
ANKARA, Turki — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi pusat perhatian dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Ankara, Turki, pada Selasa, ketika ia menerima sambutan yang jauh lebih megah dibandingkan para pemimpin dunia lainnya. Kehadirannya tidak hanya mengubah dinamika pertemuan aliansi militer Barat tersebut, tetapi juga membawa serangkaian kontroversi yang mempertegas gaya diplomasi personalnya sekaligus memperumit hubungan Washington dengan sejumlah sekutu Eropa.
Begitu pesawat kepresidenan Trump mendarat di Ankara, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah menunggu langsung di landasan untuk menyambutnya. Kehormatan itu tidak diberikan Erdogan kepada lebih dari 30 kepala negara dan pemerintahan lain yang juga menghadiri KTT NATO. Penyambutan tersebut diperkuat dengan iring-iringan puluhan penunggang kuda, dentuman meriam kehormatan, alunan lagu kebangsaan Amerika Serikat “The Star-Spangled Banner”, serta atraksi jet tempur yang melintas rendah sambil meninggalkan jejak asap merah, putih, dan biru di langit Ankara.
Sambutan luar biasa itu menggarisbawahi hubungan pribadi yang semakin erat antara Trump dan Erdogan. Sejak awal, Trump telah menegaskan bahwa salah satu alasan dirinya bersedia menempuh penerbangan sekitar 10 jam menuju Ankara adalah karena pertemuan puncak NATO kali ini diselenggarakan oleh Erdogan, yang berulang kali ia sebut sebagai sahabat dekatnya.
Tak lama setelah tiba, perhatian seluruh peserta KTT praktis beralih kepada Trump. Senator Partai Republik Mike Rounds dari South Dakota menggambarkan dominasi kehadiran Trump dengan mengatakan bahwa presiden “menghabiskan seluruh oksigen di ruangan untuk dirinya sendiri,” sebuah ungkapan yang mencerminkan bagaimana hampir seluruh pembicaraan di sela-sela pertemuan akhirnya berpusat pada sosok pemimpin Amerika Serikat tersebut.
Menurut Rounds, Trump memiliki pengaruh yang jauh melampaui ukuran politik biasa.
“Dia lebih besar daripada kehidupan itu sendiri di sini,” katanya.
Seperti dalam berbagai forum internasional sebelumnya, gaya kepemimpinan Trump yang tidak konvensional kembali menciptakan pertunjukan politik tersendiri. Bahkan sebelum tiba di Ankara, ia telah memancing ketegangan dengan sejumlah pemimpin yang kemudian ditemuinya dalam KTT tersebut.
Pekan lalu, Trump menghubungi Presiden FIFA Gianni Infantino untuk meminta peninjauan kembali kartu merah yang diterima penyerang Amerika Serikat Folarin Balogun pada Piala Dunia. FIFA kemudian menangguhkan hukuman tersebut sehingga Balogun dapat tampil menghadapi Belgia. Keputusan itu memicu kritik keras dari Belgia, UEFA, dan sejumlah federasi sepak bola Eropa yang menilai FIFA telah mencampurkan politik dengan proses disipliner olahraga.
Di luar kontroversi sepak bola, hubungan Trump dengan para pemimpin Eropa juga terus memburuk. Salah satu perselisihan paling menyita perhatian menjelang KTT adalah konflik terbuka dengan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, yang hingga beberapa waktu lalu justru dikenal sebagai salah satu pemimpin Eropa yang paling dekat secara politik dengan Trump.
Perselisihan itu dipicu oleh penolakan Italia untuk terlibat lebih jauh dalam perang melawan Iran yang dipimpin Amerika Serikat. Trump secara terbuka mengkritik sikap Roma, sementara media Italia selama beberapa pekan terakhir menjadikan perseteruan tersebut sebagai berita utama.
Ketegangan mencapai puncaknya ketika Trump mengunggah gambar hasil manipulasi digital yang memperlihatkan Meloni memandang dirinya dengan penuh kekaguman disertai tulisan “Restraining Order Needed”, sebuah unggahan yang memicu reaksi luas di Italia maupun kalangan diplomatik Eropa.
Meski demikian, ketika duduk berdampingan dengan Erdogan dalam pertemuan bilateral di kompleks kepresidenan Turki, Trump berusaha mengecilkan arti konflik tersebut.
“Saya pikir dia orang yang baik,” kata Trump mengenai Meloni. “Saya tidak memberi tekanan besar kepadanya.”

Namun, dalam kesempatan yang sama Trump kembali melontarkan sejumlah pernyataan yang berpotensi memperuncing hubungan dengan sekutu NATO. Ia mengkritik Denmark dan kembali mengingatkan bahwa dirinya masih memiliki ambisi untuk mengambil alih Greenland, wilayah otonom milik Denmark yang sebelumnya pernah menjadi sumber ketegangan diplomatik.
Trump juga mengeluhkan minimnya dukungan Inggris, Prancis, dan Italia terhadap Amerika Serikat dalam konflik melawan Iran. Ia bahkan menyatakan bahwa Eropa dua dekade lalu berada dalam kondisi yang jauh lebih baik dibandingkan saat ini.
Pernyataan-pernyataan tersebut menambah kesan bahwa KTT NATO tahun ini berlangsung dalam suasana yang jauh lebih penuh drama dibandingkan pertemuan-pertemuan sebelumnya. Sejumlah diplomat menggambarkan atmosfer di Ankara lebih menyerupai arena politik yang dipenuhi kontroversi dibandingkan forum yang berfokus pada isu pertahanan bersama.
Bagi para pendukung Trump, gaya komunikasi yang sering memicu kontroversi bukanlah persoalan utama selama mampu menghasilkan kebijakan yang menguntungkan Amerika Serikat. Senator Rounds menolak mengomentari secara rinci unggahan Trump mengenai Meloni, tetapi mengatakan dirinya lebih memilih menilai hasil yang dicapai dibandingkan cara presiden berkomunikasi.
Menurut Rounds, salah satu bukti keberhasilan pendekatan Trump adalah meningkatnya belanja pertahanan negara-negara anggota NATO, sebuah tuntutan yang telah lama disuarakan Washington.
Diskusi mengenai masa depan hubungan trans-Atlantik juga mendominasi berbagai acara sampingan selama KTT berlangsung. Dalam sebuah resepsi yang diselenggarakan Atlantic Council di Ankara Palas, bekas wisma tamu negara yang kini menjadi museum kepresidenan Turki, para diplomat, pejabat pertahanan, pelaku industri persenjataan, serta staf Kedutaan Besar Amerika Serikat berkumpul membahas tantangan yang dihadapi aliansi.
Direktur eksekutif Atlantic Council Jenna Ben-Yehuda mengakui perjalanan menuju KTT kali ini tidak berlangsung mudah. Menurutnya, para sekutu harus menghadapi banyak percakapan yang jujur sekaligus sulit mengenai masa depan NATO.
Di sisi lain, Senator Partai Demokrat Jeanne Shaheen dari New Hampshire berusaha menenangkan kekhawatiran sekutu-sekutu Eropa mengenai arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa meskipun Trump beberapa kali mengancam akan menarik Amerika keluar dari NATO, keputusan tersebut tidak dapat dilakukan secara sepihak karena memerlukan persetujuan Kongres.
Shaheen mengatakan salah satu tujuan kunjungannya ke Ankara adalah mengingatkan para sekutu bahwa komitmen Amerika terhadap NATO tidak hanya ditentukan oleh presiden yang sedang menjabat.
“Bertepatan dengan peringatan 250 tahun Amerika Serikat, ada alasan mengapa para pendiri negara menulis Konstitusi seperti sekarang karena mereka tidak menginginkan seorang raja,” katanya.
“Mereka menginginkan pemerintahan yang dijalankan oleh rakyat. Itulah yang ingin kami ingatkan kepada semua orang di sini.”
Di tengah agenda resmi mengenai peningkatan belanja pertahanan, perang di Ukraina, hingga stabilitas kawasan Timur Tengah, kehadiran Trump kembali membuktikan bahwa setiap langkah dan pernyataannya mampu mengubah arah perhatian dunia. Bagi banyak peserta KTT NATO tahun ini, pembahasan mengenai keamanan kolektif kerap harus berbagi panggung dengan drama politik yang terus mengiringi kepemimpinan presiden Amerika Serikat tersebut.