Meksiko selidiki dugaan peran FBI dalam penangkapan El Mayo

Pemerintah Meksiko menyelidiki dugaan bahwa FBI terlibat langsung dalam penangkapan bos Kartel Sinaloa Ismael "El Mayo" Zambada García pada 2024, memicu pertanyaan baru mengenai pelanggaran kedaulatan dan memburuknya hubungan dengan Amerika Serikat.

Tampilan halaman depan sejumlah surat kabar Meksiko yang memberitakan penangkapan Ismael 'El Mayo' Zambada di Mexico City.
Tampilan halaman depan sejumlah surat kabar Meksiko yang memberitakan penangkapan Ismael “El Mayo” Zambada di Mexico City, Meksiko, 26 Juli 2024. Foto oleh Rodrigo Oropeza/AFP/Getty Images

Pemerintah Meksiko membuka penyelidikan baru terhadap dugaan keterlibatan langsung pemerintah Amerika Serikat dalam penangkapan gembong narkoba Ismael “El Mayo” Zambada García, salah satu pendiri Kartel Sinaloa. Langkah tersebut menyusul munculnya laporan yang menyebut Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) berperan aktif dalam operasi yang membawa Zambada ke wilayah Amerika Serikat pada 2024, bertentangan dengan penjelasan resmi Washington selama ini.

Kantor Kejaksaan Agung Meksiko pada Rabu menyatakan tengah menyelidiki laporan media daring Pie de Nota yang mengaitkan FBI dengan penangkapan El Mayo. Laporan tersebut mengutip pernyataan yang diklaim berasal dari FBI, yang menyebut para agen khusus lembaga itu “melaksanakan penangkapan dan pemindahan salah satu target utama pemerintah Amerika Serikat.”

Sejak penangkapan Zambada pada Juli 2024, pemerintah Amerika Serikat secara konsisten menyatakan bahwa tidak ada agen Amerika yang terlibat dalam operasi di wilayah Meksiko. Washington menegaskan bahwa aparat Amerika baru mengambil alih tahanan setelah Zambada tiba di Amerika Serikat.

FBI belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terbaru mengenai tuduhan tersebut. Sementara itu, Ken Salazar, yang menjabat sebagai Duta Besar Amerika Serikat untuk Meksiko saat penangkapan terjadi, kembali menegaskan pernyataannya pada 2024 bahwa operasi tersebut “bukan operasi kami.”

Perselisihan antara kedua negara berpusat pada satu pertanyaan mendasar: apakah FBI atau lembaga pemerintah Amerika lainnya menjalankan operasi penegakan hukum di wilayah Meksiko tanpa persetujuan pemerintah setempat. Jika terbukti benar, tindakan tersebut dapat dianggap sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan Meksiko dan berpotensi memperburuk hubungan bilateral yang sudah berada dalam tekanan.

El Mayo, yang selama puluhan tahun menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam perdagangan narkotika internasional, tiba di Amerika Serikat setelah diduga dikhianati oleh Joaquín Guzmán López, putra pemimpin kartel Joaquín “El Chapo” Guzmán. Menurut berbagai laporan sebelumnya, Guzmán López membujuk El Mayo menaiki sebuah pesawat kecil dengan alasan palsu sebelum menerbangkannya ke sebuah bandara di dekat El Paso, Texas.

Pemerintah Meksiko mengaku sama sekali tidak mengetahui operasi tersebut ketika berlangsung. Sejak saat itu, pemerintah berulang kali meminta Washington memberikan penjelasan lengkap mengenai peran aparat Amerika dalam penangkapan salah satu buronan narkotika paling dicari di dunia tersebut.

Dalam konferensi pers pada Rabu, Jaksa Agung Meksiko Ernestina Godoy Ramos mengatakan laporan media terbaru, ditambah sejumlah bukti yang dikumpulkan penyidik Meksiko, mengindikasikan bahwa FBI mungkin mengatur atau membantu pelaksanaan operasi sebelum El Mayo meninggalkan wilayah Meksiko.

Menurut Godoy Ramos, apabila informasi tersebut terbukti benar, tindakan itu dapat dikategorikan sebagai serangkaian pelanggaran terhadap hukum Meksiko maupun hukum internasional. Ia juga menyebut kemungkinan adanya kesepakatan yang dilakukan di luar mekanisme hukum serta dugaan bahwa seorang diplomat Amerika telah memberikan informasi yang tidak benar kepada pemerintah Meksiko.

Perselisihan terbaru muncul ketika hubungan Washington dan Mexico City semakin tegang di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. Trump terus mendesak Meksiko meningkatkan perang melawan kartel narkoba, termasuk menangkap serta mengekstradisi pejabat yang dituduh bekerja sama dengan organisasi kriminal.

Trump juga berulang kali menyatakan kesediaannya melakukan operasi militer sepihak di wilayah Meksiko untuk menghancurkan kartel narkoba. Gagasan tersebut secara tegas ditolak Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum yang menegaskan bahwa kedaulatan negaranya tidak dapat dikompromikan.

Di tengah meningkatnya ketegangan politik itu, Ken Salazar kembali mempertahankan pernyataan lamanya. Dalam unggahan media sosial pada Rabu, ia menegaskan bahwa pemerintah Amerika telah memberi tahu Meksiko sejak awal bahwa pesawat yang digunakan bukan milik pemerintah Amerika, pilotnya bukan personel Amerika, dan operasi tersebut bukan operasi Amerika Serikat.

Meski demikian, Salazar tidak secara eksplisit menutup kemungkinan adanya bentuk dukungan lain dari lembaga pemerintah Amerika terhadap operasi tersebut.

Kontroversi semakin berkembang setelah diketahui bahwa pesawat Beechcraft King Air yang digunakan membawa El Mayo dan Guzmán López ke Amerika Serikat kini dipinjamkan FBI kepada War Eagles Air Museum di Santa Teresa, New Mexico, selama dua tahun.

Direktur sementara museum, Tomas Peralta, mengatakan terdapat keterangan yang dipasang di samping pesawat tersebut. Tulisan itu menjelaskan peran FBI dalam operasi yang diberi nama sandi “Operation Air Kings.”

Dalam deskripsi tersebut, dengan identitas dua agen disamarkan, disebutkan bahwa seorang asisten agen khusus penanggung jawab bersama seorang agen pengawas FBI “berhasil melaksanakan penangkapan yang sangat kompleks, rahasia, dan berani terhadap dua buronan paling dicari di dunia.”

Peralta mengatakan kepada The New York Times bahwa seluruh keterangan yang dipasang di museum berasal dari informasi yang diberikan langsung oleh FBI. Namun, ia tidak menjelaskan lebih jauh mengenai rincian operasi tersebut.

Godoy Ramos mengungkapkan bahwa penyidik Meksiko telah mendatangi kantor FBI di El Paso pada Agustus 2024 untuk memeriksa sejumlah barang bukti. Mereka juga telah melakukan inspeksi terhadap pesawat di Bandara Santa Teresa.

Namun, menurutnya, otoritas Amerika tidak mengizinkan penyidik Meksiko melakukan seluruh langkah investigasi yang diperlukan. Permintaan informasi penting, termasuk identitas pilot pesawat, juga disebut tidak dipenuhi.

Ia menambahkan bahwa pihak Amerika bahkan memberikan identitas pesawat yang “keliru atau tidak akurat,” sehingga semakin memperkuat alasan pemerintah Meksiko untuk melanjutkan penyelidikan.

Kasus El Mayo kini tidak lagi sekadar menyangkut penangkapan seorang bos kartel narkoba, tetapi telah berkembang menjadi persoalan diplomatik yang sensitif. Apabila penyelidikan Meksiko menemukan bukti bahwa aparat Amerika memang melakukan operasi rahasia di wilayahnya tanpa izin, sengketa tersebut berpotensi memperburuk hubungan kedua negara yang selama ini bekerja sama dalam pemberantasan kejahatan lintas negara dan perdagangan narkotika.

Related

Tinggalkan Balasan

Popular