap dirinya dalam perkara penggelapan dana, yang saat ini masih dalam proses banding.
Beberapa analis berpendapat justru pengalaman menghadapi proses hukum dapat memperkuat narasi politik Le Pen sebagai tokoh yang mengklaim menjadi sasaran sistem politik dan hukum Prancis, sebuah pesan yang selama ini efektif menarik simpati sebagian pendukung National Rally.
Jean-Philippe Tanguy, anggota parlemen National Rally yang dikenal dekat dengan Le Pen, bahkan menggambarkan perbedaan posisi keduanya melalui analogi sederhana.
“Jalur Marine adalah padang rumput, sedangkan jalur Jordan melewati hutan,” ujarnya beberapa hari sebelum putusan pengadilan diumumkan.
Di sisi lain, Bardella berusaha membangun citra berbeda dari Le Pen. Selain mengusung isu pembatasan imigrasi dan penguatan kedaulatan nasional, ia juga mencoba mendekati kalangan pebisnis Prancis dan membuka peluang kerja sama dengan kelompok kanan-tengah, sesuatu yang hampir mustahil dilakukan pada era Jean-Marie Le Pen.
Pendekatan tersebut menuai kritik dari sebagian pihak yang menilai Bardella mulai meninggalkan identitas populis partai. Kehidupan pribadinya juga menjadi sorotan setelah tampil bersama kekasihnya, Putri Maria Carolina de Bourbon des Deux-Siciles, seorang bangsawan Italia sekaligus influencer media sosial. Hubungan tersebut dinilai sebagian pengamat berpotensi mengurangi daya tariknya di kalangan pemilih kelas pekerja yang selama ini menjadi basis utama National Rally.

Raphaël Llorca, analis dari Jean-Jaurès Foundation, mengatakan hasil diskusi kelompok dengan para pemilih menunjukkan banyak orang sebenarnya belum benar-benar mengenal sosok Bardella di luar penampilannya sebagai politikus muda.
Menurutnya, para pemilih belum mengetahui karakter pribadi Bardella, minatnya, kelemahannya, maupun pengalaman hidup yang membentuk dirinya sebagai pemimpin.
Di bidang kebijakan, perbedaan antara Le Pen dan Bardella juga mulai terlihat. Bardella dinilai lebih terbuka terhadap kerja sama dengan pusat kekuasaan Eropa dibandingkan mentornya. Ia bahkan sempat memuji kebijakan migrasi Kanselir Jerman Friedrich Merz dan berupaya meredakan kekhawatiran bahwa Prancis akan meninggalkan sekutu-sekutunya di Eropa Timur di tengah perang Ukraina.
Meski tetap mendukung keluarnya Prancis dari struktur komando militer terpadu NATO, Bardella mengatakan langkah tersebut tidak akan dilakukan selama konflik di Ukraina masih berlangsung.
Ia juga berusaha menjaga jarak dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Bardella menolak dukungan terbuka dari pemerintahan Trump yang sebelumnya menyatakan dukungan kepada partai-partai nasionalis di Eropa dan bahkan mengirim pejabat untuk melobi setelah Le Pen divonis dalam kasus penggelapan dana.
Penasihat Bardella, Pierre-Romain Thionnet, mengatakan partainya justru memandang berkurangnya pengaruh Amerika Serikat di Eropa sebagai perkembangan yang positif.
Meski terdapat sejumlah perbedaan gaya maupun pendekatan kebijakan, para petinggi National Rally menegaskan tidak ada perpecahan di antara kedua tokoh tersebut. Mereka justru melihat kombinasi pengalaman Le Pen dan energi politik Bardella sebagai kekuatan utama menghadapi pemilu presiden mendatang.

Philippe Olivier, tokoh senior National Rally, mengatakan pendukung kelas pekerja masih memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan Le Pen, sementara Bardella lebih mudah diterima generasi muda.
“Pada akhirnya tidak ada perbedaan di antara mereka,” katanya.
Namun, sebagian pengamat meyakini keberhasilan strategi tersebut baru akan benar-benar diuji ketika kampanye resmi dimulai. Setelah berbulan-bulan dipersiapkan sebagai calon presiden, Bardella kini harus kembali memainkan peran sebagai pendamping, sementara Le Pen memasuki pertarungan yang kemungkinan menjadi kesempatan terakhirnya untuk mencapai jabatan tertinggi di Prancis setelah tiga kali gagal pada pemilu sebelumnya.