
ANKARA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi pusat perhatian dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Ankara, Turki, Rabu. Dalam rentang waktu hanya beberapa jam, Trump mengubah nada bicaranya secara drastis, dari melontarkan kritik keras terhadap sejumlah sekutu Eropa menjadi menyebut pertemuan para pemimpin NATO sebagai ajang yang dipenuhi semangat persatuan dan saling menghormati.
Perubahan sikap itu mencerminkan gaya diplomasi Trump yang kerap sulit diprediksi. Pada sesi pagi, ia berulang kali menyatakan ketidakpuasannya terhadap NATO dan menuding sejumlah negara anggota tidak memberikan kontribusi yang cukup bagi keamanan bersama. Namun saat konferensi pers penutupan berlangsung pada malam hari, Trump justru menggambarkan suasana pertemuan sebagai penuh kehangatan.
“Saya hanya ingin mengatakan ada begitu banyak rasa saling menghormati di ruangan itu,” kata Trump kepada wartawan.
Ia bahkan mengklaim sejumlah pemimpin dunia secara langsung menyampaikan dukungan kepadanya selama pertemuan tertutup.
“Mereka berkata, ‘Tuan Presiden, kami mencintai Anda.’ Mereka adalah orang-orang dewasa yang mengatakan hal itu. Mungkin mereka sedang mencoba memengaruhi saya, dan dalam beberapa hal mereka berhasil karena ada persatuan yang luar biasa,” ujarnya.
Di balik perubahan retorika tersebut, KTT NATO menghasilkan sejumlah perkembangan penting. Aliansi pertahanan itu menyatakan komitmen menyediakan bantuan militer senilai sekitar 80 miliar dolar AS bagi Ukraina sepanjang tahun ini dan tahun depan. Paket tersebut mencakup kombinasi komitmen baru maupun bantuan yang sebelumnya telah dijanjikan.
Trump juga mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan memberikan lisensi kepada Ukraina untuk memproduksi sistem pertahanan udara Patriot di dalam negeri. Keputusan itu memenuhi salah satu permintaan utama Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang selama berbulan-bulan mendesak Washington mengizinkan industri pertahanan Ukraina memproduksi sistem pencegat rudal tersebut.
Selain isu Ukraina, hubungan bilateral dengan Turki turut menjadi perhatian. Trump mengatakan dirinya masih mempertimbangkan apakah akan mengizinkan Ankara kembali membeli jet tempur F-35 buatan Amerika Serikat. Menurutnya, ia memiliki kecenderungan untuk menyetujui penjualan tersebut karena Turki tidak membantu Iran selama konflik bersenjata antara Teheran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Trump juga kembali menegaskan kedekatannya dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Sebelum KTT berlangsung, ia bahkan sempat menyatakan akan membawa “hadiah” yang dapat membuat Erdogan senang, meski pada akhirnya belum mengumumkan keputusan terkait F-35.
Konferensi pers Trump di Ankara berlangsung selama sekitar 40 menit dan menarik perhatian ratusan jurnalis dari berbagai negara. Para wartawan berdesakan untuk memperoleh kesempatan mengajukan pertanyaan kepada presiden yang dikenal sering melontarkan pernyataan di luar dugaan.
“Persnya banyak sekali, luar biasa,” kata Trump sesaat sebelum mulai menjawab pertanyaan.
Di belakangnya berdiri Menteri Luar Negeri, Menteri Pertahanan, dan Menteri Keuangan Amerika Serikat yang lebih banyak memilih diam ketika Trump berpindah-pindah membahas berbagai isu internasional.
Salah satu topik utama yang mendominasi konferensi pers adalah meningkatnya kembali ketegangan dengan Iran. Ketika KTT NATO berlangsung, konflik antara kedua negara kembali memanas setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap sejumlah sasaran di Iran sebagai respons atas serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Sebagai balasan, militer Iran mengumumkan telah menyerang sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait.
Trump menggunakan bahasa yang sangat keras saat membahas Iran. Pada sesi pagi KTT, ia menyebut para pemimpin Iran sebagai “orang-orang sakit” dan mengecam tindakan Teheran yang menurutnya tetap melakukan serangan meskipun sedang menggelar prosesi pemakaman nasional bagi Ayatollah Ali Khamenei.
“Kami bilang silakan lakukan urusan pemakaman kalian, tetapi mereka justru menembakkan roket ke kapal-kapal,” ujar Trump.
Ia juga melontarkan komentar bernada menghina terhadap kepemimpinan Iran, menggambarkan mereka sebagai pihak yang bertindak tidak rasional.
Di samping Trump selama sebagian besar pertemuan duduk Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte yang memilih tetap tenang dan tidak memberikan reaksi terhadap berbagai pernyataan kontroversial tersebut.
KTT tahun ini juga memperlihatkan perubahan sikap sejumlah negara Eropa terhadap Trump. Jika pada masa lalu banyak pemimpin berusaha menghindari konfrontasi langsung, kini beberapa negara mulai secara terbuka menentang tekanan Washington, terutama terkait belanja pertahanan dan kebijakan Timur Tengah.
Salah satu sasaran utama kritik Trump adalah Spanyol. Ia mengecam Madrid karena menolak memenuhi tuntutan Amerika Serikat agar negara-negara Eropa meningkatkan anggaran pertahanan secara signifikan. Trump juga menyoroti keputusan Spanyol yang tidak mengizinkan pangkalan militernya digunakan dalam operasi Amerika Serikat terhadap Iran.
“Saya tidak ingin ada urusan dengan Spanyol,” katanya.
Trump bahkan menyerukan penghentian hubungan dagang dan kunjungan ke Spanyol, meski tidak menjelaskan secara rinci maksud pernyataannya. Ia juga tidak menyinggung fakta bahwa kebijakan perdagangan Spanyol berada di bawah kerangka negosiasi bersama Uni Eropa.
Dalam kesempatan lain, Trump menyebut Spanyol sebagai negara yang “buruk” dan kembali menegaskan Amerika Serikat tidak akan lagi berdagang dengan negara tersebut.
Namun hanya beberapa jam kemudian, nada bicaranya kembali berubah. Dalam konferensi pers penutupan, Trump menyebut KTT NATO sebagai pertemuan yang sangat sukses dan memberikan pujian kepada Mark Rutte atas kepemimpinannya.
“Ini adalah KTT yang sangat berhasil,” kata Trump.
Meski tetap mengkritik Spanyol, ia mengatakan hampir seluruh negara anggota NATO telah menunjukkan sikap yang baik.
“Spanyol memang sangat buruk, tetapi Italia baik, dan hampir semua negara juga baik. Mereka hanya sempat mengalami momen yang kurang baik,” ujarnya.
Sementara itu, Mark Rutte berupaya meredam ketegangan yang muncul selama pertemuan. Menurutnya, berbagai perbedaan pandangan yang muncul justru memperkuat aliansi.
“KTT ini menghasilkan NATO yang lebih kuat, lebih adil, dan lebih mampu menghadapi tantangan keamanan bersama,” kata Rutte.
Ia juga menegaskan Amerika Serikat tetap memiliki komitmen penuh terhadap NATO meskipun Presiden Trump berkali-kali melontarkan kritik kepada para sekutu.
“Perbedaan pendapat tidak melemahkan kami. Justru pada akhirnya kami kembali bersatu. Hari ini menjadi bukti bahwa Amerika Serikat tetap berkomitmen penuh terhadap NATO,” ujar Rutte.
Rangkaian peristiwa di Ankara kembali memperlihatkan bagaimana gaya diplomasi Trump terus menjadi faktor yang membentuk dinamika hubungan transatlantik. Di satu sisi, ia tetap menggunakan retorika konfrontatif terhadap sekutu-sekutu tradisional Amerika Serikat. Namun di sisi lain, pemerintahannya masih memainkan peran sentral dalam keputusan-keputusan strategis NATO, mulai dari bantuan militer bagi Ukraina hingga arah kerja sama keamanan kawasan. KTT di Ankara pun berakhir dengan pesan yang saling bertolak belakang: kritik tajam terhadap sekutu pada pagi hari, lalu klaim tentang persatuan dan solidaritas aliansi hanya beberapa jam kemudian.