
KYIV — Keputusan Presiden Donald Trump memberikan lisensi kepada Ukraina untuk memproduksi sistem pertahanan udara Patriot disambut sebagai terobosan besar bagi Kyiv. Namun pengalaman negara-negara sekutu Amerika Serikat menunjukkan bahwa membangun kemampuan memproduksi rudal Patriot bukanlah proses yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat.
Pengalaman Jerman dan Jepang menjadi contoh nyata bahwa meskipun telah memperoleh persetujuan resmi dari Washington, produksi sistem pertahanan paling canggih buatan Amerika Serikat itu tetap membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum dapat menghasilkan rudal operasional.
Pada 2022, ketika kekhawatiran terhadap kemampuan pertahanan rudal Eropa meningkat akibat invasi Rusia ke Ukraina, pemerintahan Presiden Joe Biden memberikan izin kepada Jerman untuk membangun fasilitas produksi rudal pencegat Patriot.
Namun hingga kini, pabrik tersebut belum menghasilkan satu pun rudal Patriot. Fasilitas yang berlokasi di Schrobenhausen, Jerman selatan, baru diperkirakan mulai berproduksi pada tahun depan.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa memperoleh lisensi hanyalah tahap awal. Proses membangun rantai pasok, mentransfer teknologi, melatih tenaga ahli, serta memenuhi standar manufaktur industri pertahanan Amerika memerlukan waktu yang panjang.
Meski demikian, para pejabat Ukraina tetap optimistis dapat mempercepat proses produksi setelah Trump pada Rabu mengumumkan bahwa Washington akan memenuhi permintaan lama Kyiv untuk memberikan lisensi produksi Patriot.
Jika terlaksana, Ukraina akan menjadi negara ketiga setelah Jerman dan Jepang yang memperoleh hak memproduksi sistem pertahanan udara tersebut.
Namun hingga kini, kedua negara itu pun membutuhkan waktu cukup lama untuk membangun kapasitas produksi yang stabil.
Kanselir Jerman Friedrich Merz bahkan pada Kamis mengakui bahwa negaranya masih bergantung pada persenjataan Amerika Serikat meski tengah mengembangkan industri pertahanan sendiri. Pemerintah Jerman baru saja mencapai kesepakatan untuk membeli rudal jelajah Tomahawk buatan Amerika Serikat.
Profesor politik internasional kontemporer dari Keio University di Tokyo, Satoru Mori, mengatakan lisensi manufaktur bukanlah solusi instan.
“Lisensi produksi bukan jalan pintas. Pembuatan sistem seperti Patriot merupakan pekerjaan rekayasa dirgantara yang sangat kompleks,” katanya.
Jepang memperoleh lisensi produksi Patriot pada 2005 setelah meningkatnya ancaman rudal dan program nuklir Korea Utara. Amerika Serikat memberikan izin tersebut melalui kerja sama dengan Raytheon dan Lockheed Martin untuk memproduksi rudal PAC-3 “hit-to-kill”.
Meski demikian, Pasukan Bela Diri Jepang baru berhasil melakukan uji coba sukses pertama terhadap sistem PAC-3 tiga tahun kemudian.
Saat ini Jepang diperkirakan mampu memproduksi sekitar 30 rudal Patriot setiap tahun.
Pakar Jepang di RAND Corporation, Jeffrey W. Hornung, mengatakan keputusan Washington memberikan lisensi kepada Tokyo merupakan kelanjutan alami dari hubungan pertahanan yang telah terjalin selama bertahun-tahun.
Sementara itu, lisensi bagi Jerman muncul ketika negara-negara Eropa khawatir Rusia suatu hari dapat memperluas serangan rudalnya ke kawasan Eropa Barat.
Setelah memperoleh lisensi, Jerman menandatangani kontrak pada 2024 untuk memasok hingga 1.000 rudal Patriot kepada Spanyol, Belanda, Rumania, dan Jerman sendiri.
Meski produksi belum dimulai, sejumlah analis menilai begitu fasilitas Jerman beroperasi tahun depan, negara itu justru akan mampu memasok rudal ke Ukraina lebih cepat dibandingkan Ukraina yang baru memulai pembangunan industrinya sendiri.
Anggota parlemen Jerman sekaligus pakar persenjataan, Anton Hofreiter, mengatakan negara-negara sekutu harus tetap mengirimkan sistem Patriot kepada Ukraina secepat mungkin hingga Kyiv mampu memproduksinya secara mandiri.
Di sisi lain, Ukraina juga tidak dapat sepenuhnya bergantung kepada bantuan sekutu.
Perang yang berlangsung di Ukraina, ditambah konflik Iran dan Amerika Serikat, telah menguras stok rudal Patriot di berbagai negara sekaligus meningkatkan permintaan global yang melampaui kapasitas produksi saat ini.
Sebagai contoh, Jepang sejak 2023 mulai menjual sebagian rudal Patriot hasil produksinya kembali kepada Amerika Serikat guna membantu menggantikan stok yang dikirim Washington ke Ukraina.
Kemampuan memproduksi Patriot secara mandiri pada akhirnya dinilai akan memperkuat ketahanan pertahanan Ukraina sekaligus mengurangi ketergantungannya terhadap bantuan militer Barat.
Namun membangun industri tersebut bukan pekerjaan sederhana.
Untuk memproduksi satu rudal Patriot, sebuah negara harus memperoleh lisensi dan membangun jaringan dengan sekitar dua lusin pemasok yang memproduksi berbagai komponen penting dalam sistem tersebut.
Jerman memiliki keuntungan karena sebelum memperoleh lisensi produksi, perusahaan yang kini mengoperasikan fasilitas Patriot telah lama menangani pemeliharaan sistem Patriot milik Amerika Serikat. Pengalaman tersebut membuat perusahaan telah memiliki jaringan pemasok, peralatan, serta tenaga teknis yang dibutuhkan.
Situasi Ukraina jauh berbeda.
Kyiv praktis harus membangun seluruh ekosistem industri pertahanannya dari awal di tengah perang yang masih berlangsung dan serangan rudal Rusia yang terus mengancam fasilitas-fasilitas strategis.
Menurut Hornung, kondisi tersebut membuat tantangan Ukraina jauh lebih berat dibandingkan Jepang.
Jepang membangun kemampuan produksi Patriot dalam situasi damai sehingga memiliki waktu untuk menimbun persediaan rudal secara bertahap.
Sebaliknya, Ukraina harus membangun industri pertahanannya sambil terus menghadapi perang berskala penuh.
“Ibarat membangun pesawat ketika pesawat itu sedang terbang,” kata Hornung. “Ukraina tentu ingin bergerak secepat mungkin, tetapi seluruh standar keamanan dan pengamanan teknologi tetap harus dipenuhi.”
Meski jalan menuju produksi massal masih panjang, lisensi dari Amerika Serikat tetap dipandang sebagai langkah strategis yang dapat mengubah kemampuan pertahanan Ukraina dalam jangka panjang. Jika berhasil membangun kapasitas produksinya sendiri, Kyiv tidak hanya akan memiliki pasokan rudal yang lebih stabil untuk mempertahankan wilayahnya dari serangan balistik Rusia, tetapi juga berpotensi menjadi bagian penting dari rantai pasok pertahanan Barat di masa depan.