Tahap akhir pemakaman Khamenei diwarnai eskalasi baru konflik Iran dan Amerika Serikat

Ratusan ribu pelayat memadati Kota Mashhad untuk mengantar jenazah Ayatollah Ali Khamenei ke peristirahatan terakhir, sementara serangan baru antara Iran dan Amerika Serikat kembali memperburuk situasi keamanan kawasan.

Kerumunan besar memadati jalan-jalan di Mashhad saat prosesi pemakaman Ali Khamenei berlangsung.
Kerumunan besar memadati jalan-jalan di Kota Suci Mashhad saat prosesi pemakaman pemimpin tertinggi Iran yang telah wafat, Ayatollah Ali Khamenei, berlangsung di Mashhad, Iran, 9 Juli 2026. Foto oleh Majid Saeedi/Getty Images

Mashhad, Iran — Tahap akhir pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, mantan pemimpin tertinggi Iran, berlangsung di Kota Mashhad pada Kamis di tengah meningkatnya kembali ketegangan militer antara Iran dan Amerika Serikat. Prosesi penutup ini menjadi puncak rangkaian upacara berkabung selama beberapa hari yang sebelumnya menarik ratusan ribu pelayat di Iran maupun Irak.

Prosesi di kota kelahiran Khamenei dimulai beberapa jam lebih lambat dari jadwal semula. Penundaan itu terjadi ketika situasi keamanan kembali memburuk menyusul saling serang antara Iran dan Amerika Serikat. Pemerintah Iran menyatakan pasukan Amerika menyerang sejumlah jembatan rel kereta api di wilayah timur laut negara itu sehingga mengganggu layanan transportasi penumpang antara Teheran dan Mashhad.

Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen, sementara militer Amerika Serikat belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan tersebut.

Puluhan ribu pelayat memadati jalan-jalan utama Mashhad untuk menyaksikan truk yang membawa peti jenazah Ayatollah Khamenei menuju kompleks Makam Imam Reza, salah satu situs paling suci dalam Islam Syiah, tempat jenazah akan dimakamkan.

Banyak warga telah berada di lokasi sejak sebelum fajar. Jalan-jalan, masjid, dan area sekitar kompleks makam dipenuhi lautan manusia. Sebagian membawa bendera bergambar Khamenei, sementara lainnya mengangkat spanduk besar berisi seruan untuk membalas kematiannya. Penyemprot air dipasang di sepanjang rute prosesi guna membantu mendinginkan kerumunan di tengah suhu udara yang sangat tinggi.

Pemerintah Iran berupaya menjadikan pemakaman ini sebagai simbol persatuan nasional sekaligus bentuk perlawanan terhadap tekanan Amerika Serikat. Ketika iring-iringan kendaraan melintasi jalan utama kota, banyak pelayat menangis dan berusaha mendekati truk pembawa peti jenazah untuk menyentuh sisinya sebagai bentuk penghormatan terakhir.

Media pemerintah Iran, IRIB, melaporkan bahwa prosesi ditunda sekitar delapan jam karena besarnya jumlah pelayat yang menghadiri upacara penghormatan di Kota Najaf dan Karbala, Irak, sehari sebelumnya. Namun panitia penyelenggara tidak menjelaskan secara rinci bagaimana besarnya kerumunan di Irak menyebabkan keterlambatan prosesi di Mashhad.

Sementara itu, ketegangan militer antara Washington dan Teheran kembali meningkat untuk malam kedua berturut-turut. Presiden Donald Trump sehari sebelumnya menyatakan bahwa gencatan senjata yang sempat berlaku menurutnya kini telah “berakhir”, menandai memburuknya hubungan kedua negara.

Otoritas perkeretaapian Iran mengatakan kerusakan jalur kereta akibat serangan memaksa penumpang dialihkan menggunakan bus menuju Mashhad. Sebelumnya, pemerintah memperkirakan lebih dari satu juta orang akan menghadiri hari terakhir prosesi pemakaman.

Sehari sebelumnya, iring-iringan jenazah Khamenei melintasi Kota Najaf dan Karbala di Irak. Ratusan ribu pelayat memadati dua kota suci tersebut untuk memberikan penghormatan terakhir kepada ulama Syiah yang selama puluhan tahun menjadi tokoh paling berpengaruh di Iran dan kawasan Timur Tengah. Irak sendiri merupakan negara dengan populasi Muslim Syiah terbesar kedua di dunia setelah Iran.

Gelombang pelayat mulai berdatangan ke Mashhad sejak Rabu malam. Mereka datang dari berbagai wilayah Iran serta sejumlah negara lain. Hingga larut malam, kawasan di sekitar Makam Imam Reza dipenuhi warga yang mengibarkan bendera Iran, melantunkan doa-doa keagamaan, dan mengenang perjalanan hidup Khamenei.

Di dalam kompleks makam, ribuan peziarah bertahan sepanjang malam. Sebagian membaca ayat-ayat Al-Qur’an, sementara lainnya berdoa secara berkelompok. Banyak keluarga menggelar tikar dan selimut tipis di halaman kompleks maupun trotoar sekitar untuk beristirahat sambil menunggu prosesi dimulai saat matahari terbit.

Ketika pagi menjelang, jumlah pelayat terus bertambah. Imam Reza Boulevard, jalan utama menuju kompleks makam, ditutup bagi seluruh kendaraan dan berubah menjadi lautan manusia. Di tengah suhu yang terus meningkat, banyak orang berlindung di bawah tenda atau memanfaatkan bayangan bangunan. Para relawan membagikan air minum dan teh, sementara layar-layar raksasa menayangkan siaran langsung dari dalam kompleks pemakaman.

Pengamat menilai pemerintah Iran berharap prosesi pemakaman ini menjadi demonstrasi persatuan nasional yang mampu memperkuat dukungan domestik sekaligus mengirim pesan kepada lawan-lawan Iran di luar negeri.

Ali Ansari, profesor sejarah Iran di University of St. Andrews, mengatakan pemerintah ingin memanfaatkan momentum tersebut untuk menunjukkan bahwa negara tetap solid setelah kehilangan pemimpin tertingginya. Namun menurutnya, kembali pecahnya permusuhan dengan Amerika Serikat justru mengganggu narasi tersebut.

“Mereka ingin menampilkan perang itu seolah telah berakhir dengan kemenangan Iran,” katanya.

Dalam keterangannya di sela-sela KTT NATO di Ankara, Turki, Presiden Trump mengatakan pemerintah Iran meminta “jeda sementara” selama rangkaian pemakaman berlangsung. Namun beberapa hari sebelumnya, ketegangan terkait Selat Hormuz kembali meningkat.

Baik Iran maupun Amerika Serikat sebelumnya menyatakan jalur pelayaran strategis tersebut akan kembali dibuka setelah kesepakatan gencatan senjata awal bulan lalu. Namun Iran berupaya menegaskan kendalinya atas selat yang menjadi jalur utama perdagangan energi dunia, sementara Washington mendesak agar kondisi pelayaran kembali seperti sebelum perang.

Pekan ini, Komando Pusat Amerika Serikat menuduh pasukan Iran menyerang kapal-kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz. Sebagai respons, militer Amerika mengaku menyerang hampir 100 sasaran militer Iran.

Kerumunan besar di Mashhad juga memperlihatkan besarnya arti religius sekaligus politik dari wafatnya Ayatollah Khamenei. Selain warga Iran, para peziarah datang dari Irak, Pakistan, India, Senegal, Nigeria, dan sejumlah negara lain yang memiliki komunitas Muslim Syiah besar.

Bagi banyak pelayat, prosesi di Mashhad bukan hanya menjadi upacara pemakaman seorang pemimpin negara, tetapi juga penanda berakhirnya era salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Islam Syiah modern, yang selama hampir empat dekade membentuk arah politik Iran sekaligus memengaruhi dinamika geopolitik Timur Tengah.

Related

Tinggalkan Balasan

Popular