
Meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan kritik keras terhadap sekutu-sekutu Eropa selama KTT NATO di Ankara, Turki, para pemimpin aliansi berhasil menyepakati sebuah deklarasi yang menegaskan kembali komitmen terhadap pertahanan kolektif sekaligus meningkatkan dukungan militer bagi Ukraina. Hasil pertemuan dua hari itu dipandang sebagai sinyal bahwa NATO masih mampu menjaga persatuan di tengah meningkatnya ketegangan politik internal dan perubahan arah kebijakan Washington.
Dalam komunike resmi yang disepakati seluruh negara anggota, termasuk Amerika Serikat, NATO menegaskan kembali “komitmen yang tak tergoyahkan” terhadap Pasal 5 Piagam NATO. Pasal tersebut merupakan fondasi utama aliansi yang menyatakan bahwa serangan terhadap satu negara anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.
Deklarasi itu juga menegaskan kembali pentingnya hubungan trans-Atlantik antara Amerika Utara dan Eropa. Para pemimpin menyatakan bahwa seluruh anggota tetap berdiri bersama dalam menghadapi berbagai ancaman keamanan yang berkembang, sekaligus memastikan bahwa prinsip pertahanan kolektif tetap menjadi inti keberadaan NATO.
Pernyataan bersama tersebut secara eksplisit menyebutkan bahwa seluruh anggota “bersatu dalam dukungan yang tak tergoyahkan terhadap Ukraina dalam mempertahankan kebebasan, kedaulatan, dan integritas wilayahnya.” Selain itu, negara-negara Eropa bersama Kanada berkomitmen menyediakan bantuan militer senilai 70 miliar euro atau sekitar US$80 miliar bagi Ukraina sepanjang tahun ini hingga tahun depan.
Komitmen tersebut menjadi salah satu hasil paling signifikan dari KTT Ankara. Namun, angka itu tidak sepenuhnya merupakan dana baru. Paket tersebut mencakup sekitar 30 miliar euro yang sebelumnya telah dialokasikan Uni Eropa melalui skema pinjaman, serta berbagai komitmen bantuan militer yang telah diumumkan masing-masing negara anggota.
Pada tahun lalu, NATO telah berjanji menyediakan bantuan sebesar 40 miliar euro bagi Ukraina. Melalui deklarasi terbaru, komitmen tersebut diperpanjang hingga dua tahun ke depan sebagai bentuk kesinambungan dukungan terhadap Kyiv di tengah perang yang masih berlangsung melawan Rusia.
Meski demikian, terdapat satu perubahan penting dibandingkan deklarasi-deklarasi NATO sebelumnya. Dokumen terbaru tidak lagi mengulangi komitmen bahwa Ukraina pada akhirnya akan menjadi anggota NATO. Penghilangan frasa tersebut dipandang mencerminkan penolakan Presiden Trump terhadap prospek keanggotaan Kyiv dalam aliansi militer Barat.
Sejak kembali menjabat sebagai presiden, Trump secara terbuka menyatakan bahwa Ukraina seharusnya tidak bergabung dengan NATO. Ia juga berulang kali menilai bahwa negara-negara Eropa harus memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar dalam mendukung pertahanan Ukraina, sementara Amerika Serikat mengurangi keterlibatan langsung.
Selama berlangsungnya KTT di Ankara, Trump kembali mengkritik sejumlah sekutu Eropa terkait kontribusi pertahanan mereka. Pernyataan-pernyataan keras itu sempat memunculkan kekhawatiran mengenai komitmen Washington terhadap NATO, terutama karena Trump dalam beberapa kesempatan sebelumnya mempertanyakan manfaat aliansi tersebut bagi Amerika Serikat.
Kekhawatiran itu semakin menguat setelah pemerintahan Trump memangkas sebagian besar pendanaan Amerika Serikat untuk Ukraina. Gedung Putih berpendapat bahwa perang di Eropa seharusnya menjadi tanggung jawab utama negara-negara Eropa, bukan lagi Washington.
Meski demikian, hasil akhir KTT menunjukkan bahwa kritik Trump tidak menggagalkan proses pengambilan keputusan di dalam NATO. Seluruh anggota tetap mampu mencapai konsensus mengenai arah kebijakan aliansi, termasuk mempertahankan komitmen terhadap Pasal 5 dan memperpanjang bantuan bagi Ukraina.
Deklarasi itu juga mencoba meredakan kecemasan sejumlah negara anggota mengenai komitmen Amerika Serikat terhadap pertahanan Eropa. Dokumen tersebut secara tegas menyatakan bahwa “serangan terhadap satu anggota merupakan serangan terhadap seluruh anggota,” sebuah penegasan yang dimaksudkan untuk menghilangkan keraguan mengenai kesediaan Washington memenuhi kewajiban pertahanan bersama jika terjadi krisis.
Di sisi lain, komunike tersebut mencerminkan perubahan besar dalam pembagian tanggung jawab di dalam NATO. Para pemimpin mengakui bahwa dorongan Trump agar Eropa meningkatkan belanja pertahanan, ditambah keputusan Washington mengalihkan sebagian aset militernya ke kawasan Indo-Pasifik, telah mendorong transformasi aliansi menuju struktur yang lebih berimbang.
Dalam dokumen itu disebutkan bahwa sekutu-sekutu Eropa bersama Kanada, dengan tetap bekerja sama dengan Amerika Serikat, kini mengambil tanggung jawab yang lebih besar dalam menjaga keamanan kawasan Atlantik Utara. Tujuannya adalah membangun “Eropa yang lebih kuat di dalam NATO yang lebih kuat.”
Pernyataan tersebut menandai pergeseran strategis yang telah berlangsung beberapa tahun terakhir. Negara-negara Eropa semakin meningkatkan anggaran pertahanan, memperluas kapasitas industri militer, serta memperkuat koordinasi keamanan regional sebagai respons terhadap perang Rusia di Ukraina sekaligus perubahan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Bagi Ukraina, hasil KTT Ankara memberikan kepastian bahwa dukungan militer Barat belum akan berhenti meski dinamika politik di Washington berubah. Namun, absennya kembali janji keanggotaan NATO menunjukkan bahwa jalan Kyiv menuju aliansi masih menghadapi hambatan politik yang besar, terutama selama pemerintahan Trump mempertahankan sikap keberatannya terhadap perluasan NATO ke Ukraina.