
GAZA, Palestina — Seorang pekerja bantuan kemanusiaan Palestina yang berperan penting dalam penyaluran bantuan di Jalur Gaza tewas dalam serangan udara Israel, menurut keterangan keluarga dan rekan-rekan korban. Insiden itu kembali menyoroti dampak operasi militer Israel terhadap warga sipil di tengah konflik yang belum sepenuhnya mereda.
Korban, Mohammed al-Waheidi, 65, merupakan anggota Komite Mesir di Gaza, sebuah kelompok bantuan yang membantu mengoordinasikan distribusi bantuan kemanusiaan di wilayah tersebut. Selain memastikan bantuan dapat disalurkan dengan aman, komite itu juga berperan dalam memediasi perselisihan antarkeluarga serta menggelar kegiatan sosial, termasuk acara nonton bersama pertandingan Piala Dunia di berbagai lokasi di Gaza dalam beberapa pekan terakhir.
Menurut Zaher al-Waheidi, sepupu korban yang juga bekerja sebagai ahli statistik di Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas, serangan itu juga menewaskan tiga orang lainnya.
Mereka adalah Hamza al-Deri, 9 tahun, dan adiknya, Fadi al-Deri, 8 tahun, serta Ahmed Doghmosh, 30 tahun.
Militer Israel menyatakan serangan yang dilakukan pada Selasa di Gaza utara menargetkan seorang anggota Hamas. Namun pihak militer tidak mengungkap identitas target maupun memastikan apakah orang tersebut tewas.
Dalam pernyataannya, militer Israel mengatakan pihaknya mengetahui adanya laporan bahwa warga sipil yang tidak terlibat ikut menjadi korban dan menyatakan penyesalan atas jatuhnya korban sipil apabila laporan tersebut benar.
Mohammed Doghmosh, kerabat Ahmed Doghmosh, mengatakan dirinya sedang makan bersama Ahmed di sebuah toko tidak jauh dari lokasi ketika serangan terjadi.
Menurutnya, Ahmed meninggal dunia setelah serpihan ledakan menghantam bagian tubuhnya.
Meski Israel dan Hamas menandatangani kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat pada Oktober tahun lalu, militer Israel masih rutin melancarkan serangan udara di berbagai wilayah Gaza.
Kementerian Kesehatan Gaza menyebut lebih dari 73.000 warga Palestina telah tewas sejak perang dimulai. Data tersebut tidak membedakan antara kombatan dan warga sipil.
Di sisi lain, militer Israel secara berkala menyatakan bahwa sebagian besar serangannya menargetkan anggota Hamas. Namun berdasarkan wawancara dengan pejabat medis di Gaza serta catatan rumah sakit, banyak warga sipil juga menjadi korban dalam operasi militer selama beberapa bulan terakhir.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 1.000 orang telah tewas sejak gencatan senjata diberlakukan pada Oktober, termasuk banyak anak-anak.
Putra korban, Fawaz al-Waheidi, 22, mengatakan ayahnya sedang dalam perjalanan menggunakan mobil menuju rumah seorang temannya untuk menyaksikan pertandingan Piala Dunia antara Argentina dan Mesir ketika serangan terjadi pada Selasa malam.
Belum diketahui secara pasti seberapa dekat posisi Mohammed al-Waheidi dengan target yang disebut militer Israel sebagai anggota Hamas.
Fawaz mengatakan ia pertama kali menerima kabar bahwa seseorang dengan nama keluarga al-Waheidi menjadi korban serangan udara.
Ia segera mencoba menghubungi telepon seluler ayahnya. Namun panggilannya dijawab oleh orang yang tidak dikenalnya.
“Orang itu hanya mengatakan ada seseorang yang terluka,” katanya.
Fawaz kemudian bergegas menuju rumah sakit. Di ruang jenazah, ia mengenali tubuh ayahnya yang berlumuran darah.
“Saya benar-benar terkejut,” katanya. “Beliau adalah orang yang sangat baik.”
Menurut Fawaz, ayahnya selalu mendukung perdamaian dan menolak segala bentuk kekerasan.
Sebelum konflik berkepanjangan melanda Gaza, Mohammed al-Waheidi pernah bekerja di Israel. Ia juga pernah menjadi guru di bawah Otoritas Palestina, pemerintahan yang didukung negara-negara Barat sebelum diusir Hamas dari Gaza pada 2007 dan kini mengelola sebagian wilayah Tepi Barat yang diduduki Israel.
Direktur Jenderal Kantor Media Pemerintah Gaza yang dikelola Hamas, Ismail Thawabteh, menolak memberikan komentar mengenai kematian Mohammed al-Waheidi.
Sementara itu, juru bicara Komite Mesir di Gaza, Mohammed Mansour, mengatakan al-Waheidi bertanggung jawab membangun hubungan dengan para pemimpin masyarakat di berbagai wilayah Gaza.
Menurut Mansour, koordinasi tersebut sangat penting untuk memastikan distribusi bantuan kemanusiaan dapat berlangsung dengan aman di tengah kehancuran akibat perang yang telah berlangsung selama dua tahun.
Perang telah menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza dan memaksa ratusan ribu warga meninggalkan rumah mereka untuk tinggal di tenda-tenda pengungsian.
Meski kehilangan ayahnya, Fawaz menegaskan ia tidak ingin kematian Mohammed al-Waheidi dijadikan alasan untuk memicu kekerasan baru.
“Yang kami butuhkan adalah perdamaian,” katanya.
“Semoga Tuhan mengasihani ayah saya.”