Trump ancam putus hubungan dagang dengan Spanyol di KTT NATO

Ancaman Presiden Amerika Serikat terhadap Spanyol memicu respons Uni Eropa dan memunculkan kekhawatiran baru mengenai potensi konflik dagang trans-Atlantik di tengah ketegangan geopolitik yang terus meningkat.

Donald Trump usai mengikuti sesi foto bersama para kepala negara dan kepala pemerintahan pada KTT NATO di Ankara, Turki.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump usai mengikuti sesi foto bersama para kepala negara dan kepala pemerintahan pada KTT NATO di Ankara, Turki, 8 Juli 2026. Foto oleh Jakub Porzycki/Nur/Getty Images

ANKARA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu kontroversi dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Ankara, Turki, Rabu, dengan melontarkan ancaman terhadap Spanyol. Di hadapan wartawan, Trump mengatakan dirinya tidak lagi menginginkan hubungan dagang maupun kunjungan dengan negara Eropa tersebut, memperdalam ketegangan yang selama ini membayangi hubungan Washington dan Madrid.

“Saya tidak ingin ada urusan lagi dengan Spanyol. Hentikan semua perdagangan dengan Spanyol, termasuk kunjungan,” kata Trump.

Ia bahkan melontarkan kritik yang lebih keras dengan menyebut Spanyol sebagai “orang-orang yang buruk” dan “tidak memiliki harapan”, sebuah pernyataan yang langsung memicu reaksi dari pemerintah Spanyol maupun Uni Eropa.

Meski demikian, belum jelas apakah Trump benar-benar memiliki kewenangan maupun keinginan politik untuk melaksanakan ancaman tersebut. Selama beberapa tahun terakhir, Trump beberapa kali mengeluarkan ancaman serupa terhadap berbagai negara dan wilayah, termasuk China, Iran, Greenland, dan Oman, namun sebagian besar tidak pernah sepenuhnya diwujudkan.

Dalam kasus Spanyol, penerapan sanksi perdagangan secara sepihak juga menghadapi hambatan hukum. Sebagai anggota Uni Eropa, kebijakan perdagangan luar negeri Spanyol berada di bawah kewenangan Komisi Eropa sehingga setiap langkah yang menyasar Madrid pada dasarnya akan berdampak pada seluruh blok beranggotakan 27 negara tersebut.

Uni Eropa sendiri baru beberapa pekan lalu mencapai kesepakatan perdagangan terbaru dengan Amerika Serikat. Namun, Trump telah memberi sinyal ingin meninjau kembali komitmen tersebut setelah sebelumnya mengancam akan mengenakan tarif hingga 100 persen terhadap negara-negara yang menerapkan pajak layanan digital bagi perusahaan teknologi Amerika.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez menanggapi ancaman Trump dengan nada tenang. Menurutnya, hubungan ekonomi internasional dibangun oleh pelaku usaha, bukan semata-mata oleh pemerintah.

“Hubungan dagang dibangun antara perusahaan, bukan antara pemerintah,” ujar Sánchez.

Komisi Eropa juga segera memberikan dukungan kepada Madrid. Juru bicara Komisi Eropa, Olof Gill, menegaskan bahwa Washington diharapkan tetap menghormati komitmen yang telah disepakati bersama.

“Kami berharap Amerika Serikat memenuhi komitmennya sebagaimana kami juga telah memenuhi komitmen kami,” katanya.

Gill menambahkan bahwa Komisi Eropa akan terus memastikan kepentingan seluruh negara anggota Uni Eropa terlindungi apabila muncul langkah-langkah yang merugikan salah satu anggotanya.

Sejumlah analis memperingatkan bahwa apabila ancaman Trump benar-benar diwujudkan, dampaknya tidak hanya akan dirasakan Spanyol, tetapi juga seluruh Uni Eropa.

Jacob Funk Kirkegaard, peneliti senior lembaga kajian Bruegel di Brussel, mengatakan tindakan terhadap Spanyol secara efektif berarti menyerang keseluruhan pasar Uni Eropa.

“Jika itu dilakukan, maka sasarannya adalah seluruh Uni Eropa dan konsekuensinya tentu saja dapat memicu perang dagang,” ujarnya.

Meski demikian, Kirkegaard meragukan kemampuan Trump untuk mengimplementasikan ancaman tersebut. Menurutnya, pernyataan presiden lebih merupakan luapan emosi yang bertujuan mengalihkan perhatian publik dari perkembangan konflik di Timur Tengah.

“Apakah ia memiliki dasar hukum untuk melakukan semua perubahan yang ia sampaikan? Jawabannya sangat jelas, tidak,” katanya.

Dari sisi hukum domestik, ruang gerak Trump juga tidak sepenuhnya bebas. Mahkamah Agung Amerika Serikat pada Februari lalu membatasi kewenangan presiden untuk secara sepihak memberlakukan tarif terhadap negara lain tanpa dasar hukum yang memadai.

Selain kendala hukum, Trump juga diperkirakan akan menghadapi tekanan dari pasar keuangan apabila benar-benar membuka kembali konflik dagang dengan Eropa. Selama masa kepresidenannya, pasar keuangan beberapa kali bereaksi negatif terhadap kebijakan perdagangan agresif yang kemudian mendorong Gedung Putih melunakkan posisinya.

Perselisihan Trump dengan Spanyol sebenarnya telah berlangsung cukup lama. Salah satu sumber utama ketegangan adalah persoalan belanja pertahanan NATO. Trump berulang kali mengkritik Madrid karena tidak bersedia mengikuti target pengeluaran pertahanan sebesar 5 persen dari produk domestik bruto sebagaimana didorong Washington dan beberapa anggota NATO lainnya.

Sebagai respons, Spanyol telah meningkatkan anggaran pertahanannya dan berkomitmen menaikkan belanja militer hingga sekitar 2,1 persen dari produk domestik bruto. Namun angka tersebut masih berada jauh di bawah target yang diinginkan Trump.

Hubungan kedua negara semakin memburuk setelah Sánchez mengkritik operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran sebagai tindakan yang melanggar hukum internasional. Pemerintah Spanyol juga menolak memberikan izin penggunaan pangkalan militernya bagi operasi Amerika selama konflik berlangsung.

Keputusan tersebut membuat Trump semakin keras menyerang Madrid dan kembali mengancam akan menghentikan hubungan dagang.

Isu imigrasi juga menjadi titik perbedaan mendasar antara kedua pemimpin. Pemerintahan Sánchez dikenal menerapkan kebijakan yang relatif terbuka terhadap migran dan beberapa kali mempromosikan pendekatan tersebut sebagai alternatif atas kebijakan populis yang berkembang di sejumlah negara Barat.

Pedro Sánchez menyampaikan konferensi pers di sela-sela KTT NATO di Ankara, Turki.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez menyampaikan konferensi pers di sela-sela KTT NATO di Ankara, Turki, 8 Juli 2026. Foto oleh Chris McGrath/Getty Images

Dalam sebuah artikel opini yang diterbitkan The New York Times, Sánchez bahkan menyebut pendekatan pemerintahannya sebagai pilihan yang lebih baik dibandingkan kebijakan para pemimpin bergaya “Make America Great Again” atau MAGA yang identik dengan Trump.

Kebijakan migrasi tersebut turut berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Spanyol. Menurut Bank of Spain, ekonomi negara itu diperkirakan tumbuh sekitar 2,3 persen tahun ini, menjadikannya salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di Eropa.

Secara ekonomi, Spanyol juga dinilai tidak terlalu bergantung pada pasar Amerika Serikat dibandingkan sejumlah negara Eropa lainnya. Miguel Otero-Iglesias, analis senior Elcano Royal Institute, mengatakan perdagangan dengan Amerika Serikat hanya menyumbang sekitar 4,4 persen dari total produk domestik bruto Spanyol, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata kawasan euro yang mencapai sekitar 10 persen.

Selain itu, Spanyol justru mengalami defisit perdagangan dengan Amerika Serikat sehingga memiliki tingkat kerentanan yang relatif lebih rendah terhadap tekanan ekonomi dari Washington.

Meski demikian, pengalaman pada masa jabatan pertama Trump menunjukkan bahwa pembatasan perdagangan tertentu tetap dapat memberikan dampak signifikan. Saat itu pemerintah Amerika Serikat mengenakan tarif terhadap ekspor zaitun hitam dari Spanyol dengan alasan adanya subsidi yang dianggap tidak adil.

Kebijakan tersebut kemudian dibatalkan oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Namun sebelum keputusan itu keluar, pangsa pasar zaitun hitam Spanyol di Amerika Serikat telah mengalami penurunan tajam.

Di sisi lain, hubungan investasi antara kedua negara tetap berlangsung kuat. Amerika Serikat masih menjadi investor asing langsung terbesar di Spanyol. Infrastruktur modern, tenaga kerja terampil, serta biaya listrik yang relatif rendah berkat investasi besar dalam energi terbarukan menjadikan Spanyol tujuan investasi yang menarik, termasuk bagi proyek-proyek kecerdasan buatan yang membutuhkan pasokan energi besar.

Dalam laporan investasi tahun 2025, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyebut Spanyol sebagai salah satu destinasi investasi yang menarik karena memiliki infrastruktur kelas dunia, pasar domestik yang besar, tenaga kerja berkualitas, dan biaya energi yang kompetitif.

Meski retorika Trump kembali meningkatkan ketegangan politik antara Washington dan Madrid, para pengamat menilai hubungan ekonomi kedua negara masih memiliki fondasi yang kuat. Ancaman perdagangan yang disampaikan di Ankara lebih mencerminkan tekanan politik dalam forum NATO dibandingkan perubahan kebijakan yang segera diterapkan. Namun, pernyataan tersebut kembali menunjukkan bahwa hubungan Amerika Serikat dengan sejumlah sekutu tradisionalnya di Eropa tetap menghadapi ketidakpastian selama Trump memimpin Gedung Putih.

Related

Tinggalkan Balasan

Popular