
Presiden Rusia Vladimir Putin telah memasuki tahun kelima invasi militernya ke Ukraina tanpa berhasil memaksa negara tetangganya menyerah. Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mencoba mengakhiri operasi militernya terhadap Iran hanya beberapa pekan setelah dimulai, tetapi kembali terseret ke dalam konflik ketika ketegangan di Teluk Persia kembali meningkat.
Meskipun kedua perang berlangsung dalam konteks yang berbeda, keduanya memperlihatkan tantangan yang sama bagi dua negara adidaya: bagaimana mengubah keunggulan militer menjadi keberhasilan politik. Baik Moskow maupun Washington belum mencapai tujuan strategis yang mereka tetapkan sejak awal konflik.
Invasi darat Rusia terhadap Ukraina dan kampanye serangan udara Amerika Serikat terhadap Iran memang sulit disejajarkan secara langsung. Putin menganggap perang di Ukraina sebagai upaya mempertahankan kepentingan keamanan Rusia, sementara Trump menilai operasi terhadap Iran diperlukan untuk menghadapi ancaman di Timur Tengah. Namun kedua konflik saling berkaitan dalam dinamika geopolitik global, mulai dari stabilitas pasar energi, keamanan Selat Hormuz, pasokan sistem pertahanan udara, hingga fokus diplomasi Gedung Putih.
Secara lebih luas, kedua perang memperlihatkan keterbatasan penggunaan kekuatan militer dalam mencapai sasaran politik jangka panjang. Konflik yang berkepanjangan juga memengaruhi citra kekuatan Amerika Serikat maupun Rusia sebagai negara yang selama ini berusaha mempertahankan posisi dominan di panggung internasional.
Meski demikian, pendekatan kedua pemimpin sangat berbeda. Putin mempertahankan strategi tekanan militer secara konsisten, sedangkan Trump berkali-kali mengubah pendekatan, bergeser dari ancaman penggunaan kekuatan menjadi upaya negosiasi, lalu kembali meningkatkan tekanan militer ketika pembicaraan mengalami kebuntuan.
Perbedaan itu semakin terlihat setelah serangan Iran terhadap kapal-kapal dagang di Selat Hormuz pekan lalu memicu serangan balasan Amerika Serikat. Bagi kalangan yang mendukung pendekatan militer keras di Washington, insiden tersebut menjadi bukti bahwa Trump menghentikan kampanye militernya terlalu cepat.
Purnawirawan Jenderal Jack Keane, salah satu tokoh yang dikenal dekat dengan Trump, mengatakan Amerika Serikat kehilangan posisi tawar ketika menyetujui gencatan senjata pada April.
“Saya pikir kita kehilangan daya ungkit dengan menghentikan kampanye militer,” kata Keane dalam wawancara dengan Fox News. Menurutnya, negosiasi seharusnya dilakukan ketika operasi militer masih berlangsung sehingga Amerika tetap memiliki tekanan terhadap Iran.
Keane bahkan membandingkan pendekatan itu dengan strategi Putin di Ukraina.
“Itulah semacam buku permainan Putin, bukan?” ujarnya.
Di Rusia, sebagian komentator memandang memorandum kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran sebagai tanda melemahnya pengaruh Washington di panggung internasional. Namun, menurut Tatiana Stanovaya dari Carnegie Russia Eurasia Center, di kalangan elite Kremlin juga muncul pandangan berbeda.
Sebagian pejabat Rusia melihat Trump justru mengambil langkah yang seharusnya dipertimbangkan Putin, yakni membatasi kerugian ketika perang tidak lagi berjalan sesuai rencana.
“Mereka mengebom sebentar lalu menyadarinya,” kata Stanovaya, menggambarkan pandangan sejumlah kontaknya di kalangan elite Rusia. “Pertanyaannya, apakah Putin juga akan menyadarinya?”
Pada tahun lalu, Trump sebenarnya sempat menawarkan jalan keluar bagi Rusia melalui usulan penghentian perang di Ukraina. Gedung Putih menawarkan kemungkinan pelonggaran sanksi dan kerja sama ekonomi apabila Moskow bersedia menyetujui gencatan senjata.
Namun tawaran itu tidak diterima Kremlin.
Putin bersikeras bahwa “akar penyebab” perang harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum Rusia menghentikan operasi militernya. Dalam terminologi Kremlin, tuntutan tersebut mencakup berbagai kepentingan strategis Rusia, termasuk pengakuan atas wilayah yang diduduki serta jaminan bahwa Ukraina tidak akan bergabung dengan NATO.
Dua sumber yang dekat dengan Kremlin mengatakan Putin memandang perang sebagai alat tekanan utama terhadap Ukraina dan Barat. Apabila operasi militer dihentikan tanpa memperoleh konsesi terlebih dahulu, peluang mendapatkan tuntutan politik diyakini akan semakin kecil.
Dari sudut pandang Putin, menurut salah satu sumber tersebut, keputusan Trump memulai perang terhadap Iran merupakan kesalahan. Namun penghentian operasi melalui gencatan senjata juga dianggap bertentangan dengan doktrin Rusia yang menekankan pentingnya mempertahankan tekanan militer hingga lawan memberikan konsesi permanen.
Sebaliknya, sejumlah pendukung garis keras Trump menilai perbandingan tersebut justru menunjukkan bahwa kedua pemimpin sama-sama salah membaca kemampuan masing-masing.
Keane mengatakan kemampuan militer Amerika Serikat terhadap Iran jauh lebih besar dibandingkan kemampuan Rusia untuk menguasai Ukraina melalui kekuatan konvensional.
“Putin, apa pun yang dia lakukan, tidak akan mampu mencapai dominasi seperti itu atas Ukraina,” katanya. “Situasinya sangat berbeda dengan Amerika Serikat yang benar-benar memiliki kemampuan untuk mengakhiri konflik secara militer jika memang menginginkannya.”
Meski demikian, skala pengorbanan Rusia jauh lebih besar dibandingkan Amerika Serikat.
Selama lebih dari empat tahun perang, Rusia kehilangan sumber daya yang sangat besar. Berbagai perkiraan menyebut jumlah tentara Rusia yang tewas mencapai antara 350.000 hingga 450.000 orang, sementara ekonomi negara itu terus menghadapi tekanan akibat sanksi internasional dan meningkatnya belanja militer.
Putin juga mengaitkan keberhasilan perang dengan tujuan-tujuan yang sangat spesifik, termasuk penguasaan penuh wilayah Donbas dan penghentian ekspansi NATO ke timur. Komitmen terhadap sasaran tersebut membuatnya sulit mengubah arah kebijakan meski menghadapi tekanan domestik.
Sebaliknya, posisi Trump terhadap Iran beberapa kali berubah.
Pada Februari, ia berjanji akan “menghancurkan rudal-rudal mereka”. Namun beberapa bulan kemudian ia justru mengatakan bahwa akan “sedikit tidak adil” apabila Iran sama sekali tidak memiliki rudal balistik sementara negara lain memilikinya.
Perubahan sikap itu dinilai memberi Trump ruang politik yang lebih besar untuk mengklaim keberhasilan.
Robert Malley, mantan utusan khusus Amerika Serikat untuk Iran pada pemerintahan Presiden Joe Biden, menilai fleksibilitas tersebut menjadi perbedaan mendasar antara Trump dan Putin.
Dalam sebuah esai bulan lalu, Malley memuji keputusan Trump untuk mengedepankan diplomasi daripada terus memperpanjang perang yang menurutnya tidak akan memaksa Teheran memenuhi seluruh tuntutan Washington.
Menurut Malley, Trump memiliki keleluasaan untuk menyatakan misinya berhasil karena tujuan yang ia sampaikan selama ini terus berubah.
“Jauh lebih sulit, baik secara politik maupun strategis, bagi Putin melakukan hal yang sama,” katanya.
Sebaliknya, Putin selama lebih dari empat tahun tetap menolak mengakhiri perang tanpa memperoleh sebagian besar tuntutan awalnya. Sikap tersebut membawa konsekuensi besar bagi masyarakat Rusia, baik berupa korban jiwa maupun perlambatan ekonomi.
Meski kelelahan akibat perang mulai dirasakan masyarakat Rusia, Putin tetap menunjukkan tekad untuk melanjutkan operasi militer.
Dalam wawancara dengan media pemerintah pada 28 Juni, ia mengatakan Ukraina berusaha memanfaatkan kekurangan personel militer Rusia melalui serangan yang semakin intensif ke wilayah Rusia.
“Menyelamatkan rezim Kyiv bukan bagian dari rencana kami,” kata Putin.
Sementara itu, Trump dalam beberapa hari terakhir kembali menggunakan retorika keras terhadap pemerintah Iran. Ia menyebut rezim Teheran sebagai “sampah”, “jahat”, “gila”, dan memperingatkan bahwa Amerika Serikat siap “menyelesaikan pekerjaan” apabila diperlukan.
Namun sejumlah analis menilai ancaman tersebut belum tentu dipercaya para pemimpin Iran.
Berbeda dengan Putin yang terus berupaya menunjukkan keteguhan, Trump sendiri mengakui bahwa perang berkepanjangan melawan Iran berpotensi membawa dampak ekonomi serius bagi Amerika Serikat.
Bulan lalu ia mengatakan bahwa melanjutkan perang dapat membuat negara itu “mungkin masuk ke dalam resesi.”
Menurut Malley, pengalaman tersebut tampaknya memberi pelajaran penting bagi Trump.
“Untuk sementara setidaknya, ia tampaknya belajar satu hal dari perang ini,” kata Malley. “Yaitu bahwa mengakhiri perang merupakan pilihan yang lebih baik daripada terus melanjutkannya.”
Perbandingan antara pendekatan Putin dan Trump menunjukkan bahwa dalam konflik modern, kemenangan militer tidak selalu menghasilkan kemenangan politik. Rusia tetap terjebak dalam perang yang mahal di Ukraina, sementara Amerika Serikat masih berusaha mencari keseimbangan antara penggunaan kekuatan dan diplomasi terhadap Iran. Bagi kedua pemimpin, tantangan terbesar kini bukan lagi memulai perang, melainkan menemukan jalan keluar yang tidak dianggap sebagai kekalahan.