
KYIV, Ukraina — Janji Presiden Donald Trump untuk memberikan lisensi kepada Ukraina agar dapat memproduksi sistem pertahanan udara Patriot memunculkan harapan baru di tengah perang melawan Rusia. Namun, bagi banyak warga Ukraina, pengumuman tersebut masih harus dibuktikan melalui tindakan nyata setelah bertahun-tahun menghadapi perubahan sikap Washington terhadap konflik yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.
Pertemuan Trump dengan Presiden Volodymyr Zelensky di sela-sela KTT NATO di Ankara, Turki, pada Rabu sebelumnya diperkirakan tidak akan menghasilkan terobosan besar. Hubungan kedua pemimpin selama ini kerap diwarnai ketegangan sehingga ekspektasi terhadap hasil pertemuan relatif rendah.
Karena itu, ketika Trump secara mengejutkan mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan memberikan lisensi kepada Ukraina untuk memproduksi sistem Patriot, banyak pihak di Kyiv menyambutnya dengan optimisme yang disertai kehati-hatian.
“Saya juga bisa memberikan janji seperti itu,” kata Yevhen Prusak, 35, pemilik sebuah kafe di Kyiv yang jendelanya masih tertutup papan akibat serangan rudal Rusia.
“Perkataan bukan tindakan. Ketika benar-benar diberikan, baru saya akan mengatakan, ‘Bagus,'” ujarnya.
Sistem pertahanan udara Patriot merupakan satu-satunya sistem yang saat ini dinilai mampu mencegat rudal balistik Rusia yang terus menghantam kota-kota Ukraina. Sistem buatan Amerika Serikat tersebut terdiri atas radar canggih, pusat kendali bergerak, peluncur rudal, dan rudal pencegat yang menjadi komponen paling langka dalam persediaan Ukraina.
Selama berbulan-bulan, pemerintahan Zelensky berulang kali meminta tambahan rudal pencegat Patriot kepada negara-negara Barat karena stok yang tersedia semakin menipis akibat intensitas serangan Rusia.
Media Ukraina, Kyiv Independent, bahkan menyoroti pengumuman Trump dengan tajuk utama yang menyebut bahwa presiden Amerika itu “menyerang sekutu tetapi memberikan kemenangan bagi Ukraina.”
Meski demikian, masyarakat Ukraina tetap memantau perkembangan tersebut dengan hati-hati mengingat hubungan Trump dan Zelensky selama ini tidak selalu berjalan mulus.
Trump pernah mengklaim mampu mengakhiri perang hanya dalam waktu 24 jam. Namun di kesempatan lain ia menyebut Zelensky sebagai “diktator tanpa pemilu”, menuduhnya tidak tahu berterima kasih, bahkan pernah memarahinya secara terbuka di Ruang Oval Gedung Putih.
Sebaliknya, Trump beberapa kali melontarkan pujian kepada Presiden Rusia Vladimir Putin dan bahkan dianggap mengadopsi sebagian tuntutan Moskow dalam berbagai pernyataannya mengenai perang.
Pemerintahan Trump sempat berupaya memediasi perundingan damai antara Rusia dan Ukraina. Namun proses tersebut akhirnya terhenti ketika perhatian Washington beralih kepada konflik dengan Iran. Bulan lalu, Trump bahkan mengatakan Amerika Serikat “tidak ada hubungannya” dengan perang di Ukraina.
Perubahan sikap yang kerap terjadi membuat warga Ukraina semakin terbiasa menghadapi kebijakan luar negeri Washington yang sulit diprediksi.
Di sisi lain, Ukraina juga berusaha mengurangi ketergantungannya kepada Amerika Serikat. Pemerintah mempercepat pembangunan industri pertahanan dalam negeri, meningkatkan produksi drone, serta menjalin kerja sama teknologi dengan sejumlah negara mitra.
Presiden Zelensky dalam beberapa bulan terakhir juga mulai mengambil jarak dari Washington. Ia secara terbuka mengkritik Amerika Serikat karena dinilai terlalu fokus pada konflik Iran, memperlambat pengiriman bantuan militer, serta melonggarkan sebagian sanksi terhadap minyak Rusia.
Namun suasana pertemuan kedua pemimpin di Ankara justru berlangsung relatif santai.
Zelensky tampak tenang ketika Trump berbicara panjang lebar mengenai berbagai isu, termasuk Presiden Putin. Di akhir pertemuan itulah Trump mengumumkan rencana pemberian lisensi produksi Patriot.
“Itu sangat keren, bukan?” kata Trump kepada Zelensky. “Dengan begitu Anda tidak bisa lagi mengeluh bahwa kami tidak memberi cukup.”
Sejumlah analis menilai perubahan nada Trump kemungkinan dipengaruhi oleh keberhasilan Ukraina dalam melancarkan serangan jarak menengah dan jarak jauh terhadap target-target militer Rusia dalam beberapa pekan terakhir.
Direktur Institute of World Policy, Viktor Shlinchak, mengatakan Trump cenderung ingin berada di pihak yang dianggap memiliki peluang menang.
“Kalau saya memahami logika Presiden Trump, dia selalu ingin berada di pihak yang menang. Dan saat ini Ukraina tidak terlihat sedang kalah,” katanya.
Menurut Shlinchak, pengumuman mengenai lisensi Patriot lebih merupakan sinyal politik kepada Kremlin daripada sekadar keputusan teknis.
Apabila benar-benar direalisasikan, lanjutnya, langkah tersebut dapat memaksa Presiden Putin menerima kenyataan bahwa Ukraina tidak lagi menghadapi agresi Rusia sendirian.
Meski demikian, produksi Patriot diperkirakan tidak akan berlangsung dalam waktu dekat.
Sistem pertahanan udara tersebut memiliki teknologi yang sangat rumit dan membutuhkan rantai pasok industri yang kompleks. Pengalaman Jepang maupun Jerman menunjukkan bahwa proses membangun kemampuan produksi dapat memakan waktu bertahun-tahun.
Karena itu, banyak pihak menilai Ukraina tetap membutuhkan bantuan rudal Patriot dalam jangka pendek.
Organisasi nirlaba Razom yang mendukung Ukraina menyebut keputusan tersebut sebagai langkah penting yang berpotensi menyelamatkan banyak nyawa sekaligus memperkuat kepentingan strategis Amerika Serikat.
Penasihat senior Razom, Melinda Haring, mengatakan kemampuan memproduksi Patriot memang akan memberikan perlindungan jangka panjang bagi Ukraina.
Namun, menurutnya, kebutuhan paling mendesak saat ini tetap berupa pasokan rudal pencegat yang tersedia untuk menghadapi serangan Rusia setiap hari.
“Memproduksi Patriot akan menjadi perlindungan bagi Ukraina di masa depan. Tetapi Ukraina juga membutuhkan amunisi untuk malam ini,” katanya.
“Aliran rudal pencegat yang berkelanjutan melalui program bantuan yang sudah ada sangat penting untuk melindungi warga sipil.”
Harapan serupa disampaikan Tetyana Storozhenko, warga Kyiv yang selamat dari serangan rudal balistik Rusia pada 2 Juli.
Serangan tersebut menewaskan lima orang dari satu keluarga yang tinggal di rumah sebelah dan menghancurkan sebagian besar rumahnya di pinggiran timur ibu kota.
Ia mengaku bersyukur masih hidup meski keluarganya masih berjuang menghadapi trauma psikologis akibat serangan itu.
“Tidak ada seorang pun yang benar-benar aman,” katanya.
Menurut Storozhenko, meski pembangunan fasilitas produksi Patriot membutuhkan waktu lama, langkah tersebut tetap menjadi investasi penting bagi masa depan Ukraina.
“Saat ini kami tidak memiliki cukup kemampuan untuk menembak jatuh semua rudal itu. Kami tidak punya cukup pertahanan untuk melindungi diri,” ujarnya.
“Mereka sudah terlalu lama menunda bantuan. Jika suatu hari kami bisa memproduksi sistem pertahanan udara sendiri seperti kami memproduksi drone sekarang, itu akan menjadi hal yang sangat baik.”
Ia menegaskan bahwa Ukraina tidak memiliki pilihan selain terus memperkuat kemampuan pertahanannya sendiri.
“Kami harus mampu mempertahankan diri,” katanya.